Selasa sore, 28 Des 2004. Aku br kembali dr Lingke. Rmhku msh dipenuhi lumpur. Mayat-mayat yg kulihat sebelumnya masih ada di sana; telanjang. Tdk ada yg memindahkan atau menguburkan. Setiap org sibuk dgn urusan masing-masing. Di jln yg air bah tdk sampai; mobil, becak, sepeda motor dibiarkan begitu sj, tak ada bensin. Aku dokter, tp blm pernah melihat mayat sebanyak itu. Aku tidak menemukan mayat ankku. Oh, ankku yg sdh bisa memanggil ayah. Aku mencari dengan tangan dan kaki ke tiap sudut ruangan. Mungkin bsk hrs kucari di luar rmh. Aku kehabisan makanan, makanan terakhir cukup untuk makan mlm. Aku ingin memeluk ankku sekali lagi, Tuhan!
Lelaki yang menulis catatan-catatan ini ternyata seorang dokter. Namaha menyewa kamar ini selama satu minggu dengan harga sangat mahal dari pemilik rumah yang telah kembali.
Baca juga: Sebuah Kisah di Candipuro – Cerpen Budi Darma (Jawa Pos, 26 April 2020)
Pada hari yang sama, Namaha berada di tenda pengungsian di depan masjid. Beruntung, cederanya tidak berat. Namaha melihat kematian-kematian di dekatnya karena tak sengaja meminum air laut bercampur lumpur. Juga karena terlambat mendapat pertolongan akibat patah tulang rusuk dan cedera berat lainnya.
Mereka dibaringkan di tenda di halaman masjid dengan pengobatan seadanya. Ia mendengar bahwa RS terendam lumpur. Listrik mati. Orang-orang mengantre untuk segera ditangani. Sementara jalur telekomunikasi terputus. Belum ada kabar dari Nuh, meski Namaha sudah bertanya kepada orang-orang yang ia kenal dan orang-orang yang tidak ia kenal di sekitar tenda.
Makanan semakin langka, beberapa orang berhasil membawa pulang bungkus mi yang terbawa gelombang. Sementara air minum semakin berkurang, PDAM mati, bayi-bayi menangis kelaparan. Menurut salah satu korban yang juga kehilangan rumah, besok mereka harus berjalan ke bandara. Kerusakan akibat bencana sangat parah sehingga tempat itu susah diakses. Dalam hatinya, Namaha berharap keluarganya di kampung aman. Tapi, tak satu pun dari mereka yang datang menemuinya. Namaha tersadar dari lamunan dan kembali membaca kertas lusuh lainnya.
Baca juga: Dua Kepala – Cerpen Kedung Darma Romansha (Jawa Pos, 19 April 2020)
Rabu, 29 Des 2004. Aku berusaha ttp waras. Td di jln, seorg laki-laki memotong jari mayat dan mengambil cincinnya. Aku ingat wajah pencuri itu. Tapi tak berusaha mencegahnya. Mungkin roh wanita malang itu tlh mengutukku. Aku blm berhasil menemukan mayat putraku. Plngnya, aku melihat seorang pemuda mengendarai motor sambil mengikat mayat ke badannya.Mungkin itu abg, adk, atau ayhnya….
Namaha pernah mendengar kepiluan dan kejahatan pada hari-hari setelah tsunami. Ia mencoba mengingat-ingat. Tanggal 29 Desember, ia sudah merasa lebih baik dan mulai berpikir untuk mencari Nuh. Ia keluar dari tenda pengungsian, menyusuri jalan menuju pantai. Belum seberapa jauh melangkah, ia melihat pemandangan yang membuatnya kembali teringat pada bencana Minggu pagi. Sampah-sampah dan mayat-mayat masih berada di jalan dan perempuan itu merasa air laut kembali akan naik, ia menjadi sulit bernapas dan duduk di atas trotoar kotor. Sebuah tangan menyodorkan air mineral, Namaha meminumnya beberapa teguk. Kemudian, sebuah mobil datang membagi-bagikan air mineral dan mi instan. Tangan pertama yang berhasil memegang kardus langsung memeluk barang itu dan membawanya pergi, abai pada mata-mata lain yang juga kehausan dan kelaparan. Saat yang lain saling berebut air mineral dan mi instan, Namaha segera meninggalkan tempat itu.
Tengah malamnya di pengungsian, mereka mendengar seseorang berteriak, “Air laut naik lagi!” Orang-orang berlarian tanpa arah, mengulangi apa yang mereka lakukan Minggu pagi lalu. Salah seorang relawan berusaha menenangkan mereka dan mengatakan bahwa teriakan itu dilontarkan orang tak bertanggung jawab. Para pengungsi mengabaikannya. Mereka kembali berlari. Berlari ke arah bandara. Namaha salah satu dari orang-orang yang panik dan ikut berlari. Mereka terus berlari, abai pada lecet dan rasa sakit, sampai mata mereka melihat pintu gerbang Bandara Iskandar Muda.
Baca juga: Senja Wabah – Cerpen Dadang Ari Murtono (Jawa Pos, 12 April 2020)
Namaha menyusun kertas-kertas lusuh tersebut sesuai tanggal penulisan. Tetapi tetap tak berhasil menemukan kertas bertanggal 31 Desember 2004. Padahal, pada 30 Desember 2004 lelaki itu mengatakan akan bertahan sampai besok. Mungkin ia lelah atau sudah menemukan mayat anaknya.
Tangan Namaha meletakkan kembali kertas-kertas lusuh catatan lelaki yang sempat tinggal di kamar itu. Ia naik ke tempat tidur dan memejamkan mata. Betapa berat hari-hari yang dilalui keluarganya saat mencari keberadaan Namaha dan suaminya sebulan lalu. Rumah yang mereka sewa sudah tak berbekas. Tersisa pohon mangga di sudut halaman sebagai penanda. Keluarga Namaha tinggal di Nagan. Sementara keluarga suaminya tinggal di Kaju, salah satu daerah yang diratakan tsunami. Besok pagi Namaha akan pergi ke pantai Ulee Lhe, di mana kali terakhir ia melihat suaminya. Seperti sang nabi, Nuh telah pergi mengarungi laut dengan membawa serta seluruh keluarga, kecuali istrinya.