Pengantin Tujuh Purnama

Sesungguhnya Darhim anak Ki Lurah itu sengaja berbuat mesum dan berharap ketangkap basah agar bisa dinikahkan dengan gadis pujaannya. Karena selama ini hubungannya dengan Lestari selalu ditentang orangtuanya. Alasannya selalu klasik karena Lestari hanyalah anak buruh cangkul di sawah dan kebun. Dan Ki Lurah Barghowi sudah menyiapkan calon istri buat dirinya. Nanik anak blantik kerbau yang sukses dan sekaligus sebagai pedagang daging kerbau yang memasok puluhan penjual soto kerbau dan sate kerbau.

Jadi ada dua alasan kenapa Ki Lurah ingin menghapus hukum adat itu; yang pertama ia tidak ingin anaknya menikah dengan Lestari, yang kedua kalau sampai hukum adat itu dijalankan ia pasti sangat malu sekali. Tak bisa membayangkan pada setiap bulan purnama kedua mempelai itu diarak keliling kampung hingga sampai tujuh kali setiap purnama tiba. Kedua mempelai itu didandani asal-asalan. Pengantin wanita dibedaki tebal tipis dan bibirnya diolesi gincu merah tebal. Yang lelaki wajahnya dicoreng-moreng dengan arang. Di belakang kedua mempelai kedua orangtua harus mengiringinya. Diarak keliling kampung mulai jam 8 malam hingga menjelang tengah malam dengan diiringi tetabuhan gending dan siapa pun boleh ikut mengantar di belakangnya. Nah, cara itulah yang dikatakan Ki Lurah mengandung unsur sadisme. Apalagi seiring berjalannya waktu setiap ada prosesi hukum adat “Pengantin Tujuh Purnama” banyak dikunjungi orang yang berada di luar kampung Rejomulyo.

Satu hari menjelang bulan purnama digelar kembali rapat di Balai Desa. Untuk menentukan dihapus dan tidaknya hukum adat “Pengantin Tujuh Bulan”. Seperti biasa rapat baru dibuka sudah memanas dan penuh debat sengit yang berkepanjangan. Rapat sampai diskros berkali-kali. Karena setiap dibuka kembali selalu menemui jalan buntu. Akhirnya untuk menentukan dihapus dan tidaknya hukum adat disepakati dengan jalan voting.

Dan ketika dihitung ternyata banyak yang setuju hukum adat “Pengantin Tujuh Purnama” dihapus. Modin berkali-kali mengelus dada dan beristighfar. Ketika rapat bubar salah seorang Kamituwo membisiki telinganya, kalau Ki Lurah Barghowi menyogok beberapa peserta rapat dengan uang untuk memuluskan usulannya.

Arsip Cerpen di Indonesia