Tiga Perempuan Senja

Dilla masih duduk di kelas dua SMP ketika orangtuanya meninggalkan mereka. Dan sekarang Dilla sudah lulus D-3, bekerja disebuah perusahaan kecil. Penghasilannya lumayan bisa membantu kakaknya mencari penghasilan untuk kehidupannya, setidaknya untuk kehidupannya sendiri. Sedang Nince tidak bisa diharapkan, karena mengalami gangguan jiwa sejak orangtua mereka tidak ada. Mereka bertiga perempuan yang tinggal disatu rumah peninggalan orangtuanya dan belum ada tanda-tanda untuk saling meninggalkan satu dengan lainnya, apalagi dengan Nince.

Suatu ketika ada seorang lelaki melamar Mika, tapi dia menolak dengan alasan tidak bisa meninggalkan adiknya yang sakit. Begitu juga Dilla, dia tidak bisa begitu saja membiarkan kakaknya menunggu adiknya yang sakit seorang diri. Tapi, Mika menyuruhnya menerima lamaran Anwar, tetangga desa yang menginginkan Dilla menjadi pendampingnya. Meskipun lelaki itu belum memiliki pekerjaan yang mapan, Mika menyuruh Dilla menerima tawaran itu, agar ada seorang lelaki yang tinggal bersama mereka. Namun, perkawinan  mereka tidak berlangsung lama. Lima tahun kemudian mereka berpisah dan kembalilah mereka bertiga hidup tanpa ada yang memiliki pasangan.

Kini usia Mika dan Dilla tidak bisa dibilang muda lagi sebagai perempuan. Mereka pun menerima keadaan yang menimpa dirinya. Yang menjadi pikiran Mika hanya satu, Nince. Bagaimana adiknya nanti, seandainya dirinya tak ada lagi dalam kehidupan ini. Siapa yang menolongnya.

Setiap hari yang dilakukan Mika dan Dilla hanyalah kerja dan segera pulang saat senja menjelang. Nince sendiri di rumah, ia duduk di kursi dekat jendela di bawah pohon jambu air yang sudah mulai lebat buahnya, menunggu pemetik pasti.❑- o

 

Yogyakarta, 2018

Arsip Cerpen di Indonesia