Sesaat berada di biliknya, Lutfi sudah asyik membuka laman web untuk mencari kelengkapan bahan tugas. Saat itulah, ia mendengar sedikit ribut di tempat penjaga warnet yang memang berada di dekat biliknya. Suara penjaga warnet itu jelas sekali ia dengar.
“Tapi bilik penuh, Mbak. Lihat saja sendiri, tidak ada yang kosong,” kata Mas Zaini, penjaga warnet.
“Ya, gimana dong. Tugas saya banyak sekali, Mas.” Suara seorang siswi.
“Ke warnet lain coba,” saran Mas Zaini.
“Warnet sebelah juga pas penuh, Mas.”
“Kalau begitu, tulis saja tugasmu apa. Nanti aku carikan. Besok pagi, bisa kamu ambil,” saran Mas Zaini.
“Ini kan tugas saya, Mas. Bukan tugas Mas.”
“Sama saja. Aku kan cuma bantu mencarikannya di internet. Gurumu juga tidak bakal peduli kamu kerjakan sendiri atau tidak. Sama kayak teman-temanmu, seperti biasa. Tugas tinggal pesan padaku, pasti beres.”
“Maaf, Mas. Saya tidak bisa begitu. Ini tugas saya, dan saya harus kerjakan sendiri.”
“Terserah, yang jelas warnet lagi penuh. Itu, teman-temanmu yang pada main game online, tugasnya juga cuma nitip aku yang cariin.”
Lutfi sejak tadi terusik dengan obrolan seorang siswi dengan Mas Zaini itu. Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Dalam hati ia takjub dengan sikap siswi itu.
“Siapa dia? Kok aku penasaran pengin kenal dia,” batin Lutfi. Ia lalu mengintai dari pintu bilik yang terbuka, dan matanya menangkap badge nama di atas saku baju sekolah siswi itu. Namanya Sovia.
Suara Mas Zaini terdengar lagi, “Kalau mau bersabar, silakan tunggu sampai ada bilik yang kosong.”
“Baiklah, saya akan menunggu saja,” putus Sovia.
“Silakan duduk di kursi itu, semoga ada yang cepat keluar,” kata Mas Zaini.
Lutfi segera mempercepat pekerjaannya. Ia ingin segera memberi kesempatan pada Sovia untuk mengerjakan tugasnya. Entah mengapa, Lutfi merasa keberadaan Sovia membuatnya merasa tidak sendiri lagi. ***
Wakhid Syamsudin, ketua komunitas menulis One Day One Post, tinggal di Sidowayah RT 001 RW 006 Ngreco Weru Sukoharjo Jawa Tengah.