Ramadan Terbaik

“Tadi Tsaqif hampir marah, gara–gara Atsal lari–lari, terus nabrak Tsaqif. Tapi ada Bu Guru yang bantuin. Atsalnya juga sudah minta maaf sih.”

“Terus, dimaafin tidak Atsalnya?”

“Ya, dimafin dong, Ma. Kan Tsaqif sabar.”

“Hebat, itu baru Tsaqif anak Mama.”

“Anak Ayah juga dong.”

Mereka semua tertawa. Kemudian asyik menikmati hidangan berbuka.

“Ayolah, kita selesaikan makannya, biar bisa salat tarawih.”

“Ayo… Tsaqif juga mau tarawihnya penuh.”

“Aamiin…, semangat ya, Tsaqif!”

Mama memotivasi Tsaqif. Hari ini Tsaqif berhasil berpuasa. Masih ada beberapa hari lagi. Ia harus mempersiapkan dengan baik. Agar cita–citanya untuk puasa penuh tercapai.

Arsip Cerpen di Indonesia