Pembunuh Bayaran dan Pageblug

Di malam sebelum keberangkatan Wirsu, Lumintu si maling kembali beraksi. Dengan motif yang masih sama. Akhirnya Wirsu semakin yakin bahwa maling itu mencuri bukan karena lapar, tapi memang karena ia seorang bajingan. Wirsu menuntun Oben keluar dari istal, memandikan dan memberi kuda itu makan rumput terbaik. Ia sudah siap membunuh, atau setidaknya menangkap Lumintu.

Ia mendapat informasi dari Demang Himan bahwa maling itu selalu mengarah ke hutan Banaran. Di pageblug seperti ini memang bukan keputusan yang tepat untuk pergi ke hutan Banaran. Penduduk di hutan itu terkenal kanibal. Mereka tak segan untuk memangsa orang asing hidup-hidup. Siapa pun itu, tak terkecuali memakan daging Wirsu. Tak mungkin baginya untuk menangkap maling itu di Hutan Banaran.

Namun, bagaimana seorang yang tinggal di lingkungan kanibal mencuri padi? Para kanibal mengharamkan nasi, mereka hanya memakan ubi dan jagung sebagai makanan pokok, di samping daging manusia. Sebuah pertanyaan besar menyeruak di kepala Wirsu. Pasti ada orang lain dibalik aksi maling Lumintu.

***

Petak sawah milik Mbah Sinom menjadi saksi ketika maling Lumintu ditangkap oleh Wirsu. Kronologinya, Wirsu memata-matai Lumintu di Dukuh Gino, tepat di jalan kecil perbatasan antara Hutan Banaran. Tiga hari tiga malam ia tinggal di sebuah gubuk kecil dibalik pepohonan. Hingga di suatu tengah malam, ia melihat kereta kuda yang membawa tumpukan karung dengan beberapa ikat sisa padi di gerobaknya. Tak salah lagi. Itu pasti Lumintu.

“Apa maksudmu mencuri seperti ini? Kau mau memanfaatkan situasi pageblug? Dasar bajingan. Aku tahu kau kanibal, kau tak mungkin makan nasi. Kalau ini soal uang, mengapa kau tak mencuri ternak? Itu jelas lebih mahal. Siapa yang menyuruhmu? Katakan!”

“Tidak ada yang menyuruhku.”

Sudah sepuluh kali Wirsu menanyai Lumintu perihal siapa yang menyuruhnya, setiap satu pertanyaan itu dilontarkan Wirsu sambil memotong satu ruas jari Lumintu, berurutan dari jempol ke arah kelingking, tangan kanan ke tangan kiri. Namun sama sekali Lumintu tak mau mengaku.

Wirsu sempat mengira ia jujur. Mungkin anak ini memang tidak ada yang menyuruh. Mungkin ia hanya ingin memanfaatkan situasi. Sekali lagi Wirsu bertanya, sambil meletakkan pisau di telinga kanan Lumintu yang tengkurap di antara tumpukan padi dengan tangan terikat.

“Siapa yang menyuruhmu?”

“Demang Himan.” Jawab Lumintu, 10 detik sebelum telinga kanannya diiris Wirsu hingga terputus.

 

Trenggalek, 28 April 2020

Edwin Anugerah Pradana. Penulis lahir di Kecamatan Panggul,Kab. Trenggalek ,pada tanggal 24 September 1998. Merupakan Mahasiswa di Universitas Negeri Surabaya, jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Tulisan-tulisannya dimuat di koran-koran lokal dan nasional, aktif di pembuatan zine lokal Surabaya. Baru saja menerbitkan buku antologi puisi pertamanya yang berjudul Terserah Handoko (2019).

Arsip Cerpen di Indonesia