Kejadian itu digambarkan Hamzah dengan bumbu penyedap, sehingga pembaca sangat terkesan dan berempati terhadap para korban. Pujian pun melimpah. Namun pujian tersebut hanya bertahan dua hari. Bantahan muncul justru dari rekan-rekannya sesama wartawan yang juga berkunjung ke sana. Peristiwa itu tidak pernah terjadi ketika mereka di sana. Kejadian itu hanyalah fabrikasi buatan Hamzah. Mereka juga tidak percaya wartawan senior sekaliber Hamzah dapat berbuat seperti itu. Surat kabar tempat Hamzah bekerja merasa dipermalukan oleh wartawannya. Begitu diketahui liputan itu tidak benar, Hamzah pun dipecat dengan tidak hormat. Dan permintaan maaf kepada pembaca muncul keesokan harinya di setengah halaman surat kabar itu.
“Ayah Rohani menulis liputan itu karena ia yakin semua yang ditulisnya itu adalah fakta yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun, termasuk oleh para jurnalis yang bersama dia ke desa kecil tersebut di Korea Selatan itu.”
“Mengapa ia menulis kebohongan seperti itu?” Itun menunggu jawaban ayahnya.
“Ayah juga tidak tahu. Beberapa hari setelah liputan itu beredar luas, ayah bertemu dengan Om Hamzah. Dia bilang ia yakin peristiwa itu pernah terjadi. Dulu, sudah lama sekali, ketika gencatan senjata mulai berlaku dan pertukaran tawanan dimulai. Ia membacanya di sebuah media. Ia lupa nama media itu. Ia juga tidak ingat lagi apakah media itu surat kabar atau majalah. Mungkin itu yang tertanam kukuh dan berakar di dalam ingatannya. Ketika ia menulis liputannya yang mendapat pujian itu, kejadian itu masuk begitu saja tanpa disadarinya.
“Ayah percaya itu?”
“Percaya tidak percaya. Namun ayah ingat ketika seorang temannya bercerita, Om Hamzah tertunduk lama sekali setelah menatap jembatan yang tidak mengenal kata kembali itu. Mungkin ada kaitannya dengan itu. Seingat ayah, kejadian itu memang tidak pernah terjadi. Ayah yang selalu haus akan bacaan ini tidak mungkin melewatkan berita seperti itu. Om Hamzah saja yang mengada-ada atau ia mempercayai imajinasi liar yang menyusup dengan tiba-tiba. Dan ia yakin yang tergambar dalam imajinasi itu adalah benar. Alangkah malangnya Om Hamzah kalau memang itu yang menjadi penyebabnya. Reputasinya ambruk karena melakukan kesalahan fatal yang menghancurkan hidupnya sebagai jurnalis. Ia terlambat untuk menyesal. Sayang sekali.”
Jakarta, 8 Mei-9 Juli 2019.
Sori Siregar, menulis cerpen merupakan terapi untuk memelihara kesehatan dan kebugaran. Karena itu, hingga saat ini ia rajin menulis. Buku terbarunya, Di Tengah Kegelapan Inuvik, diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada Januari 2019.