Tanah Manokwari

Lebih lanjut kamu mengatakan, kehidupan di luar akan keras dan itu tidak cocok buatku serta anak-anak. Tetapi, aku justru berpikir sebaliknya, seberat apa pun jalannya hidup, jika kita tetap bersatu, tentu akan lain rasanya. Kupikir demikian pula dengan perjuanganmu itu. Aku merasa tidak banyak yang bisa mengerti jalan pikiranmu. Orang sepertimu memang selalu punya teman yang solid, tetapi tidak banyak. Yang terjadi justru sebaliknya, banyak orang yang akan mengenyahkanmu. Namun, aku, juga anak-anaklah, yang akan selalu bisa menerimamu dalam segala keadaan.

“Kamu benar, lebih baik kalian ikut karena sesungguhnya aku sendiri tidak yakin kapan bisa kembali,” katamu.

Baca juga: Sebuah Kisah di Candipuro – Cerpen Budi Darma (Jawa Pos, 26 April 2020)

Akhirnya, kamu sepakat kita pergi bersama. Setelah itu, aku memberi tahu anak-anak, kemudian dengan cekatan kita bersama-sama menyiapkan perlengkapan. Aku masih mengingatnya, saat itu tanggal 18 Juli 1924, kita dikirim menuju kapal yang akan berlayar dari Surabaya ke Manokwari. Menempuh perjalanan selama 20 hari dengan 17 kali singgah di pelabuhan sepanjang Jawa sampai Papua, sungguh sangat berat, terlebih pasti bagi anak-anak. Tetapi, selama perjalanan kulihat anak-anak kita sehat-sehat saja. Perasaan mereka belum begitu terbebani. Hal itulah yang mungkin menyebabkan mereka lebih bisa menikmati perjalanan. Justru aku merasa kamu lebih banyak mengkhawatirkanku. Fisikku memang tidak bisa berbohong karena pada kenyataannya akulah yang lemah. Meski di depanmu aku berusaha tetap tegar, rupanya kamu bisa tahu bahwa sesungguhnya aku sangat kelelahan. Beberapa kali aku terserang sesak napas dan batuk, tapi kamu merawatku dengan telaten.

Kita lega karena akhirnya pada tanggal 7 Agustus 1924 sampai juga di Manokwari. Di sini kita mulai berbenah diri dan memulihkan keadaan. Tapi, tak lama kemudian, kamu sudah kembali ke duniamu. Diawali dengan pemenuhan janjimu untuk menulis kronologi perjalanan kita melalui surat yang dimuat di koran Medan Moeslimin. Aku tak pernah meragukan, dunia pergerakan memang sudah benar-benar menjadi panggilanmu. Dunia yang bagimu termasuk berjuang untuk Islam. Kamu pernah mengatakan bahwa perjuanganmu melawan kapitalisme dan imperialisme kamu anggap sebagai jihad fi sabilillah. Dan Manokwari, tempat yang jauh ini, tidak menjadikan pergerakanmu luntur. Dari kota ini pula kamu justru melahirkan risalah Islamisme dan Komunisme, yang kutahu kemudian juga dimuat berseri di Medan Moeslimin. Di risalah itu pula kamu membuat pernyataan, masih juga tentang keyakinanmu perihal komunis dan Islam.

Baca juga: Dua Kepala – Cerpen Kedung Darma Romansha (Jawa Pos, 19 April 2020)

Mungkin karena keberanianmu di Manokwari ini tetap bergelora, Belanda tetap mengawasimu. Tetapi, tampaknya kamu tidak peduli hal itu. Kamu tetap terus bergerak tanpa lelah dan hal itu sempat beberapa kali melemahkan fisikmu sampai terserang demam. Sementara itu, aku terus berbenah tempat tinggal kita sembari merawat anak-anak. Kondisi badanku rupanya belum bisa berdamai dengan keadaan di Manokwari. Pernapasanku sering terganggu dan puncak dari sakitku, TBC menjangkiti tubuhku. Karena hal itulah kamu meminta izin kepada pemerintah untuk mencari pengobatan untukku, bermaksud membawaku keluar dari Manokwari. Kuperhatikan beberapa hari setelah pengajuan itu kamu terlihat kesal, mungkin karena permohonanmu tidak segera mendapat tanggapan. Bahkan sampai keadaanku kritis pun, tanggapan dari pemerintah tidak datang juga. Sesungguhnya aku sudah pasrah. Meski begitu, dalam keadaanku yang lemah itu justru aku tetap berusaha menenangkanmu. Kadang aku juga menceritakan apa yang selama ini menjadi harapan-harapanku, salah satunya tentang rasa bahagiaku bisa menjadi istri dari orang hebat sepertimu.

“Andai jiwaku tak bisa terselamatkan, sesungguhnya aku sudah lega. Setidaknya apa yang dulu kupikirkan telah kesampaian. Aku ingin menjadi istri yang setia bagimu. Istri yang bisa menerimamu dalam segala keadaan. Istri yang bisa menemanimu di mana pun kamu berada, termasuk di tanah Manokwari ini.” ***

 

YUDITEHA, Tinggal di Karanganyar, Jawa Tengah. Pendiri Komunitas Kamar Kata Karanganyar dan media seni & budaya ideide.id. Buku terbarunya Kumcer Filosofi Perempuan dan Makna Bom.

Arsip Cerpen di Indonesia