BARENGKOK

BAMBANG SEKEN WIJAKSANA akan jadi kepala sekolah pada kesempatan mutasi dan pengangkatan kepala sekolah berikutnya. Sedangkan Ifritea Anugrahiana lebih segera, meski itu bukan karena karier atau prestasi manajerial sebagai staf kepala sekolah. Bukan. Itu dikarenakan Jindan Bakathiana, adiknya Ifritea Anugrahiana, didapuk jadi ketua partai dan partainya memenangi pemilu legislatif, hingga spontan (legal) didaulat jadi Ketua DPRD—meski pencalonan sebagai cawabup dari cabup, yang dalam berkampanye royal membagikan uang—amat didukung partai, tapi dalam pilkada itu kalah telak. Lebih tepatnya, sengaja dijatuhkan sebagian rakyat pemilih.

Ifritea Anugrahiana mengajar PPKN di SMP, mengikuti ijazah IKIP. Saat kuliah itu, ia berkenalan dengan Bambang Seken Wijaksana, pacaran, dan langsung menikah seusai wisuda. Jindan Bakathiana DO dari sebuah PTN tapi segera punya ijazah PTS, yang entah di mana—serta segera pula jadi guru. Sebagai guru, Ifritea Anugrahiana otoriter, tidak pernah ramah pada siswa. Sebagai staf kesiswaan, Ifritea Anugrahiana amat impulsif, sering memotong kebijaksanaan kepala sekolah dengan improvisasi jelek. Kalau ditegur, ia segera angkat HP, segera memijit nomor khusus, menelepon—mungkin cuma berpura-pura—Ketua DPRD Mangar. “Om, bagaimana nih. Kok realisasi otonomi keuangan sekolah jadi ngaco …” katanya dengan suara sangat keras.

Baca juga: Turun Haji – Cerpen Uum G. Karyanto (Koran Tempo, 25-26 April 2020)

Semuanya terdiam. Mengalah. Sehingga sebagian guru berontak, mereka cerdas menghancurkan propaganda Ifritea Anugrahiana, agar memilih adiknya menjadi sang wabup, dengan anti-kampanye agar tidak memilihnya. “Biar tak angkuh, besar kepala,” kata salah satu yang bosan dengan aroganitas Ifritea Anugrahiana. Memang, bila ia punya adik wabup, tidak akan terbayangkan level otoriter yang diraih dan diamalkannya, mungkin memasuki level adigung adiguna, yang muncul sebagai ekspresi mbake wabup? Jadi, tidak salah kalau dibilang Ifritea Anugrahiana akan mati dengan proses sekarat panjang. Azab dari Tuhan atas nama doa orang yang tanpa daya serta dendam dizalimi.

***

MOMEN kampanye pilkada itu membuat Rasyad berkenalan dengan Budi Cele, yang sedang merekayasa satu kampanye hitam untuk menjatuhkan Jindan Bakathiana. Ia peminum arak mahir, penjudi, suka main perempuan, dan makelar sepeda motor setengah membodohi si penjual dan pembeli, tapi masih dihormati karena ia itu guru. Mengajar di SMP lain dan pernah berinisiatif menarik pembelian kartu perpustakaan pada siswa dengan menjual blangko yang harus diisi siswa—padahal perpustakaan sekolah minim buku. Ia juga sigap meminta uang kepada orang tua calon siswa dengan janji akan mengusahakannya lulus tes masuk. Atau berjanji mengusahakan naik kelas. Lantas suka mabuk atau mau perempuan di sela keranjingan berjudi, melenggang dengan uang tanpa berbuat apa-apa.

“Tak cuma karena tidak elok ia jadi wabup,” bisik Budi Cele sambil menenggak arak di warung Hasmi. “Keluarga mereka suka sewenang-wenang, licik memanfaatkan kekuasaan buat kepentingan pribadi. Contohnya: aku ini, dimutasi ke SMP Terpadu, di perbatasan kabupaten, karena nekat mendatangi Bambang Wijaksana, menggertak dengan isu SK Seken Waluya, yang dimanipulasi keluarganya, meminta agar membayar uang duka bagi keluarga Seken Waluya. Ia bungkam. Istrinya melapor pada bapak dan pamannyadan aku dimutasi ke ujung dunia. Menyalahgunakan jabatan, terbiasa menyalahgunakan jabatan: jadi pilih yang lain saja. Terutama …”

Baca juga: Dua Lelaki Itu Bersaudara – Cerpen Imam Muhtarom (Koran Tempo, 18-19 April 2020)

Tapi kampanye hitam itu dibalas Jindan Bakathiana dengan counter seperti ini: Budi Cele memang meminta uang duka atas nama Seken Waluya. Tapi saat disantuni, uang itu tak diberikan pada keluarga Seken Waluya, malahan dinikmati sendiri. Bahkan ia minta dana buat ritual doa 1.000 hari Seken Waluya. Ia minta duit juga ke kepala sekolah SMP. Terjadi perang opini dan gosip, tapi anggota tim sukses Jindan Bakathiana sepertinya berhasil membuat kampanye tandingan, karena Budi Cele diamankan dengan dimutasi ke wilayah terpencil. Meski tidak mutlak karena melakukan pemerasan dan penipuan, karena ia itu amat indisipliner, suka judi, mabuk, dan main perempuan. Sudah dari awal menceng.

