Gir

Ya, terus terang aku belum sanggup menemukan jawaban, mencapai, menggapai, apalagi menapaki dari segala takdir majenunmu itu karena terus diserobot gambaran-gambaranmu bagaikan layar film sejak puluhan tahun lalu. Main teater bersama, kau menjadi dalang dan aku wayangnya, membaca cerita, bertukar pandangan, berbagi rezeki, semeja makan bersama, aku berutang padamu dan kau berutang padaku, juga kerap memanggul tumpukan buku-buku sampai punggung kita sama-sama seperti batu.

Seandainya engkau masih hidup, akan kubisikkan sesuatu padamu: bahwa ternyata aku masih takut pada hantu, mungkin juga seperti katamu, karena aku belum benar-benar menjadi hantu atau Tuhan—sebagaimana pepatah lama; manusia berpikir Tuhan tertawa.

Begitulah ketika kian banyak gambaranmu yang berhumbalang datang, makin tak kumengerti; bolehkah mengirim doa buatmu sambil memuja gelak tawa serupa mahkotamu itu?

Sepeninggalmu, jikapun pada hari ini dan kelak di waktu kemudian, kusaksikan begitu banyak mereka yang terbahak, maka tak kusangsikan lagi di antaranya pastilah anak-anakmu. Aku bersaksi. (*)

 

Ngimbang, 20 Juli 2019

 

Untuk Mendiang Rakhmat Giryadi

 

S Jai lahir di Kediri pada 4 Februari 1973. Novel terbarunya berjudul NGRONG (2019). Penerima anugerah penghargaan seni dari gubernur Jawa Timur pada 2015. Kini tinggal di Dusun Tanjungwetan, Kecamatan Ngimbang, Lamongan.

Arsip Cerpen di Indonesia