“Iya, eh, aku tadi dipanggil Bu Yusmareta. Aku ke ruang guru dulu, ya?“
Marsha pergi begitu saja.
Yap, aku memang tidak mengerti persahabatan Marsha dan Rhizoma. Tapi yang jelas, aku pernah mendengar bahwa setiap persahabatan akan diuji. Minimal sekali seumur hidup. Sekarang, aku bisa merasakan, persahabatan Marsha dan Rhizoma benar-benar diuji.
Baru beberapa menit aku melangkah menuju kelas, Didy, ketua OSIS muncul, lengkap dengan muka wibawanya.
“Kau tahu kenapa pacarmu menang?” katanya tiba-tiba.
Aku menatapnya tidak mengerti.
“Bro, jangan kayak jelangkung. Datang tiba tiba. Bicara tiba tiba.” Dari raut mukanya, aku bisa menyimpulkan bahwa ia tak tertarik dengan ucapanku.
“Pacarmu menang karena plagiat. Plagiat!”
Aku merasakan dadaku berdesir keras. “Apa maksudmu?”
“Pacarmu memplagiat cerpen sahabatnya sendiri. Ini semua karena ulahmu.”
Dan…. aku yakin, Rhizoma menangis di tempat tadi setelah pengumuman lomba menulis cerpen. Aku yakin Marsha tidak salah. Dan… aku yakin, persahabatan mereka benar-benar sedang diuji. Apa Marsha benar benar memplagiat cerpen Rhizoma?
“Ada berkas cerpen hasil lomba cerpen?”
Ia menaikkan sedikit alisnya. Menatapku penasaran.
“Untuk apa ya, Wahai Baginda?”
“Tunjukkan saja. Kan kamu panitianya?”
“Boleh, aku sudah pajang di mading.”
Dengan langkah panjang-panjang, aku berjalan menuju mading. Di sana, sebuah cerpen sang juara dipajang. Sebuah cerpen dengan judul: Aku Ingin Mencintaimu dengan Sederhana.
Aku menahan napas. Aku membaca cerita itu dengan teliti. Aku kenal Marsha. Dia tak akan bisa menulis sejauh ini. Dan kalimat aku ingin mencintaimu dengan sederhana adalah karya puisi Sapardi Djoko Damono. Aku tak yakin Marsha tahu puisi Sapardi Djoko Damono.
***
“Marsha…”
Marsha menyembunyikan wajahnya dariku.
“Kau harus bilang sesuatu padaku untuk menjelaskan semua ini.”