Pulang

“Belum, Bu,” jawabku datar.

“Belum apanya?”

“Belum selesai.” Kuakhiri percakapan itu dengan alasan aku harus mempersiapkan kebutuhan lain. Menemui orang-orang yang membantu kami dan aku bertanggung jawab atas pekerjaan mereka.

Itulah hal yang sampai saat ini terngiang di kepalaku. Sebuah tanggung jawab dan sebuah cara menemukan diri serta jawaban atas sebuah harapan. Ibu berharap aku segera menyelesaikan skripsiku. Menyelesaikan karena untuk dikatakan tepat waktu sudah tidak mungkin. Terlebih karena waktu kuliahku sudah molor selama beberapa waktu. Aku tak ingin menyebutkannya karena rasa maluku pada ibu.

Saat bersamamu mengingatkanku pada hal-hal yang pernah kulalui bersama pertanyaan dari ibu. Aku masih belum bisa membahagiakannya karena memang entah apa yang kurasakan dan apa yang kulakukan saat ini tidak berbanding dengan harapan ibu. Bisa dikatakan bahwa aku sekarang memang orang yang durhaka. Mengacuhkan sebuah pengharapan yang begitu besar. Mengacuhkan sebuah mimpi orang lain.

Ingatanku tentang harapan ibu selalu mengusikku. Dan kini segalanya berbalik menimpaku. Harapanku padamu terlampau besar. Aku ingin kau mencintaiku dengan sebenar-benarnya. Itu sama seperti harapan ibu padaku yang begitu tak ternilai. Lekas saja aku menyampaikan apa yang kuinginkan darimu. Itu seperti apa yang diinginkan ibu dan aku harusnya meniyakan apa yang ia minta. Tapi rasa malas dan menyiasati dengan jawaban lain selalu kupertahankan. Nahas memang. Namun aku tak bisa berbuat banyak.

Sama halnya ketika kau menolakku dan selalu menghindar ketika aku menginginkan suatu hal yang kuanggap penting. Kau menolak dengan berbagai alasan. Dan yang paling menyakitkan di antara alasan-alasan yang kau susun adalah alasan mengenai diriku yang tak mampu berbuat serupa mantak kekasihmu yang lalu.

Padahal kita sudah bersama dalam waktu yang tidak bisa dikatakan singkat. Semua sudah berjalan serupa usia pajak kendaraan. Terlampau lama. Namun kau selalu saja punya alasan. Apalagi ketika pertengkaran kecil di antara kita terjadi.

“Cukup. Kau tak akan bisa seperti ia. Kau memang pacarku, tapi tak akan bisa mengantikan ia di hatiku.” Apa yang kau katakan itu semacam busur panah yang menancap pada hewan yang berlari kencang dan tiba-tiba mengelepar karena banyaknya darah yang mengucur. Begitulah yang kurasakan.

Arsip Cerpen di Indonesia