Dua jam kemudian, setelah film usai, aku mengantar Lina pulang ke rumahnya tanpa kembali mengaktifkan HP terlebih dahulu. Motor matik kesayanganku melaju membelah malam menuju rumah Lina kekasihku.
Entah kenapa di sepanjang jalan, penyesalan, perasaan tidak enak tiba-tiba datang menyusup.
Memoriku terlempar saat aku masih kecil. Aku kecil, sering diajak Wak Tayo pergi ke ladang mencari kupu-kupu dan kumbang, aku kecil juga selalu menunggu Wak Tayo pulang membawa telur bebek pemberian Bu Haji yang biasa menyuruh Wak Tayo bersih-bersih taman atau mengasah pisau-pisau Bu Haji yang kebetulan punya kios daging di Pasar Trayeman. Aku juga ingat ketika kecil, Uwak Tayo selalu melindungi jika ada teman-temanku yang nakal meledekku tidak punya bapak.
Karena rasa sesal dan perasaan tak enak itu, begitu Lina sampai di rumahnya, aku menambah laju kecepatan motor matik kesayanganku.
Ketika perasaan tak enak itu tak kunjung hilang, sepanjang jalan aku berzikir menyebut nama Allah, berharap perasaanku tenang kembali. Aku bukan laki-laki cengeng. Tapi entah mengapa malam itu air mataku menetes.
Sampai rumah, aku terkejut demi mendapati rumah sederhana kami sudah ramai. Banyak tetangga berkumpul. Samar-samar aku mendengar lantunan ayat suci. Dengan buru-buru, aku memarkir motor dan segera menghambur ke dalam rumah. Kepalaku mendadak berat, tubuhku mendadak seringan kapas di hadapan tubuh kaku Wak Tayo yang sudah ditutupi kain jarik milik ibu. Mataku berkunang-kunang sebelum akhirnya tubuhku ambruk tak sadarkan diri.
Sutono Adiwerna adalah penulis cerma dan cernak tinggal di Tegal. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di Minggu Pagi, Cempaka, Radar, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka dan lain-lain. Selain penulis, Sutono juga guru eskul kepenulisan dan pegiat literasi.