Diam-diam Pak Jasman mengangkat seorang bayi sebagai anak angkatnya, tidak lain karena bayi itu bertampang priyayi. Siapa orang tua bayi ini, tidak ada yang tahu. Dan mengapa bayi ini oleh orang tuanya dibuang di dekat sumur tua yang sudah lama tidak pernah dipakai karena tempatnya terpencil, tidak ada yang tahu. Dan juga tidak ada yang peduli. Pak Jasman dan istrinya memberi nama bayi itu dengan nama priyayi, sesuai dengan tampangnya. Riyanto, itulah namanya.
Sejalan dengan bertambahnya umur, sedikit demi sedikit tampang priyayi Riyanto berubah menjadi tampang orang kebanyakan. Makin tambah umurnya, makin jelek wajahnya. Bukan hanya itu. Makin dewasa Riyanto, makin menjengkelkan sikapnya. Dan, ketika sekian banyak orang dengan nada jengkel mengganti nama Riyanto menjadi Jemprot.
Kebiasaan Jemprot adalah minta uang dari ayahnya, kemudian menghilang. Mula-mula menghilang hanya selama beberapa hari, kemudian menjadi beberapa minggu, lalu menjadi beberapa bulan. Bukan hanya itu. Setiap kali dia datang di desa-desa sekitar, orang-orang selalu mengusirnya.
Baca juga: Maling – Cerpen Komala Sutha (Jawa Pos, 05 April 2020)
Jangan heran, ketika Pak Jasman mendatangi Bik Khodriyah untuk meminang Bik Rimang, hati Bik Khodriyah benar-benar terguncang.
Pak Jasman dan Jemprot datang ke pondok Bik Khodriyah, menyembah-nyembah, dan bersumpah bahwa Jemprot akan menjadi orang baik. Luluhlah hati Bik Khodriyah, demikian pula hati Bik Rimang.
Sumpah sekadar sumpah, tidak ada maknanya apabila sumpah itu tidak diikat sumpah pocong dengan sanksi barang siapa melanggar sumpahnya akan dilaknat Tuhan. Setelah ada kesepakatan dengan tokoh-tokoh penting dan banyak orang, sumpah pocong pun dilaksanakan. Pak Jasman dan Jemprot dibungkus kain kafan layaknya “mayyit” yang akan segera dikubur. Ada tiga nama dalam kematian. Yaitu, begitu mati, seseorang dinamakan “jasad”. Setelah disembahyangi dan didoakan, “jasad” dinamakan “jenazah” Setelah “jenazah” siap dimasukkan ke liang lahad, dinamakan “mayyit”.
Dalam keadaan seperti akan dimasukkan ke liang kubur itulah Pak Jasman melantunkan sumpahnya, diikuti Jemprot. Orang-orang heran, mengapa Jemprot berubah sama sekali. Dia tidak menunjukkan sikap berandalan seperti biasanya. Tentu saja, setelah upacara selesai, Pak Jasman dan Jemprot tidak dimasukkan ke liang lahad, tapi dibebaskan dari kedudukannya sebagai “mayyit” dengan syarat akan celaka apabila sumpah yang telah diikrarkan hanya berhenti di mulut belaka.
Baca juga: Mata Merah Pekat – Cerpen Priyo Handoko (Jawa Pos, 29 Maret 2020)
Sumpah pocong berjalan dengan lancar dan Bik Khodriyah serta tetangga-tetangga lain pun meminta Bik Rimang untuk menerima pinangan Pak Jasman. Bik Rimang tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengangguk. Pernikahan pun berlangsung. Dan, dalam waktu kurang dari satu bulan kemudian, Pak Jasman meninggalkan dunia fana untuk selama-lamanya. Sikap asli Jemprot pun lahir kembali, bahkan lebih memalukan dan sangat menjijikkan.
Sering dia membawa pelacur ke rumahnya, lalu diajaknya main kuda-kudaan. Pelacurnya tidak pernah sama. Setiap kali Jemprot membawa pelacur lagi, pasti pelacur baru. Dan, Bik Rimang mau tidak mau harus menyaksikan suaminya main kuda-kudaan. Sebab, kalau menolak, sehabis main kuda-kudaan pasti Jemprot menyiksanya. Siksaan bisa memakai tangan kosong, gada besar yang terbuat dari kayu jati, bisa juga memakai palu dari besi baja.
Pada suatu hari, ketika Jemprot mengancam akan membunuh istrinya apabila tidak mau menyaksikan Jemprot main kuda-kudaan, istrinya hanya menunduk. Permainan kuda-kudaan pun dimulailah. Mula-mula istrinya merasa lemah, keringat dinginnya membasahi tubuh, pandangan matanya menjadi gelap. Lalu, dengan mendadak dia merasa mendengar bisik-bisik sebuah lagu, sama dengan lagu dari ibunya dulu. Tubuh Bik Rimang merasa kuat, tapi pandangannya tetap gelap. Tanpa diketahui Jemprot karena terlalu asyik dengan permainannya, Bik Rimang menari, berjalan ke dapur, mengambil celurit, dan dengan gerakan tari yang sangat indah, celurit itu dilayangkan ke kepala Jemprot. (*)