Tetapi, siapa yang bisa memutus rantai sejarah yang mengikat hidup sendiri? Sebagai manusia biasa Suradi pun kerap didera rasa hampa. Apalagi, hampa yang dirasakannya bersumber dari keterpisahan oleh tangan nasib yang menurutnya semena-mena memperlakukan hidupnya. Ada saat-saat sunyi yang kerap mengimpitnya dalam kesengsaraan batin karena terpisah dari orang-orang yang dicintainya: istri dan anak-anaknya.
Pada masa-masa awal tinggal di desa itu, dia masih bisa berhubungan dengan istrinya melalui surat. Tetapi, lama-lama hubungan itu terputus sepenuhnya karena surat-surat yang dikirimnya tidak lagi berbalas. Dia hanya bisa terhenyak sendirian, meresapi kesengsaraan. Bayangan istri dan tiga orang anaknya kerap melintas-lintas pada dinding pelupuh dangau tempat tinggalnya. Bayangan-bayangan itu lama-lama mengkristal dalam pikirannya. Maka diambilnyalah keputusan itu.
Baca juga: Bulan Pucat – Cerpen Mashdar Zainal (Media Indonesia, 02 Februari 2020)
Pertemuannya kembali dengan istri dan anak-anaknya nyatanya menghadapkan Suradi kepada sayatan perih lain. Perjalanan diam-diamnya, dengan beban segala kekhawatiran, tetapi dipenuhi gambar-gambar kebahagiaan hidup masa depan di tanah pelarian yang diputuskannya akan menjadi tempat menghabiskan umur dan berkubur, tertumbuk cadas kekerasan hati sang istri. Ada yang rengkah di dalam hati Suradi ketika istrinya menetapkan pilihan bagi dirinya sendiri untuk mengakhiri kebersamaan dengan lelaki itu. Ya, kebersamaan yang baginya terasa semu dan melelahkan, tanpa secercah kepastian. “Biarlah kita menjalani hidup masing-masing, Kang. Aku lelah hidup terus-menerus dalam ketakutan.”
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Suradi selain pasrah dan mengakui kenyataan itu sebagai konsekuensi lain dari pilihannya. Apa lagikah kekuatan seorang suami yang telah sekian tahun menelantarkan istrinya, membiarkan kekeringan hati dan raganya? Masih adakah kekuatan untuk memaksa seseorang menerima kembali sesuatu yang telah dianggapnya hilang; sesuatu yang tidak diinginkannya lagi pulang? Meski demikian, dia bersyukur. Anak sulungnya yang saat itu berusia tiga belas berkukuh ikut bersamanya. Dalam bayangan anak itu, bapaknya itu tetaplah seorang pahlawan. Cerita-cerita yang didengarnya tentang sepak terjang bapaknya telah memupuk kebanggaan di dalam hatinya yang naif dan belia.
***
Hari itu Lantra gelisah di dangaunya. Suradi, bapaknya, yang berjanji langsung pulang setelah membeli pupuk dan pestisida serta keperluan lain di M atas perintah Dulamit, sudah tiga hari tidak pulang-pulang. Kegelisahannya terjawab ketika petangnya Dulamit menyambangi dangaunya.
Baca juga: Sepasang Mata Sunyi yang Mengejar – Cerpen Ita Siregar (Media Indonesia, 19 Januari 2020)
“Ntra, kaba harus sabar. Tuhan sedang menguji iman kaba. Bapang kaba tidak akan pulang. Dia ditangkap tentara di M. Tidak ada yang tahu sekarang dibawa ke mana”, tutur Dulamit.
Lantra yang belia terpaku beberapa jenak, sebelum tersungkur di lantai pelupuh dangau.
“Sudahlah,” hibur Dulamit, “Mulai besok kaba tinggal di rumah kami saja. Temani si Rana belajar. Kabarnya, kaba pintar di sekolah. Kaba masih bisa terus sekolah, sambil membantu Kasman mengerjakan kebunku ini. Masalah sekolah, biar aku yang tanggung jawab. Mulai sekarang, akulah pengganti bapang kaba.”
***
Tidak pernah ada yang tahu sebelumnya, di balik kewajaran pergaulan Lantra dan Rana yang layaknya kakak-adik, tersimpan rahasia besar yang mereka tutup rapat-rapat. Orang-orang baru gempar ketika mengetahui Rana berhenti sekolah, dan Lantra dihajar habis-habisan oleh Dulamit. Rana hamil! Kegemparan berlanjut ketika Lantra dan Rana menghilang dari desa. Mereka sebambangan.
Baca juga: Tahun-Tahun Kemacetan – Cerpen Risda Nur Widia (Media Indonesia, 05 Januari 2020)
Sesungguhnya, tradisi memperlihatkan, sebambangan bukanlah hal yang sangat tidak lumrah. Anak yang sebambangan akan diterima lagi oleh kedua orang tuanya kalau mereka kembali. Kasih sayang kepada anak, darah daging sendiri, mengetuk dan membuka kembali pintu hati mereka. Tetapi, tidak bagi Dulamit. Siapa Lantra yang membuat diri dan kehormatannya tercabik-cabik di mata warga? Dia hanya “anak seorang makar” yang kebetulan ditolongnya; diberinya jalan untuk hidup; dan ditampung di rumahnya; dihidupi dan dididiknya. Luka di hati Dulamit terlalu rengkah menganga. Maka ketika Rana bersama Lantra tersungkur di kakinya, mengiba-iba memohon pengampunan, bukan penerimaan yang mereka dapatkan, melainkan sumpah serapah yang berujung pengusiran untuk kedua kalinya. Tidak seorang pun yang mampu meluluhkan hati Dulamit. Dan, itu harus dibayarnya mahal sekali: Rana mati bunuh diri dengan mulut beraroma keras pestisida bersama janin yang bersemayam di rahimnya.
Sejak itu, bila petang membayang, orang-orang lalu lalang selalu melihat Lantra duduk menekur di portal desa, tempat sekalimat sumpah diikrarkan dalam pekatnya sebuah rahasia. Juga tempat Rana meregang nyawa. (M-2)
Baturaja, April 2020
Catatan bahasa Semenda:
kalangan: pekan, pasar mingguan
tube: racun tuba
kaba: kau
bapang: bapak, ayah
sebambangan: kawin lari