***

AKU tersenyum ketika Rasyad mengedip, ketika aku mengenangkan semua itu. “Bukankah Budi Cele itu akrabe Jindan, keduanya pernah sama-sama jadi bajingan di SMP itu?” gumamku. Rasyad tersenyum, mengangguk sembari mengintip alur letup imajinasi yang akan dirajut Senora menjadi cerita di laptop, selepas tengah malam?

***

IFRITEA ANUGRAHIANA jadi kepala sekolah. Bambang Seken Wijaksana akan segera menyusul, begitu ada formasi, setidaknya kalau Jindan Bakathiana masih jadi si orang pertama legislatif. Dilantik Bupati dengan disaksikan Ketua DPRD, yang bersama Sekda dan lembaga Baperjakat aktif mempertimbangkan kelayakan para calon kepala sekolah. Tepat setelah dua puluh hari lampau Kolonel itu mengirimkan Tladung—yang dingin menggertak Senora agar membuatkan cerita ihwal kegemilangan biografik Ifritea Anugrahiana, Kolonel, dan menantu. Dan Tladung pun mengantarkan tablet baru, dengan rincian: silakan dipakai sepuasnya seusai bikin cerita bagus tentang keluarga Kolonel. “Ada honor juga kalau cerita itu—maksudnya feature—dimuat di koran,” kata Tladung.

Baca juga: Tetapi … – Cerpen Kurnia Effendi (Koran Tempo, 11-12 April 2020)

Aku melobi koran bersama stasiun TV lokal agar memuat biografi gaya sinetron Ifritea Anugrahiana, suaminya, dan Kolonel. Semi-fiksi bergaya dramatik penuh bumbu fiksi dari yang tak pernah ada, tanpa peduli kalau aku, Rasyad, serta Senora punya fakta pahit ihwal Kolonel, Bambang Seken Wijaksana, Ifritea Anugrahiana, serta Jindan Bakathiana—dan itu telah diketahui umum hingga tak dibutuhkan teks pentersuratan. Jadi, sebenarnya, dalam mabuk pun akan bisa merangkai cerita, meneladani Kisah 1001 Malam—sampai Tladung membawa tablet dan ancaman bila sampai menuliskan kisah yang sangat tidak baik?

***

TADI, di masjid, Bambang Seken Wijaksana mengaku tak siap jadi kepala sekolah, karena Seken Waluya terus menghantuinya. Aku diam saja, tapi terus menonton, menertawakan, dan menggugat dengan tanya lewat tatapan tanpa kata, dengan tanya bisu: apa kau berhak dapat kemuliaan jabatan itu, karena Bambang Seken Wijaksana itu tahu apa? Bisa apa? Menggeleng. Bahkan membujuk agar aku membuat feature prospektif yang kemudian diulang lagi dalam ujud amat mengancam Tladung, karenanya aku tidak merasa perlu membungkam Rasyad dan Senora, yang tahu semua keburukan itu, bahkan Tladung pun tahu kalau aku punya informan lain. Amat cemas karena tahu aku punya informasi fix tentang lobi mereka, dan berharap agar menyembunyikan itu.

Selepas dinihari, Tladung, atas nama Kolonel, dengan biaya Rp 50 juta, kontan, telah mengantarkan aku pindah kos ke ujung dunia. Tapi apa Kolonel tahu bahwa Bambang Seken Wijaksana itu tak siap dengan kebengkokan pengangkatannya menjadi kepala sekolah itu? Di luar itu, Rasyad pun melengos sambil berbaring miring di ranjang. Sedangkan Senora membisu di depan laptop mati, seperti mempertanyakan di mana tempat nurani tinggal dan apakah itu tetap terjaga hidup? Senora mendelong, Rasyad membatu, membiarkan aku main game online di tablet hadiah Kolonel. Lantas, seperti di kisah sci-fi: aku terburai—Rasyad membubung, Senora raib—dan aku kian kesepian. Sendirian. 

 

Beni Setia, pengarang. Ia tinggal di Caruban, Jawa Timur.

Arsip Cerpen di Indonesia