Yang membuat semua orang di lingkungan itu geleng-geleng kepala justru peristiwa dua bulan sesudahnya. Sutriman memanggil pulang dua putranya untuk menyampaikan wasiatnya. Isi wasiat itu menegaskan dia membagi tiga harta kekayaannya. Untuk kedua anaknya masing-masing satu bagian dan sepertiganya akan disumbangkan kepada sebuah pesantren. Kedua anaknya langsung panik. Tetapi, bukan masalah warisan yang membuat mereka berontak. Mereka telah memiliki kehidupan yang mapan. Lagi pula, mereka sudah sangat paham pola pikiran bapak mereka itu; paham betul kehidupan hari tua bagaimana yang diinginkan bapak mereka. Yang membuat mereka berkeberatan adalah syarat yang akan diajukan bapak mereka kepada pihak pesantren, yaitu diizinkan tinggal di pesantren itu. Artinya, tidak seorang pun di antara mereka yang dipilih untuk merawatnya sampai habis sisa umurnya. Sutriman berkukuh dan menghibur kedua putranya dengan mengatakan bahwa kelak mereka bisa menjenguknya kapan saja ke pesantren.
***
Pengurus pesantren tercengang melihat besarnya angka nominal uang yang disumbangkan Sutriman. Tetapi, lebih tercengang lagi ketika mendengar dua permintaan Sutriman: merahasiakan identitas dirinya sebagai penyumbang dan diizinkan menempati salah satu kamar kecil saja di pemondokan pesantren. Melihat ketetapan hati Sutriman, sang pengurus pesantren mau tidak mau menyetujui dua permintaan itu. Dengan penuh rasa hormat, dia menawarkan sebuah kamar yang terbilang besar dengan fasilitas yang lumayan lengkap serta sebuah posisi di kepengurusan yayasan pesantren itu. Tetapi, tawaran itu dengan halus ditolak oleh Sutriman. Dia hanya menginginkan kamar kecil yang cukup untuk tidur saja. “Berilah saya kesempatan menghabiskan sisa usia di sebuah kamar kecil saja, Pak. Ya, sambil nanti membantu-bantu tukang kebun merawat tanaman.”
***
“Suwun, Kiai,” sela seorang santri yang terbilang senior dan telah mulai diberi kepercayaan mengajar santri-santri tingkat tsanawiyah. “Kiai selalu mengajari kami menghargai logika. Kiai selalu menekankan aspek kausalitas dalam mencerna dan menyikapi suatu atau serangkaian gejala atau fenomena meski tetap berpegang teguh pada keimanan terhadap kebenaran absolut Allah. Sehubungan dengan cerita ini, sekali lagi nuwun sewu, Kiai, apa yang membuat Pak Sutriman berubah dan sampai kepada keputusan-keputusan dramatis seperti itu? Mohon penjelasannya, Kiai.”
Baca juga: Jatuhnya Seorang Astronaut – Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 28-29 Maret 2020)
Kiai Sadri menatap teduh santri itu. Lalu bergumam, “Hmmm… itu pertanyaan bagus, Lek. Tapi… ya ndak perlu terlalu serius begitu. Ini kan hanya sebuah cerita,” ujar sang Kiai. Sebelum melanjutkan cerita, kiai yang terbilang sepuh di lingkungan pesantren itu membenahi letak kacamata Mahatma Gandhi-nya. “Begini….”
