Aku tak terlalu yakin saat rekanku mengusulkan kami tidur saja di teras pondok itu; kami tak bisa menemukan pemilik pondok atau seorang pun, meski sudah berteriak dan memanggil dengan segala macam cara. Pemandu itu juga tak yakin. Kali ini ia berkata, “Saya akan terus berjalan. Ada yang tidak beres di pondok ini.”
“Kamu sudah gila ya?!” bantah temanku. “Kami sangat lelah dan butuh istirahat. Setidaknya beberapa jam. Lagipula pemilik tempat ini pastilah mengerti. Kita tak perlu izin untuk minta pertolongan!”
“Terserah kalian.” Pemandu itu melangkah membelakangi kami.
Aku tak suka atas kejadian ini, tapi aku lebih percaya pada pemandu itu. Akhirnya kami berdua tak tidur di pondok itu, tetapi di tengah hutan, agak jauh dari pondok tempat ketiga temanku istirahat.
Esoknya kami melanjutkan perjalanan lagi. Tak ada sesuatu yang terjadi. Aku juga tak menemukan perbedaan dari tempat yang kami pakai untuk menginap, termasuk pondok itu. Teman-temanku terlihat biasa saja dan mereka tak bercerita apa-apa tentang pondok itu. Entah berapa jam kami berjalan pagi itu.
Entah berapa jam kami tak makan. Ketika seekor kijang tampak sekian puluh meter di depan, terlihat tenang seolah tak menyadari keberadaan kami, seorang temanku tergoda untuk menembak.
Baca juga: Telur Ayam sebelum Fajar – Cerpen Edy Hermawan (Suara Merdeka, 12 April 2020)
Tentu si pemandu melarang.
“Apa yang akan kaulakukan he?!” bantah temanku itu. “Kita di sini butuh makan dan tak ada apa pun yang bisa kita makan selain kijang itu!”
Perdebatan terjadi, tapi meski suara pertengkaran mereka lumayan lantang, tak ada reaksi apa pun dari kijang itu. Seakan-akan kami berada di tempat yang sangat jauh darinya.
Firasatku menguat. Kulihat di tenggara sana, tak jauh dari titik si kijang sedang asyik memamah rumput, terhampar padang ilalang sejauh mata memandang. Padang ilalang yang terasa, entah bagaimana, tak asing.
Aku merinding. Aku mungkin sudah pasrah, tapi sungguh tak tahu apa yang bakal terjadi pada kami setelah terjebak selamanya di tempat macam ini. Aku tak peduli meski teman-teman mencegahku berlari menjemput kijang itu. Aku tak peduli bahkan meski mereka akhirnya terpaksa menembakku demi tidak membuat kesalahan lain.
Tapi tak ada yang tertembak hari itu. Bahkan tak ada peluru melesat hingga tahun-tahun mendatang yang kualami dalam keabsurdan dan kesialan tanpa batas. Sebab tidak ada yang menghentikanku berlari menjemput kijang yang terlihat tenang itu. Hatiku tak henti berkata, “Menyingkirlah, kijang sialan! Menyingkir kau dari hadapanku!”
Kijang itu tetap tenang di sana, tetap memamah, meski kemudian kutabrakkan diri padanya. Aneh, tak ada yang jatuh terguling. Tak ada keributan. Teman-temanku di belakang sana mendadak bungkam setelah berteriak tiada henti, mengira aku menggila dan akan berbuat sesuatu pada kijang itu.
Kenyataannya memang aku menggila, tetapi bukan untuk melukai si kijang dengan belati dalam ranselku. Aku menggila karena pemikiran logisku berkata, tak mungkin ia, si kijang sial itu, tetap tenang, padahal seharusnya ia tak setuli itu. Apakah ada seekor kijang yang dilahirkan tuli?
Tabrakan itu tak menghasilkan apa-apa. Kijang dan aku sama-sama tak terjatuh. Aku merasa menembus tubuhnya dan semua temanku terpana melihat itu. Si pemandu malah tertawa terbahak-bahak. Kami melanjutkan perjalanan dengan putus asa. Padang ilalang itu terlihat sama, karena mungkin saja itu padang ilalang yang sudah kami lihat pada awal ketersesatan. Hanya, kami tak menemukan sumur tua itu lagi. Kami juga tak menemukan sumber air apa pun. Sisa air terakhir dalam botol terpaksa kami buang sebab ternyata itu berubah menjadi darah.
Kata pemandu kami, “Itu bahkan tak pernah berubah. Sejak awal itu sudah darah.”
“Kenapa kau tak mencegah kami?” tanya salah satu temanku dengan menangis.
Pemandu itu lagi-lagi tertawa dengan aneh. Sejenis tawa yang hanya akan muncul ketika kau kehilangan akal sehat. (28)