“Aduhhhh, puji Tuhan, Romo. Kasihan juga anak-anak yang selama ini tinggal di sini. Kami hanya membebankan Romo, setiap hari. Kira-kira, berapa biaya yang akan diberikan oleh donatur itu, Romo?” Suster lugu yang cantik itu antusias sekali, seperti berbicara di hadapan seorang pahlawan yang baru saja membebaskan satu negara dari tangan penjajah.
“Suster, soal dana, Suster tak perlu cemas. Dalam hal-hal tertentu, domba tak perlu tahu apa yang gembalanya dapatkan. Hehehehe……”
Wajah Suster kelihatan cerah ceria.
Baca juga: Tetapi … – Cerpen Kurnia Effendi (Koran Tempo, 11-12 April 2020)
“Oh iya, Romo, bagaimana dengan utang asrama pada Bapak Nikolaus? Kami mengutang sayur dan daging segar, tapi belum sempat kami bayar. Api menghanguskan tidak hanya cita-cita anak-anak, tapi juga uang yang mestinya sudah kami cicil pada Bapak Nikolaus.”
“Nikolaus? Kasihan dia. Istrinya mati bunuh diri, usaha perkebunan dan peternakannya hancur. Rupanya dia sudah hilang ingatan, Suster. Dokter beri informasi bahwa kondisi kejiwaannya sedang dalam gangguan berat. Santai saja, Suster. Bila mesti harus melunasi utang tersebut, Suster kira saya tidak bisa bantu? Suster kira saya ini gembala macam apa yang cuek di hadapan masalah yang dialami dombanya?”
Di mata Suster yang lugu dan cantik itu, Pastor Benediktus sungguh seorang pahlawan. Bukan “seperti pahlawan”, tapi memang sungguh-sungguh pahlawan. Pahlawan yang seluruh kulit tubuhnya terbuat dari adonan solidaritas dan belas kasih. Pahlawan yang akan segera dimutasi ke paroki yang baru.
***
“Romo, minta maaf, saya terlambat telepon….”
“Halo Ibu Adona, bagaimana Ibu?” jawab Pastor Benediktus.
“Anu, Mo, kami sudah siapkan makan malam, hari ini Papa Cinta ulang tahun. Maaf sekali Romo, kami terlambat memberi informasi….”
“Oh, baik, Bu. Saya sendiri akan ke sana…..”
Baca juga: Musyawarah Para Pencuri – Cerpen Mahwi Air Tawar (Koran Tempo, 04-05 April 2020)
Pastor Benediktus mematikan telepon, mengambil jaket, lalu segera bertolak ke rumah Ibu Adona, donatur—maaf, umat—yang menghadiahinya handphone keluaran terbaru. Sesampainya di rumah Ibu Adona, Cinta yang imut dan lucu sudah menyambut di depan pintu sebelum “pippp” berbunyi tiga kali.
“Yeeeee…. Bapa Romo datang, yeee….”
Dalam hati kecilnya, Pastor Benediktus merasa bahwa dia sungguh sangat dicintai oleh keluarga Katolik yang saleh ini. Di depan pintu, sebuah tanda salib kecil mendarat di dahi Cinta. Pastor Benediktus menyalami Ibu Adona, lalu memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Papa Cinta sambil memeluk. Setiap kebaikan mesti dibalas dengan pelukan.
Acara makan malam usai. Cinta mulai mengantuk, sudah hampir jam 10 malam. Ibu Adona menggendong Cinta ke kamar setelah mencium tangan “Bapa Romo”. Sepuluh botol bir dikeluarkan dari kulkas, khusus untuk Pastor Benediktus yang perutnya besar dan berlemak tebal. Sebagai seorang penikmat bir, membuka tutup botol menggunakan gigi jelas merupakan salah satu keahlian “Bapa Romo”, meski ada alat bantu yang sudah Ibu Adona siapkan. Gigi Pastor Benediktus sama kuatnya dengan nafsu berbuat dosa saat beliau masih bertugas di paroki yang lama.
“Jadi begini, Mo, malam ini juga saya ingin sampaikan soal rencana kami sekeluarga membantu pembangunan kembali Asrama Susteran yang terbakar di tempat Romo pernah mengabdi itu. Kami sudah siapkan 500 juta. Apa itu cukup, Mo?” Papa Cinta membuka percakapan yang lebih serius.
Baca juga: Jatuhnya Seorang Astronaut – Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 28-29 Maret 2020)
Pastor Benediktus terkejut mendengar angka fantastis itu. Botol bir diletakkan kembali di meja, dan persis sebelum menjawab pertanyaan Papa Cinta, dari arah kamar Cinta tepat di belakang Pastor Benediktus, Ibu Adona menarik pelatuk dan sebuah peluru keluar dari pistol yang dilengkapi peredam bunyi. Dalam hitungan detik, kepala “Bapa Romo” berlubang, darah mengalir membasahi jaketnya. Pastor Benediktus mati mengenaskan.
Handphone Ibu Adona berdering.
“Bagaimana? Apa anjing sial itu sudah mati?”
“Beres, Bos!”
“Mantap. Kirim fotonya!”
Di seberang, Nikolaus Pu’u Pau tersenyum puas. Nikolaus tidak hilang ingatan. Jiwa Nikolaus tidak alami gangguan. Bisnisnya tidak benar-benar hancur. Semua hanyalah tipuan dokter bodoh dan pastor sialan itu.
“Tiap pemerkosa dan pembunuh harus mati mengenaskan!” Nikolaus mengatakan itu sambil melihat foto istrinya.