Di negeri ini, di ranah kelahiran serumpun nabi, sudah berpuluh tahun seruan-seruan penguasa Israel bergaung bersama ayat-ayat suci yang terus mendaku, namun tak kunjung genah dengan Tuhan. Yang terus menjunjung, namun tak kunjung berdamai dengan “Tanah Yang Dijanjikan.” Yang terus mengumandang kan, “Kamilah cahaya di antara bangsa-bangsa”, namun tak kunjung membukti kannya di hadapan tolok ukurnya yang sejati: Rakyat Palestina.
Sekilas, di tengah desis buldoser, Rachel menangkap betapa kontras yang dia alami detik-detik itu dengan kehidupan keluarganya yang bahagia ceria di Olympia.
Pernahkah Iman dan Nidal mereguk air sumur atau telaga di mana saja mereka suka. Atau bebas berlomba dan bergulingan di padang-padang. Atau, bersama teman sekanak belajar berselancar menunggangi lidah-lidah gelombang di lepas pantai?
Tahukah mereka bahwa tak ada negeri lain di dunia yang warganya terus diintai berderet-deret menara bercorong senjatasenjata api. Yang selalu tega dan piawai membantai?
Terbetikkah dalam angan mereka dibawa ayah-ibu ke tempat-tempat indah di tanah sendiri. Tanpa diusir atau dicekal oleh tentara pendudukan di pos-pos militer?
Adakah malam di mana ayah-ibu Iman dan Nidal bisa tidur nyenyak. Tanpa cemas pintu atau jendela rumah mereka mendadak didobrak untuk disulut api. Atau diwanti lima menit tengah malam sebelum dibom luluh lantak serata bumi?
Duh Gusti, berapa puluh ribukah anakanak Palestina yang tak punya gairah hidup dan lumpuh bercita-cita?
Rachel mempertanyakan itu semua. Dia tertegun. Dan buldoser itu terus mendekat. Kedua serdadu di dalamnya seperti sengaja tak peduli pada Rachel. Benak mereka seperti buncah oleh tempik sorak gagah itu.
“Tel Shiloh! Eretz Yisrael! Tel Shiloh! Eretz Yisrael!”
“Selamat tinggal abadi holokos!”
“Hiduplah cahaya di antara bangsa-bangsa!”
Kedua serdadu ini mungkin meyakini keterpilihan bangsa Israel. Pemuja Perang 1948 dan Perang 1967. Mungkin mereka diajari betapa bajik segenap lelakon pembentukan negaranya. Mungkin Menachem Begin, Yitzhak Shamir, dan Ariel Sharon bagi mereka adalah tiga pahlawan-negarawan luhur. Tak ada brigade Irgun dan Haganah. Tak ada “Deir Yassin” dan “Sabra-Shatila”!
Kini, buldozer itu tinggal lima meter di depan Rachel.