“Sini, Pak. Kita foto dulu.” Burhanuddin melambaikan tangan, mengajak pegawai rumah sakit yang menerima hibah alat perlindungan diri untuk mendekat.
Beberapa jepretan. Sejumlah pose diabadikan. Berbeda dari pegawai rumah sakit yang memakai masker, Burhanuddin tidak menggunakan penutup apa-apa. “Nanti wajahku tidak kelihatan! Orang-orang tidak bakal tahu kalau begitu!” gumam dia.
“Terima kasih, Pak Burhan. Cuma Anda satu-satunya anggota dewan yang keliling dari rumah sakit ke rumah sakit membagikan alat perlindungan diri. Sekali lagi, terima kasih,” ucap Direktur Rumah Sakit.
“Ah, tidak, Pak. Yang saya berikan ini cuma sedikit. Tidak ada apa-apanya. Tapi saya berharap, yang sedikit ini bermanfaat,” ujar Burhanuddin, merendah dengan maksud meninggi.
Baca juga: Merampas Kewanitaan – Cerpen Joss Wibisono (Suara Merdeka, 26 Januari 2020)
Senyum lebar mengembang di wajahnya. Dalam benaknya terbayang reaksi orang-orang, terutama warganet, sewaktu asisten pribadi membagi-bagikan foto-fotonya di media sosial.
“Tentu aku banjir pujian! Ini memudahkan aku pada pencalonan anggota dewan berikutnya!” harap Burhanuddin, dalam hati.
***
Badan laki-laki berperawakan kurus itu bergetar. Kedua matanya longsor. Pelan, pelan, sekali seperti ada yang menusukkan sebilah pisau berkarat ke ulu hatinya.
“Halo, halo, Pak?” panggil satu suara di ujung telepon.
Laki-laki itu berdehem, membersihkan tenggorokan. “Ya, siapkan segala sesuatunya. Saya segera pulang,” ujarnya parau.
Sang istri yang berwajah nyaris persegi menatap suami dengan pandang nelangsa. Dia tidak bisa membayangkan betapa kehancuran melumat suami di tengah wabah seperti ini, ketika ibu terkasih dipanggil pulang oleh Gusti Allah.
***
Alis Nadia berkerinyut, menelusuri berita daring satu per satu. “Yang mana ya?” gumam si perempuan berkacamata itu.
Baca juga: Perempuan Tembakau – Cerpen Istifari (Suara Merdeka, 19 Januari 2020)
Jenazah ditolak warga? Perawat diusir tetangga dan ibu kos? Bondongan pemudik dari daerah merah? Harga-harga aneka rimpang yang meroket?
Nadia menimbang-nimbang sambil sesekali menyeruput teh hangat bikinan suami. Dia harus bergegas!
Kemarin pagi, seorang redaktur majalah wanita menelepon, “Nadia, kami tunggu cerpenmu tentang wabah ini. Deadline-nya sepekan ya. Soal honor, nanti kita diskusikan.”
Sementara, baru saja, seorang redaktur koran mengirimi pesan, “Apa pendapatmu soal kejadian belakangan hari? Biasanya kamu punya pandangan unik. Tulis ya jadi esai. Kami tunggu segera.”
***
Aku terbatuk-batuk. Daunku bergoyang-goyang. Ah, tajam sekali cairan ini. Cairan apa sesungguhnya? Apa campurannya? Tubuhku serasa terbakar. Kutatap laki-laki dengan seluruh tubuh terbungkus plastik itu. Dia menyemprotkan cairan entah, seolah tak peduli. Bayangkan! Seminggu ini sudah empat kali dia menyemburkan cairan dari tabung yang digendong.
Baca juga: Sebelum dan Sesudah Terompet Ditiup – Cerpen Aji Saputra (Suara Merdeka, 12 Januari 2020)
Tubuhku menggeliat. Memutar pandangan. Mana tuanku? Sudah lama sekali dia tidak mengguyuriku dengan air segar. Aku jarang sekali melihat dia. Dia keluar rumah hanya sesekali dengan langkah tergesa seakan dikejar setan. Boro-boro memandangku!
***
Perempuan bermata sempit memanjang itu menatap tokonya yang lengang. Sudah hampir sore, tidak ada pembeli bertandang. Tentu gara-gara itu penyebabnya. Pikiran perempuan berkulit kuning itu melompat ke kejadian berhari lalu: ada pesan berantai lewat Whatsapp, mengabarkan anak pemilik Toko Dadi Mulya baru pulang dari Tiongkok dan segera masuk rumah sakit karena sesak napas disertai diare.
Dia yakin, pesan itu dibuat toko-toko pesaing. Mereka ingin pelanggan setianya berpindah ke toko mereka.
Dia sudah meralat kabar hoaks itu. Membantah, tidak ada anggota keluarga Toko Dadi Mulya yaang bepergian ke Tiongkok dan tidak ada yang masuk rumah sakit. Lacur! Kabar bohong telanjur menyebar, merembet ke mana-mana, seperti virus sialan itu!
***
Steven menatap pantulan badannya yang telanjang dada di cermin. Menekan-nekan beberapa bagian tubuh. Beberapa otot mengempis. Tentu saja dia kecewa! Gumpalan dan gurat otot yang sudah terbangun susah payah!
Baca juga: Kematian Dulahmat dan Suara Kucing Hitam – Cerpen Khairul Fatah (Suara Merdeka, 05 Januari 2020)
Namun apa yang bisa dia perbuat? Gym tempat dia biasa berlatih menempa tubuh, tutup sampai waktu tak tentu. Sebetulnya bukan tidak mungkin dia berlatih di rumah dengan alat sekadarnya. Namun berlatih seorang diri, tanpa teman-teman, rasanya hampa. Tidak ada semangat. Tidak ada kompetisi.
Tiba-tiba istri Steven yang sedang mengandung memanggil, “Bang, sini, Bang! Temani aku makan kue.”
***
Karyo menyedot rokok yang tinggal separuh. Lalu melemparkannya begitu saja.
“Terima kasih ya, Pak,” ujar Vina tersenyum lebar. Mulutnya berdesis-desis merasakan pedas sambal mi ayam. Tangannya mengulurkan selembar uang berwarna biru.
Karyo mengangguk. “Nggak nambah, Mbak? Saya beri diskon deh.”
Vina menggeleng. “Kenyang. Uang kembaliannya buat Pak Karyo saja.”
Karyo tersenyum sumir, berterima kasih. Dalam hati bertanya-tanya, “Kalau besok masih seperti ini, bagaimana?” (28)