Katakan Cinta dengan Cerita Cinta (1)

“Sam… selamat ulang tahun, ya, Nak? Semoga Allah senantiasa memudahkan jalanmu, semoga bertambah pintar dan semakin sukses ke depannya.” Ibu mencium keningku.

“Makasih ya, Bu?” kubalas sebuah kecupan di keningnya.

“Nak, Ibu punya sesuatu untukmu.” Ibu memberikan kado yang ukurannya tak terlalu besar.

Di kado tersebut terdapat tiga hadiah. Pertama, novel yang selama ini kuimpikan, kedua sebuah cerpen tulisan Ibu, dan sebuah surat langsung dari goresan tangan indahnya.

“Ibu, ini cerpen tentangku?”

“Iya, Nak. Ibu yakin kamu bisa wujudkan impianmu menjadi penulis.”

“Terima kasih, Ibu. Semoga saja Allah memudahkanku menjadi penulis.”

“Oh iya, Mirna apa kabar?” tanya Ibu.

“Dia sedang sibuk, Bu. Dia lagi urus hal-hal yang akan dipresentasikan selama proses pertemuan duta bahasa nasional.”

“Oalah, dia sudah ucapkan?” tanya Ibu menyelidik.

“Be… be… sudah, maksudnya, Bu.”

“Oh syukurlah, ya wis tetap semangat menulisnya, ya? Kamu pasti bisa, Nak. Bismillah. Keep spirit!

Aku mengangguk tanda setuju.

Aku sangat bangga dengan Ibu, ia telah aktif menjadi penulis sejak remaja, tulisannya melanglang buana ke media-media. Sementara aku? Mengikuti event lomba saja sering gagal.

“Sam… buah cinta yang tiada tara, di usiamu yang semakin dewasa, semoga Allah senantiasa menambah tingkat kesabaranmu dalam menghadapi hidup. Teruslah menulis, namun libatkanlah Allah dalam tulisanmu, karena sesungguhnya Dialah sang Pemberi Ide. Dulu ketika Ibu remaja, Ibu tak menangis meskipun gagal-gagal terus dalam ikut lomba menulis. Kini ketika Ibu melihat kamu yang gagal untuk kesekian kalinya, Ibu malah sedih sekali. Jika Ibu menjadi juri di lomba-lomba yang sering kamu ikuti, mungkin Ibu sudah memberi tanda merah yang begitu banyak. EYD, diksi, alur, bahkan sudut pandang kamu selalu membuat kesalahan. Belajarlah, Nak. Ibu yakin kamu bisa, terus semangat dalam menulis, ya? Salam cinta tiada tara.”

Itu isi surat Ibu. “Ya Allah, mungkin Ibu tak ingin mengoreksi tulisanku. Bertujuan agar aku bisa belajar dengan sendirinya dan insya Allah aku akan bisa memperbaiki tulisan ini agar menjadi kebanggaan Ibu,” kataku dengan suara nyaris tak terdengar.

***

Arsip Cerpen di Indonesia