“Mereka tidak mau jadi istri para dewa. Inginnya mereka punya suami petani. Tubuhnya kuat, sehat, karena setiap hari bekerja di sawah.”
“Ohh, seperti Kakek ya?”
“Betul.”
“Jadi Nenek ini dulunya seorang bidadari?” kejarku.
“Bidadari dari seberang kali, ha..ha..ha..” sahut Kakek yang tiba-tiba memelukku. Nenek tersipu-sipu, tapi ia langsung masuk ke dalam rumah.
Hmm. Bermalam-malam cerita Nenek mengiang-ngiang di telinga. Lalu dengan bangga kuceritakan kepada teman-teman apa yang kudengar dari Nenek. Teman-teman percaya. Mereka lalu menceritakan kepada orangtua dan saudaranya.
“Bagaimana kalau kita tangkap beberapa ekor kunang-kunang lalu kita masukkan botol?” usul Saim waktu itu.
“Untuk apa?” tanyaku dan beberapa teman lain.
“Supaya kita bisa melihat airmata bidadari!” jawab Saim.
Malam itu kami berlima dengan mudah menangkap puluhan kunang-kunang, langsung kami masukkan ke dalam botol. Siang hari sepulang sekolah kami ingin melihat kunang-kunang itu berubah wujud menjadi airmata bidadari. Gagal. Ternyata kunang-kunang itu pada mati!
“Aku ingin menangkap kunangkunang tadi, Pak!” teriak Nuri membuyarkan lamunanku.
“Jangan. Tidak boleh!” jawabku.
“Kenapa?”
“Mungkin di daerah kita tinggal seekor kunang-kunang yang hidup. Lainnya pada mati karena racun yang ditebar tiap hari di sawah!”
Nuri melongo. Aku menghela napas.
Jakal, Juli 2019