Ulang Tahun Ibu

Meskipun berada di rumah, Kartini aktif dalam melakukan korespondensi atau surat-menyurat dengan temannya yang berada di Belanda sebab beliau juga fasih dalam berbahasa Belanda. Kartini mulai tertarik dengan pola pikir perempuan Eropa yang ia baca dari surat kabar, majalah serta buku-buku yang ia baca. Hingga kemudian ia mulai berpikir untuk berusaha memajukan perempuan pribumi sebab dalam pikirannya kedudukan wanita pribumi masih tertinggal jauh atau memil iki status sosial yang cukup rendah kala itu.

Ibu, meski pendidikannya hanya SMP, juga memiliki kegemaran membaca. Ketertarikannya dalam membaca membuat ia memiliki pengetahuan cukup luas. Karena itu kami, anak-anaknya, sering diajak berdiskusi. Kami sama-sama heran karena ternyata ibu bacaannya begitu luas. Banyak buku yang telah ia baca ternyata belum sempat kami pelajari. Kami sering kehabisan waktu untuk membaca. Kadang membeli buku tak sempat tersentuh, masih terbungkus plastik berbulan-bulan.

Baca juga: Malam Masih Panjang, dan Kalian akan Merasa Lapar – Cerpen Mashdar Zainal (Republika, 19 April 2020)

Ibu seorang perempuan yang kuat, sabar, dan tabah. Ibu adalah penyejuk kehidupan kami. Dengan kasih sayangnya yang tak terhingga ia menjadi oase bagi kami. Meskipun kini kami masing-masing telah berkeluarga, kami sering berkunjung ke rumah ibu. Kadang naik pesawat terbang, kadang naik mobil pribadi, kadang pula naik kereta api atau bus.

“Hidup ini butuh perjuangan,” kata ibu suatu hari.

“Keringat perjuangan kita akan selalu dihargai oleh Allah. Keringat dan air mata kita tidak akan sia-sia,” lanjut ibu.

Memang, ibu selalu berulang kali meyakinkan kami suatu saat perjuangan keras ini akan mendapatkan balasan setimpal atau malah lebih. Namun, apa pun keadaannya kita harus selalu bersyukur dengan apa yang telah diberikan oleh Allah.

“Tetapi ingat, Ibu selalu tulus melakukan ini semua untuk kamu semua, anak-anakku,” ujarnya.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana ibu setiap hari rela harus bangun sebelum Subuh tiba. Air mataku sampai menitik mengingat hal itu. Ternyata begitu besar perjuangan ibu. Perjuangan seorang wanita mulia hanya untuk anak-anaknya. Ibu memang lentera jiwa di kala kami lemah tak punya pegangan.

Malam itu, meskipun di tengah wabah virus korona, kami sepakat pulang ke kampung halaman, ke rumah ibu dengan mobil pribadi. Dua adikku, Dyah dan Yanti, yang akan bergantian menjadi sopir. Kami berangkat dari rumahku di Pondokgede. Sepanjang perjalanan kami saling bercerita lucu-lucu agar Dyah yang mengemudikan mobil tidak mengantuk. Kami cerita apa saja, seru-seruan, seperti lupa akan rutinitas kehidupan selama ini. Kami memang meninggalkan keluarga masing-masing. Suami dan anak-anak tidak boleh ikut.

Baca juga: Mencari Reno – Cerpen Ilham Wahyudi (Republika, 12 April 2020)

Subuh hampir tiba ketika kami sampai Kendal. Kami tadi hanya sempat mampir ke rest area dua kali untuk makan dan keperluan ke toilet. Suasana jalan kebetulan tidak begitu ramai, Dyah dan Yanti bergantian menyetir di Tegal.

Rumah ibu tertutup, suasana sepi. Bola lampu di teras pudar, meredup. Pohon mangga di halaman begitu rimbun. Ada beberapa ekor kelelawar terbang. Aku tersekat. Dadaku sendat ketika mengetuk pintu rumah masa kecil dan remajaku. Perasaanku serasa diaduk-aduk. Kenangan kampung halaman mengharu biru.

Mbok Nah, pembantu rumah tangga yang menemani ibu selama ini, membuka pintu. Kantuk menggayut di wajahnya.

“Ibu sejak tadi menunggu sampai tertidur di kamarnya,” kata Mbok Nah.

“Sejak kapan ibu tidur?” tanyaku.

Ibu memang suka begadang. Ia senang mendengarkan wayang kulit dari radio sampai larut malam.

“Mungkin jam satu tadi. Ibu bilang tadi kalau usianya sudah 90 tahun. Lalu sujud lama.”

Kami pun bergegas ke kamar ibu. Barang-barang di mobil diurus Mbok Nah. Ibu tidur dalam damai. Kuraba tangannya. Dingin. Aku kaget. Kuraba wajahnya. Dingin pula. Aku dan adik-adikku saling berpandangan.

“Ibu nggak bernapas, Mbak.”

“Apa? Ibu kenapa?”

“Denyut nadinya nggak ada.”

“Apa? Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Astaghfirullah….”

 

Semarang, April 2020

GUNOTO SAPARIE, lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah. Sehari-hari tinggal di Jalan Taman Karonsih 654, Semarang.

Arsip Cerpen di Indonesia