Santo mulai kerasan meninggalkan rumah. Sejak pagi ia pamit pada istrinya, dan pulang selepas berbuka puasa. Kalau hanya Rp 50.000-Rp100.000 ia bisa bawa pulang. Walaupun tidak setiap hari.
“Tidak setiap keluar dijamin rezeki lancar. Mungkin Tuhan menunda hari ini untuk melipatgandakan esok atau lusa,” kata Ema, ketika Santo mengeluh pulang tak membawa uang.
Ema bukan saja istri yang bisa memberi kesejukan hati, melainkan juga selalu men-support setiap langkah Santo. Ketika ia mau rekaman menyanyikan lagu-lagu karya pemusik lain untuk konten di Youtube, Ema bahkan menemani di studio sewaan. Ia tak bosan, walau menunggu beberapa jam.
Baca juga: Telur Ayam sebelum Fajar – Cerpen Edy Hermawan (Suara Merdeka, 12 April 2020)
“Bukan saatnya lagi melawan dengan cara diam di rumah. Tetapi menembus pandemi itu dengan cara mengakrabi dan tetap berjarak,” kata John suatu siang.
Keduanya menahan kantuk karena puasa. Markas para wartawan belum ramai. Mereka masih memburu berita dengan cara wawancara jarak jauh. Biasanya jelang berbuka puasa mereka ke markas. Buka bersama bagi yang puasa.
Kehidupan awak media memang mengasyikkan. Berkesan riang. Kalau ada keluhan, itu tak seberapa dibanding warga lain kalau mengeluh. Lagipula awak media lebih sering menyikapi secara kritis kerja pemerintah menangani pandemi Covid-19. Merekalah yang memainkan emosi negara dan rakyat.
“Kalau tak begitu, ya gak akan dibaca orang,” kata Yadi, pemimpin media terkenal di daerah ini. “Seorang wartawan yang baik harus pandai memainkan emosi dan keinginan pembaca,” katanya lagi.
Santo hanya diam. Ia tak bisa memasuki pikiran para awak media, walaupun ia berkawan dengan banyak wartawan. Lain dari John. Ia memang jurnalis di media cetak dulunya, dan kini turut mengelola media online milik sahabatnya. Selain menulis puisi dan prosa.
Baca juga: Wabah – Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 05 April 2020)
John pula yang membawa Santo ke beberapa kafe di kota ini. Untuk mengisi panggung musik yang disiarkan langsung melalui Facebook dan Instagram. Ketika selesai acara, pemilik kafe sekadar mengganti bensin dan rokok. “Coba dari dulu ya, John?” bisik Santo.
“Kan baru tahu belakangan ini. Kalau diam di rumah membuat kita mati pelan-pelan,” jawab John, lalu tertawa lepas.
Duet John dan Santo di sejumlah kafe secara live mendapat dukungan. Dua seniman, penyair dan pemusik, berkolaborasi satu panggung jelas menarik. Apalagi kepiawaian Santo mendekati pemusik Alif Ba Tsa yang kerap tampil di Youtube itu. Petikan gitarnya khas. Sementara John memiliki vokal yang kuat; ada rima yang mendayu dan romantis.
Setiap mereka tampil, pengunjung di akun Facebook dan Instagram tak kurang dari 100 orang. Pemilik kafe senang. Itu berarti bagian dari promo usahanya. Khusus penonton di kota ini, esok harinya datang. Buka puasa bersama di sini. Tentu membawa rekan-rekannya.
Baca juga: Mono (Log) – Cerpen Radeya Q Kalimi (Suara Merdeka, 29 Maret 2020)
“Jadi benar kata istrimu. Perempuan itu punya feeling kuat untuk urusan uang,” kata John.
“Maksudmu?”
“Katamu, dia kan pernah bilang, keluarlah dari rumah karena rezeki itu tak pernah ada dalam rumah. Doa boleh dari rumah, usaha ya mesti di luar,” jelas John.
Santo mengangguk. Ia selalu heran dengan John. Kawannya ini tergolong pengingat yang kuat. Ia sudah lupa apa yang telah diucapkan, John malah mengingatkan lagi.
“Kalau tak salah, Ema juga sempat mengutip ayat Alquran, yang isinya setelah menunaikan salat hendaklah kau bertebaran di muka bumi ini. Artinya, ibadah (doa) lalu berusaha dan berniagalah untuk kehidupan di dunia ini. Aku sepakat itu.”
“Ya. Makanya aku langsung mengontakmu, menemuimu di markasmu itu. Aku mau mengubah rezekiku, nasibku,” balas Santo.
John mengangguk.
Baca juga: Kota Ini Memberiku Kesedihan Terbaik – Cerpen Aris Kurniawan (Suara Merdeka, 09 Februari 2020)
“Memang rezeki itu sudah tertakar dan tak akan tertukar. Itu kalau tidak kita perjuangkan, ya tak akan kita peroleh. Untuk mendapatkannya kita harus bekerja. Takaran itu yang sudah ditentukan Tuhan,” kata John setelah keduanya diam.
***
Santo tak lagi mau seperti anak-anak. Duduk manis karena diperintah orang tua atau guru. Ia juga tak hendak jadi pecundang, hanya menerima angka dan jumlah yang disorongkan pemerintah. Dia tak mau berleha-leha di rumah dengan alasan diam di rumah demi memutus rantai penyebaran pandemi Covid -19.
Apalagi dia sudah paham banyak ikhwal cara kerja pemerintah. Tidak serius. Tak disiplin, bahkan berkesan pilntat-plintut. Lockdown tak mau, memberlakukan PSBB. Sementara membuka kembali transportasi, tetapi melarang mudik.
“Yang tak kusuka dengan cara kerja pemerintah, seperti coba-coba. Ngajak perang melawan corona dengan diam di rumah. Itu pun sudah jebol dulu penderita yang positif. Tidak ingin berlakukan lockdown, eh menyetujui PSBB di beberapa daerah. Kesannya pemerintah pusat itu tak mau membiayai rakyat akibat diam di rumah,” tandas John.
Baca juga: Merampas Kewanitaan – Cerpen Joss Wibisono (Suara Merdeka, 26 Januari 2020)
Itu sebabnya, ia melanjutkan, sejak pemberlakukan diam di rumah tak pernah dia gubris. Ia tetap keluar mencari pekerjaan. “Keluargaku harus makan. Jangan sampai mereka mati karena kelaparan, bukan karena corona!”
Itulah yang menguatkan Santo berani kembali ke luar rumah. Mencari pekerjaan. Ia tembus pandemic Covid -19 di lintas Ramadan.
“Aku juga tak mau anakku tak punya baju baru saat lebaran. Di rumah juga harus ada penganan kue, meski tamu mungkin tidak ada,” balas Santo.
Keduanya terus menembus hutan virus yang tak tampak itu. Tak mau pusing akan terpapar atau selamat melampui musibah nasional ini. “Kita harus melawan dari diri sendiri,” gumamnya. (28)