Malam itu, seperti biasa, aku melihat Bapak tenggelam dalam zikir panjangnya, mendengar suara isak tangis dalam doa-doanya. Dan biasanya setelah itu, Bapak akan membuat kopi sambil duduk-duduk di teras rumah. Menikmati sunyi malam sambil memandang ke arah kuburan di seberang jalan, tempat jasad ibu dikubur satu tahun yang lalu.
Apakah Bapak ingin mengubur kenangan tentang Ibu dengan cara keluar dari pekerjaan yang dulu sama-sama dijalaninya? Didorong oleh rasa penasaran dan juga iba, aku bangkit dari tempat tidur, mendekati Bapak dan duduk di kursi sebelahnya. Di teras rumah dini hari itu, kami membicarakan banyak hal. Aku membicarakan pekerjaanku dan Bapak membayangkan pengalaman dari pekerjaan barunya. Kami bercengkerama sampai subuh tiba.
Keesokan harinya, aku mengantar Bapak ke tempat kerjanya yang baru, menunggunya sampai ia berangkat ke Lampung. Tapi, hari itu juga adalah akhir dari segalanya. Menjelang siang, aku mendapatkan kabar bahwa mobil yang dikendarai Bapak mengalami kecelakaan. Sopir diduga mengantuk, demikian kata berita.
Ada nyeri dan rasa bersalah yang begitu menyayat dalam dadaku sepanjang perjalanan kami bersama Pak Ijon menjemput Bapak. Sesampainya di tempat, Bapak tersenyum melihat kedatanganku dan memintaku mendekat lewat isyarat tangannya yang semakin lemah.
“Lastri, tidak ada yang lebih setia menunggu kedatangan kita, selain tujuan dari setiap perjalanan yang kita tempuh. Bersama ibumu adalah tujuan dari seluruh hidupku. Ibumu pasti menantiku dan aku akan segera mengakhiri penantiannya.” Itulah bisik sekaligus pesan Bapak sebelum menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit itu. ❑- g
Kebumen, Juli 2019