Sendiri pada Hari Fitri

Setelah tuntas mengisi perut, dia kembali. Jalan masih ramai. Konon, zaman dahulu, kata penduduk, jalan raya itu hanyalah segaris yang membelah rimba. Sunyi senyap. Malah sesekali hewan hutan lalu-lalang. Lalu jalan melebar. Menjadi makadam. Makin ramai. Lalu kini beraspal. Hirukpikuk.

Berkali-kali dia sempat berpikir beralih profesi. Tapi menjadi apa? Membuka bengkel? Berapa uang? Dia tak mau pusing. Merasa sudah nasibnya. Tanah yang dia tempati pun milik pemerintah. Sewaktuwaktu harus siap tergusur.

Dia tafakur, terus duduk di lantai belahan bambu yang menghampar. Dia hanya menyayangkan, berkali-kali, selama ini saat menambal ban mendengar orang menggerutu. Merutuk. Mengutuk. “Duh, apes! Sial!”

Bahkan ada yang bersumpah serapah. “Gara-gara ban bocor, acaraku jadi tertunda. Gagal.”

Kenapa pengguna jasanya itu sebaiknya tidak bersyukur saja? Kan tidak rusak mesin, misalnya, yang lebih rumit, lebih mahal, lebih lama pula memperbaikinya? Atau lebih ngeri, tak mengalami benturan dengan kendaraan lain. Ya orang ada kalanya tidak tahu diuntung.

Benar, siapa mau saat menempuh perjalanan darat terganggu oleh ban dalam kendaraan bocor? Namun tolong jangan pernah lupa, satu ban dalam sudah berjasa mengantarkan berapa ribu, bahkan puluh ribu, kilometer? Pula untuk tak terhitung tujuan.

Hanya satu doa seorang penambal ban kepada mereka: semoga lancar dan selamat saat mudik dan balik. Besok, dia sendirian berlebaran di pinggir jalan raya. (28)

 

Bandung, Mei 2019

Gandi Sugandi, alumnus Sastra Indonesia Unpad tahun 2000. Mulai 2002 bekerja di Perum Perhutani. Saat ini  sebagai staf  komunikasi perusahaan KPH Bandung Selatan. Juara III lomba cerpen Jendela Sastra 2019 dan masuk 50 besar dari 1.062 peserta lomba cerpen lingkungan 2019 ICLaw-Raya Kultura.

Arsip Cerpen di Indonesia