Kisah Pengejar Cahaya

“Saya tak tahu mau bagaimana lagi setelah ini hari. Saya wajib menggantikan tettaku—bapak—sebagai kepala rumah tangga, karena saya tak sanggup melihat ibu kerja. Meski ibu maunya saya kuliah.” keluh Udin, satu-satunya anak lelaki Daeng Todjeng. Kelanjutan perjalanan ke masa depan keluarga ini, bagai perahu oleng diterpa badai kehidupan, akibat kehilangan gantungan hidupnya.

“Mari, sama-sama kita berdoa agar Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan tempat terbaik bagi Daeng Todjeng, dan bagi mereka yang sama-sama telah memperjuangkan tegaknya demokrasi yang jujur, adil, tanpa kecurangan di negeri kita Indonesia. Aamiin.” Pungkas tetua pemimpin prosesi, yang sekaligus membuyarkan tualang pertanyaan di benak Udin.

Allahummaghfirlahu,

Warhamhu,

Wa’aahi, Wa’fu’anhu.

Aamiin.

***

Usai menghadiri taqziah di rumah keluarga almarhum, aku menemukan pemandangan luar biasa di teras depan rumahku.

Sekumpulan laron, ramai beterbangan, berkitaran di sekeliling obor setara-terang bola lampu 15 watt. Sayap-sayap tipisnya gemerlap diterpa cahaya, berpendar-pendar laksana helai tirai berkilau, tercermin di waskom di bawah obor. Hamparan pemandangan menakjubkan di antara semesta nan gelap, pekat. Penuh pesona. Suasana yang membuat aku larut hingga serasa di negeri dongeng. Aku ikut mengapung terbang berkeliling di seputaran cahaya bersama laron-laron itu.

Beberapa saat kemudian, kusaksikan satu-satu laron terjun ke dalam waskom berisikan air yang dibuatnya berkecipak ringan dalam riak-riak kecil, yang memantulkan pendar cahaya. Selanjutnya sang laron mengapung meregang nyawa. Seolah pasukan kamikaze-bunuh diri massal.

Tapi untuk apa?

Menyaksikan pemandangan fantastis itu, aku jadi teringat akan bacaan kisah lama. Di antaranya, satu kisah Syech Faridudin Attar tentang Laron.

Nun.

Suatu malam, sekelompok laron berkumpul. Mereka mendiskusikan cerita tentang hasrat, ingin bergabung dengan cahaya sebatang lilin.

Arsip Cerpen di Indonesia