“Sesungguhnya,” kataku dalam hati, “pemerintah kabupaten bukan menyerahkan keputusan pada musyawarah dusun, tapi tidak peduli sama sekali pada dusun ini.”
Ketika kepala dusun yang lama itu muncul kembali, warga jadi khawatir. Bukan khawatir karena kemungkinan anjing besar itu akan muncul lagi, tapi lantaran mengira laki-laki itu akan menuntut lagi jabatannya. Selama beberapa hari mantan kepala dusun itu berkeliling menyambangi warga. Dia disambut dengan kecanggungan, semua orang sepakat dia sekarang tampak jauh lebih muda dan lebih bersih penampilannya. Saat berkunjung ke rumah kepala dusun yang baru, dia disambut gembira. Selama beberapa waktu kemudian, mereka terus menerus bertemu seakan-akan sedang membicarakan suatu rencana serius. Warga senang dengan perkembangan itu dan bersyukur dugaan mereka tidak benar; mantan kepala dusun tidak menuntut lagi jabatannya.
Aku telah mengetahui rencana kedua orang itu; jalan kecil dusun ini akan diperlebar, lampu-lampu akan dipasang dan banyak pengusaha akan mendirikan bangunan. Kedua orang itu juga sedang berusaha menaikkan jabatan mereka, tak tanggung-tanggung mereka ingin jadi pasangan bupati dan wakil bupati.
Kenyataannya, suatu malam, mantan kepala dusun serta kepala dusun yang baru mengumpulkan para warga dan menyampaikan kabar bahwa dusun akan dijadikan danau buatan. Semua warga diminta pindah. Tak perlu khawatir, kata kepala dusun—yang dibenarkan oleh mantan kepala dusun—para warga sudah disediakan tanah di daerah selatan. Warga tentu saja tidak terima. Mereka uring-uringan, mereka tahu tanah selatan itu kering dan susah ditanami, mereka tahu tanah selatan terkenal karena tidak aman dan selain cenderung dibekap kemiskinan juga dipenuhi oleh hantu-hantu. Sebagian besar warga memang sudah miskin, tapi tentu saja mereka tidak mau lebih miskin lagi.
“Pilih mana, masuk penjara atau pindah dari sini. Ini sudah keputusan pemerintah, kita sebagai warga negara yang baik harus menerima. Kami sudah berusaha untuk mencegah, tapi apalah daya kami,” kata kepala dusun di kesempatan berikutnya yang lagi-lagi dibenarkan oleh mantan kepala dusun. Tampak bahwa ia berusaha menunjukkan kemarahannya atas sikap warga yang tambah risau dan tambah uring-uringan. “Sudah kubilang mereka mau jadi bupati dan wakil bupati,” kataku pada diri sendiri.