Seperti biasa, malam itu Besa Paji baru saja menyelesaikan makan malamnya. Ia duduk sendiri di teras rumah. Baru beberapa menit menikmati tembakau seknya, Opa Beda bersama Tiu Mike dan Opu Marsel tiba-tiba muncul.
“Besa, maaf mengganggu malam-malam. Kami mau perlu sebentar,” Tiu Mike membuka pembicaraan.
“Bagaimana? Mari kita bicara di dalam!” Sekalipun sudah tua, Besa Paji masih tetap berwibawa. Sebagai kepala suku ia sangat dihormati oleh seluruh anggota suku, bahkan kepala-kepala suku lain pun sangat menyeganinya.
Ia hemat sekali bicara, tapi sekali bicara, kata-katanya selalu menenangkan, pikiran-pikirannya selalu memberi jalan keluar.
Baca juga: Sepasang Mata Sunyi yang Mengejar – Cerpen Ita Siregar (Media Indonesia, 19 Januari 2020)
“Besa, suku kita sedang jadi perbincangan masyarakat sekampung. Kepala-kepala suku lain mengira kita tidak punya hati untuk masyarakat dan kampung ini,” Tiu Mike lanjut berbicara.
“Benar, Besa. Semua warga menyayangkan kenapa tidak ada perwakilan dari suku kita waktu upacara adat di rumah adat dan gunung kemarin,” Opa Beda menambahkan.
“Yah, kalian tahu aku tidak kuat lagi untuk berjalan jauh,” kata Besa Paji sambil membetulkan posisi tongkat kakinya.
“Kita harus segera bertindak, Besa. Masyarakat semakin risau, hujan belum juga turun, persediaan makanan juga semakin menipis. Kepala-kepala suku memutuskan untuk melakukan upacara adat lagi,” Opu Marsel ikut bersuara.
“Yah, sudah saatnya aku memikirkan orang yang tepat untuk menggantikanku.”
“Kalau memang demikian, kami berharap semoga kepala suku yang baru bisa seperti Besa Paji,” ungkap Opu Marsel.
Baca juga: Tahun-Tahun Kemacetan – Cerpen Risda Nur Widia (Media Indonesia, 05 Januari 2020)
“Opa Beda kiranya cocok akan tugas ini. Keprihatinannya pada situasi suku kita sangat besar. Kata-katanya tegas dan keras, tapi tingkah lakunya lembut. Dia pasti bisa memimpin suku kita dengan baik,” tambah Tiu Mike.
“Yah, Opa Beda layak untuk itu. Karakternya tidak diragukan lagi. Beberapa hari ke depan akan kuumumkan siapa penggantiku,” kata Besa Paji.
Malam semakin larut. Opa Beda, Tiu Mike, dan Opu Marsel pamit pulang. Di perempatan jalan menuju rumah adat, Opa Beda mengeluarkan dua buah amplop putih dari saku celananya dan menyerahkannya kepada Opu Marsel dan Tiu Mike. Ketiganya lalu berpisah di tengah gelapnya malam.
***
“Masyarakat suku yang aku kasihi, hari ini di hadapanmu semua, aku akan mengumumkan kepala suku kita yang baru,” Besa Paji mengawali sambutannya.
Pagi itu seluruh masyarakat suku termasuk kepala kampung dan kepala-kepala suku lain berkumpul memenuhi pelataran rumah adat suku kami. Besa Paji berdiri tepat di depan pintu rumah adat dengan tongkat di tangannya.
Baca juga: Sebelum Perpisahan – Cerpen Win Han (Media Indonesia, 08 Desember 2019)
“Setelah kupikirkan dengan baik dan melalui proses pertimbangan yang sangat matang, kutetapkan bahwa kepala suku kita yang baru adalah Kalisius Lebu.”
Aku tak berpikir apa-apa waktu itu. Yang kutahu nama kakekku dipanggil oleh kepala suku kami.
Reaksi wajah kakek tampak datar-datar saja. Ia melepaskan aku dari gendongannya dan menyerahkanku kepada Bapak yang berdiri di sampingnya. Tidak jauh dari kami kulihat Opa Beda, pria yang pernah memarahi kakek di tepi pantai itu terlihat ikut bergembira, bertepuk tangan dan menyorak-nyorakkan nama kakek.
“Bapak kepala suku, terima kasih banyak atas kepercayaan ini. Tapi maaf sebesar-besarnya, aku tidak bisa menerima kepercayaan ini,” sahut Kakek.
“Kamu sangat pantas untuk tugas ini. Seluruh anggota suku juga sangat mendukungmu.”
“Aku punya banyak kekurangan, Besa. Sungguh tidak layak untuk mengemban tugas sebesar ini.”
“Ikut aku ke dalam!”
Baca juga: Kuda Sembrani – Cerpen Eka Maryono (Media Indonesia, 17 November 2019)
Besa Paji mengajak kakek masuk ke dalam rumah adat suku kami. Hanya mereka berdua. Dipandangi oleh foto-foto yang bergantung di dinding rumah adat suku. Foto kepala-kepala suku dari yang pertama sampai Besa Paji.
“Kalis, pikirkan kembali baik-baik. Demi masa depan suku dan kampung kita,” Besa Paji berupaya meyakinkan.
“Besa, engkau sendiri tahu hidupku sendiri banyak menyalahi aturan suku. Aku kawin dengan perempuan suku lain yang secara hukum adat tidak boleh kujadikan istri. Seluruh masyarakat mencercaku habis-habisan waktu itu.”
“Itu semua sudah terjadi puluhan tahun lalu. Lupakan, toh engkau sekarang hidup bahagia. Dikaruniai anak dan cucu yang sehat-sehat.”
“Aku hanya merasa tidak pantas saja, Besa.”
“Angkat mukamu dan lihatlah wajah para pendahulumu. Mereka juga punya banyak kekurangan sepertimu. Tapi engkau harus yakin mereka akan selalu bersamamu dan membantumu.”
Besa Paji membawa kakek keluar dari rumah adat. Setelah diam beberapa menit, kakek akhirnya menyatakan siap menjalankan kepercayaan tersebut. “Masyarakat suku yang kukasihi, hari ini kita memiliki kepala suku baru!” seru Besa Paji lantang.
Tiga hari kemudian setelah kakek resmi menjadi kepala suku, anak perempuan pertamanya, Magdalena, meninggal tepat di depan rumah adat suku kami. Ibuku. (M-2)