Ketika melaksanakan thawaf, sebagaimana jemaah haji lainnya, Sutriman berjuang keras dengan mengerahkan segala kepasrahan dan kekuatan fisiknya untuk bisa mencium Hajar Aswad. Dalam keadaan terombang-ambing di antara pusaran manusia, Sutriman berhasil mendekati dan memegang bingkai batu itu. Namun, ketika batu itu hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari bibirnya, tiba-tiba, “plak”, ada tamparan keras menghantam pelipisnya. Sutriman terpental dan terdorong keluar dari putaran thawaf. Tentu saja Sutriman belingsatan mencari-cari orang yang menamparnya. Dia ingin sekali balas menampar orang yang telah berlaku kurang ajar itu. Tetapi, dilihatnya semua orang tampak khusyuk, tenggelam dalam suasana ibadah mereka. Dia hanya bisa mengutuk-ngutuk dan mulai berjuang dari awal lagi; masuk ke lingkaran thawaf dan berusaha menjangkau Hajar Aswad lagi. Bukan main sulit dan kerasnya perjuangan itu, tetapi akhirnya dia berhasil berhadapan lagi dan segera mendekatkan bibirnya dengan Hajar Aswad. Tetapi, “plak”, kembali satu tamparan menghantam pelipisnya. Sutriman kembali terpental ke luar lingkaran thawaf dan sia-sia mencari orang yang menamparnya. Sampai enam kali dia berjuang, merangsek pusaran thawaf, dan pada akhirnya dihajar sebuah tamparan. Bahkan, tamparan keenam membuat bibirnya berdarah, tubuhnya terhuyung dengan perasaan pusing yang hebat pada kepalanya.
Ketika hendak bangkit untuk mencoba lagi, tiba-tiba Sutriman tidak bisa melihat apa-apa. Pandangan matanya diselubungi kegelapan. Tak ayal lagi, Sutriman menjerit lalu tersungkur di lantai. Pada saat itulah dia merasakan matanya diserbu oleh kilatan-kilatan cahaya yang berganti dengan cepat. Setiap kilatan seakan menjadi pembuka satu adegan. Adegan-adegan itu kemudian terangkai menjadi semacam kaleidoskop yang menyajikan kilasan-kilasan sejarah hidup lelaki itu. Sutriman terpancang tegak di hadapan rangkaian gambar dirinya sendiri; menggigil kedinginan di bawah sengatan matahari yang memanggang Kota Mekah Al-Musyarofah.
Baca juga: Hellena dan Teror Sesosok Hantu – Cerpen Adam Yudhistira (Koran Tempo, 21-22 Maret 2020)
Sutriman menyaksikan bagaimana dirinya berkacak pongah di hadapan para bawahannya; merunduk-runduk di hadapan para atasannya; menjadi bagian dari praktik-praktik markup anggaran proyek yang menjadi bagian tanggung jawabnya; merekayasa data kepegawaian untuk meloloskan atau menjegal pihak-pihak tertentu sesuai dengan apa yang diberikan atau tidak diberikan kepadanya. Dia juga menyaksikan bagaimana dirinya begitu gandrung akan penampilan artifisial dalam menjalankan ibadah; menuntut secara terselubung tepuk tangan kekaguman dan doa-doa sebagai imbangan atas sumbangan-sumbangan finansial dan material untuk keperluan masjid atau fasilitas sosial lainnya; merasa berhak mendapatkan pengakuan kedudukan elitis di tengah-tengah pergaulan masyarakat di lingkungannya.
Saat kilatan-kilatan itu berhenti sepenuhnya, dan penglihatannya pulih seperti sediakala, Sutriman diserang perasaan muak yang begitu hebat kepada dirinya sendiri. Dia tersungkur jatuh bersujud mengakui kekerdilan dirinya dan memohon ampunan Yang Mahakuasa. Air matanya membasahi lantai pualam Masjidil Haram. Lama dia membiarkan dirinya terkapar di lantai sebelum tiba-tiba terkejut sendiri oleh perasaan ringan pada tubuhnya. Dia merasa ada kekuatan yang membimbingnya kembali ke putaran thawaf. Desakan dan impitan dari jemaah thawaf dirasakannya justru mendorongnya mendekat ke hadapan Hajar Aswad. Lalu, diciuminya batu itu dengan kepasrahan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu lapang dan leluasa. Sutriman bahkan bisa memuaskan diri menghirup aroma harum abadi batu yang berasal dari surga itu.
“Subhanallah!” seru para santri serempak.
***
Kiai Sadri keluar dari masjid beberapa saat setelah para santri kembali ke pondokan mereka masing-masing. Dari pintu masjid, dia melihat di kejauhan seorang lelaki tua sedang memangkas pucuk-pucuk rimbunnya bunga asoka yang memagari halaman kecil sebuah paviliun di bagian belakang perpustakaan pesantren itu.