Lelaki yang Menggenggam Belati

Hari pertama, ia masih berdiri di sini, menggenggam belati. Barangkali, ia sudah siap menghadapi semuanya. Lalu, dilihatnya dengan saksama kota ini. Kerlipan cahaya di mana-mana, malam hari yang menawan, berpendaran. Membawanya rebah ke masa lalu:

“Tangkap! Tangkap orang itu!!!” seru seseorang dalam kerumunan pasar. “Siapa?”

“Orang yang berjaket hitam itu!” “Kenapa?” seru yang lain. “Pencuri!!” Maka berhamburanlah massa dari segala arah, “Pencuri! Kejar!! Tangkap sampai dapat!!!”

Ia masih terengah-engah, napasnya terasa terlalu pendek kali ini. Langkah kakinya semakin jauh, semakin lemah. Sesaat kemudian, ia merasakan sekelebat tangan merogoh jaket. “Kena, lu!!” Ia terjerembap mencium badan jalan. Tak lama, dari segala arah ia mendengar derap langkah, barisan kaki yang mendekat. Bug-bug-bug. Badannya ngilu, perih. Dihujani pukulan dan tendangan. Di sela bunyi pukulan itu, ia masih berusaha menahan dengan tangan. Juga suara, “Bukan, bukan saya!” “Bohong! Mana ada maling yang mengaku! Kalau mengaku, penjara pasti penuh!” Mendarat lagi berpuluh pukulan, berpuluh sepakan kaki, pentungan besi, juga kayu. Gedebag-gedebug. Amis darah. Ia hanya bisa pasrah. Mengucurlah darah kental di wajah yang lebam, membiru. Samar-samar masih terdengar suara, “Sudah, bakar saja! Ya, bakar!” Beberapa orang ada yang sudah mengambil bensin, siap untuk menyiram tubuh lelaki itu.

Untunglah, ada beberapa petugas yang melerai. Terkadang petugas-petugas itu panik juga melihat massa semacam itu. Baginya, petugas itu adalah dewa penyelamat meskipun datangnya begitu terlambat. “Tenang. Tenang, Pak! Kita selesaikan lewat jalur hukum yang berlaku,” salah seorang petugas berkata sekadar meredam aksi. Dan, ia, lelaki itu berdoa, berterima kasih pada Tuhan. Tapi, mengapa ia hanya mengingat Tuhan pada saat kematian telah begitu dekat? Atau mengapa pula ia harus mengingat Tuhan di kala sedang tertimpa malang dan bencana? Tapi tidak pada waktu senang dan bahagia? Meski demikian, ia merasa begitu lega. Samar-samar, petugas itu pun membawanya ke kantor polisi.

“Jadi, kamu pencuri dompet ini?”

“Tidak! Tidak, Pak!!”

“Tapi, buktinya dompet ini ada di tangan kamu? Masih mau mangkir?”

“Sebenarnya, sayalah yang ingin menolong bapak ini waktu dicopet. Tetapi, sialnya, malah saya sendiri yang diteriaki maling,” lelaki itu melafalkan kata dengan terbata-bata. Mulutnya masih gemetar dan menelan darah yang terasa amat asin di pangkal lidahnya. Entah kenapa, meski sehabis interogasi itu para petugas manut-manut. Namun, tetap saja ia yang dituduh mencuri. Begitulah, pengadilan kemudian menetapkan hukuman penjara selama dua tahun.

Arsip Cerpen di Indonesia