Sebuah mobil pikap pengangkut telur ayam berhenti di halaman rumah Tek Nun. Tek Nun heran. Tidak biasanya ada sebuah mobil terparkir di rumahnya. Selang beberapa saat, dia lihat orang yang turun dari mobil itu. Seketika darah Tek Nun tersirap. Lelaki berbadan gempal, kulit hitam, dan berkumis tebal itu berada di ambang pintu. Tidak asing Tek Nun dengan lelaki bertato di lengan kanan itu. Lelaki yang akrab dipanggil Pak Kalek itu mantan suami Tek Nun.
“Nun, mana anak-anakku? Aku sangat merindukan mereka,” ucap Pak Kalek.
Baca juga: Fragmen 13 Kisah – Cerpen Thomas Utomo (Suara Merdeka, 19 April 2020)
Mendengar ucapan Pak Kalek, seketika Tek Nun meradang. “Jangan berani-berani kausebut mereka anakmu! Mereka bukan anakmu! Dan kau bukanlah ayah anak-anakku! Kau hanya iblis bagi kami! Pergiii!!” teriak Tek Nun dengan geram kepada Pak Kalek sambil memeluk si bungsu Sila.
“Hei, sialan. Bagaimanapun dia anakku. Jangan mentang-mentang telah bahagia dengan si tua bangka itu, lantas kau menghilangkan aku sebagai ayah kandungnya,” ucap Pak Kalek, lelaki paruh baya itu. Dia hendak merangkul tubuh Sila. Namun sekonyong-konyong Tek Nun menolak. Tampak Sila sangat ketakutan.
“Jangan berani kausentuh anakku. Pergi dari sini! Jangan pernah injak rumah ini, Iblis!!” rutuk Tek Nun seraya mengacungkan sebilah pisau.
“Oke, oke… baiklah. Aku memang salah padamu, pada kalian semua. Tapi aku mohon, tolong katakan kepada dia, aku ini ayah kandungnya,” Pak kata Kalek sambil mengundurkan langkah, untuk menenangkan Tek Nun.
“Tidak! Bagi kami kau telah mati. Enyahlah dari sini. Cuih!” ucap Tek Nun sambil meludah ke tanah.
Pak Kalek tak berkata-kata lagi. Ia sadar dengan sikap dan perbuatannya selama ini. Namun perlakuan Tek Nun membuatnya sakit hati. Tapi dia tidak kuasa untuk melawan. Dia pandang Sila dalam pelukan Tek Nun. “Anakku, betapa mirip kamu dengan aku, ayahmu,” batin Pak Kalek. Bagaimanapun Sila anak kandungnya. Darahnya mengalir ke tubuh Sila yang hitam manis itu. Tiba-tiba pak Kalek menyesal.
Baca juga: Telur Ayam sebelum Fajar – Cerpen Edy Hermawan (Suara Merdeka, 12 April 2020)
Dengan perasaan sedih bercampur sakit hati atas perlakuan Tek Nun, ia pergi meninggalkan rumah yang pernah ia tempati dulu. Pak Kalek pun kembali memasuki mobil pikap yang ia bawa. Dia racak mobil itu ke jalan besar dengan suasana hati campur aduk.
***
Pak Talib terus menggenjot sepeda. Hari sudah beranjak petang. Namun ikan dalam ember di boncengan belum habis. Lelaki tua yang sudah ringkih itu masih semangat menjajakan ikan. Kali ini, saat remang-remang mentari senja, ia menyusuri jalan besar hendak menuju ke Pasar Kecamatan. Pak Talib berharap masih ada sedikit orang di pasar yang akan membeli ikan.
Ia terus mendayung sepeda. Dia ambil lajur kiri jalan besar itu. Dia melaju dengan sisa-sisa tenaga tua. Tatapan matanya yang renta tetap fokus ke depan. Sangat hati-hati ia melaju di jalanan yang biasa dilewati mobil-mobil dan truk. Maklum, jalan itu jalan lintas penghubung antarprovinsi.
Dengan bel sepeda dan suara lantang, ia memberi kode kepada calon pembeli. Namun tidak ada orang yang tertarik. Kode itu hanya mereka anggap angin senja, berlalu begitu saja.
Beberapa ratus meter lagi, Pak Talib akan sampai di Pasar Kecamatan. Namun saat sepedanya melaju di tikungan yang agak menurun, tiba-tiba sebuah mobil pikap pengangkut telur ayam menyenggolnya. Pak Talib langsung terpental di bahu jalan penuh semak belukar. Sepedanya ringsek dan ikan dalam ember berceceran.
Mobil yang menyenggol berhenti sesaat. Saat si sopir melihat dari balik kaca spion, terlihat Pak Talib menarik napas panjang, kemudian diam dengan tenang. Melihat korban tenang tidak bergerak, si sopir tampak cemas dan segera melajukan mobil. (28)