Dalam Tubuh Mantra Senja

Tak ada sesuatu yang bisa kukatakan untuk menanggapinya lagi. Mungkin karena rasa cemas atau karena tubuhku terlampau lemah untuk kembali berbicara. Hanya ingatanku saja yang kembali pada harihari yang lalu. Kulihat tubuhku di sana, di beberapa senja yang berbeda. Menggapai pembaringan usai membuka pintu dan melemparkan tas entah ke mana setiap kali pulang ke kontrakan sunyi itu. Meringkuk di bawah bayang-bayang penghabisan cahaya jingga yang jatuh di jendela kamar. Tubuh yang lelah. Mengimpikan tidur meski hanya hitungan detik. Kadang-kadang aku sedang tidak lelah, hanya saja ingin melupakan sesuatu. Ada sebuah suara yang selalu muncul dari dalam kepalaku. Berpikir bahwa saat aku tidur aku tidak mendengarnya lagi. Sayangnya dalam tidurku suara itu malah menjelma sosok yang tak kukenal. Sosok yang beberapa kali membuatku terjaga dalam diam, bermandi peluh, terisak, berontak, merasa jijik dan dikepung lingkar rasa takut. Awalnya semua begitu aneh dan menakutkan. Bagaimana mungkin suara itu menjelma sebagai sesuatu yang terlihat dan bisa kusentuh dengan tanganku. Mengajarkanku tarian asing yang tak pernah kulakukan sebelumnya. Aku menggapai sosok itu dengan baik dan menemukannya mengantarku pada kenikmatan tidur yang berbeda. Keanehan dan ketakutan mengabur menjadi keindahan yang selalu membuatku ingin lebih lama di sana. Ia akhirnya menjadi candu yang selalu ingin kutemui setiap senja.

Beberapa saat lalu sebelum lelaki berpakaian serba hitam itu tiba, tubuhku seolah sedang terbakar dari dalam. Aku menenggak air putih bergelas-gelas untuk meredam rasa panas sebab rasa terbakar yang kurasakan. Nyatanya hal itu tidak membantu sama sekali. Rasa panas malah berpindah dari satu titik ke titik yang lain. Tak hanya sampai di situ, di saat yang sama aku merasa jantungku membeku sebab hawa dingin yang datang entah dari mana. Dadaku sesak. Setiap kali dua arus itu kurasakan saling bertubrukan, aku merasa tubuhku akan hancur karena rasa sakit yang luar biasa.

Karena kukira efek demam tinggi, kutenggak beberapa pil paracetamol. Sia-sia saja. Pil itu hanya mengendap dalam dadaku dan menambah rasa sesak. Berkali-kali ibu memintaku tidur tapi aku tak menurutinya. Tak semua rasa sakit bisa hilang dengan tidur. Aku bahkan tidak bisa tidur. Aku sudah mencoba beberapa kali sebelum ibu menyarankannya. Otakku dipenuhi rasa takut saat memejamkan mata. Namun, kuikuti juga sarannya. Kupejamkan mata dengan perasaan tidak menentu sambil menggumam doa-doa.

***

Barangkali yang kulihat bukanlah mimpi melainkan halusinasi. Sebab sesekali aku masih mendengar suara ibu, suara ayah dan suara air mengalir dari keran dapur. Tapi aku merasa sedang berada di tempat lain. Melihat beberapa anak kecil yang mengenakan dress putih melambaikan tangan padaku. Rambut panjang mereka tergerai sampai ke pinggang. Tak jauh dari sana, seorang laki-laki paruh baya yang juga mengenakan jubah putih menatap tajam ke arahku. Ia duduk di bawah sebatang pohon yang tampak seperti pohon kelapa. Belum juga aku bisa bertanya tentang siapa dia, aku malah terbangun dengan rasa sesak yang semakin kuat.

***

Arsip Cerpen di Indonesia