Percakapan di Warung Kopi

“Jangan mengada-ngada kamu, Yan,” celetuk Pak Siraj yang langsung tidak percaya dengan apa yang dikatakan Yanuar. Begitupun Mang Udin dan Kang Parman yang masih memperhatikan mimik wajah Yanuar di bawah remang lampu warung.

“Kenapa saya harus berbohong tentang hal ini, Kang. Apa untungnya coba, buat saya?” sangkal Yanuar memantapkan apa yang baru saja dia lihat dengan mata kepalanya di samping kebun Mang Fadil. Yanuar kembali meneguk sisa kopi yang masih panas itu.

“Kali saja kamu ingin bikin geger seisi kampung kita yang selama ini tentrem ayem, Yan,” tukas Mang Udin sembari menyuguhkan cangkir kopi kedua yang dipesan Yanuar.

“Berani sumpah saya tidak bohong, Mang. Mata saya jelas sekali melihatnya.” Yanuar tampak bergidik mengingat apa yang baru saja dilihatnya.

Dari luar warung, udara kian dingin menggigit. Bulan sabit menggantung jernih di langit. Lengkungnya nyaris bagai alis perawan. Orang-orang dalam warung seperti tidak ingin beranjak dari tempat duduknya. Percakapan demi percakapan deras bergulir. Seperti riuhan kecil timbul tenggelam terdengar dari sudutsudut kampung. Warung kopi milik Mang Udin seperti biasanya akan tutup hingga dini hari. Saat orang-orang di warungnya pulang, Mang Udin masih harus merapikan kursi warung, mencuci piring, dan cangkir-cangkir yang sudah terpakai. Tapi kali ini Mang Udin masih kepikiran dengan kejadian yang diceritakan Yanuar di warungnya.

***

Tidak perlu menunggu waktu lama desasdesus tentang apa yang dialami Yanuar telah menyebar dari bibir ke bibir. Seisi kampung dibuat geger dengan cerita di warung kopi malam itu. Pasalnya bukan hanya Yanuar yang melihat dua carik kain putih beterbangan di langit desa. Ada satu dua orang yang juga sama melihat kejadian malam itu. Desas-desus itu kini menjadi buah bibir yang ditunggu-tunggu beritanya oleh ibu-ibu di tukang sayur, ojek pengkolan, dan pastinya di warung Mang Udin, tempat pertama kali cerita itu menyebar.

Namun demikian, hal ini malah menjadi berkah tersendiri. Khususnya buat warung Mang Udin. Cerita kain putih terbang itu tidak kalah menariknya dengan perbincangan batu akik. Bahkan, ada sebagian orang mengatakan bahwa itu sebuah tetirah atau pertanda desa itu sedang dalam masalah besar. Mungkin butuh orang pintar untuk mengusir teror kain terbang.

Beberapa penduduk ada yang mengusulkan harus lekas diadakan ruwatan desa dengan kembang tujuh rupa-jajan pasar lengkap, mengumpulkan air sumber dari ujung-ujung kampung, dan persyaratan-persyaratan aneh lainnya.

Arsip Cerpen di Indonesia