Kudengar satu gerbong penuh riuh dengan tepuk tangan dan siulan. Terdengar jelas menyapa gendang telinga. Pria di sampingku duduk tadi bahkan berdiri dengan tepuk tangan meriah. Aku menganggukkan kepala perlahan, sedikit malu. Tak biasanya menjadi pusat perhatian, di tempat umum seperti ini pula.
“Bapak keren banget. Oh iya, nama Bapak siapa?” tanyaku setelah reda dari suara siulan dan tepuk tangan.
“Sapardi,” jawabnya sambil memperbaiki topinya yang miring.
“Sapardi?” tanyaku balik.
Bapak itu menganggukkan kepala. “Entahlah, bagaimana dan mengapa orang tua saya dulu ngasih saya nama gini,” kekehnya perlahan.
“Mbak, mumpung masih muda, nikmatin hidupmu. Jangan sampai menyesal di masa tua. Nyesal kenapa dulu saya nggak ke sini, nggak ke sana. Kenapa dulu saya nggak ngelakuin hal ini, hal itu, dan beragam penyesalan lainnya. Jangan juga sia-siakan waktu. Waktu itu sesuatu yang berharga banget dalam perjalanan hidup manusia. Lakuin segala hal yang kamu mau, selama itu positif dan bawa kebermanfaatan bagi manusia lain di sekitarmu,” pesan Pak Sapardi dengan raut wajah serius dan menatapku sungguh.
“Saya duluan ya Mbak, sudah sampai di stasiun tujuan saya.” Pak Sapardi pamit setelah mengatakan petuahnya. “Terima kasih ya tawaran bangkunya tadi, Mbak orang baik. Tetap jadi orang yang berharga,” ucapnya sambil berdiri, bersiap pergi.
“Terima kasih banyak, Pak, saya beruntung jadi salah satu orang yang dapat petuah dari Bapak. Dan ya, omong-omong, topi Bapak sudah seperti milik Eyang Sapardi. Dan Bapak cocok dengan nama itu,” ucapku sungguh-sungguh yang ditanggapi dengan kekehan oleh Pak Sapardi.
Ia lalu keluar dari kereta sambil memperbaiki topinya yang sebenarnya sudah rapi, menjinjing kresek hitam miliknya yang sedari tadi dipegang dengan erat di pangkuannya, entah apa isinya.
Ah, sepertinya ini hari begitu indah dan tak akan kulupakan begitu saja. Terlalu indah. Bermain sajak milik Eyang sekaligus mendapat petuah gratis.
“Mbak, tadi keren banget, asli deh. Apalagi puisinya tadi, widiih mantap. Pasti viral tuh nanti,” ujar pria yang tadi duduk di sampingku.
Aku hanya tersenyum singkat sambil menganggukkan kepala. Kereta masih melaju dengan cepatnya. Stasiun selanjutnya adalah tujuan akhir dari perjalananku hari ini.
Baja rel kereta bergesekan, saling mengikis, melambat, dan tibalah aku di tujuan akhirku. Setelah memastikan barang-barangku tak ada yang tertinggal, aku berdiri, bersiap meninggalkan bangku.
“Mas, kalau nanti di kereta ada yang lebih butuh tumpangan, tolong dikasih ya, Mas kan masih muda, masih kuat. Siapa tahu ketemu Sapardi versi lain, siapa tahu viral juga nanti. Saya duluan,” pamitku yang ditanggapi dengan menggaruk tengkuknya yang aku bersumpah itu tidak gatal sama sekali.
Sambil berjalan keluar dari stasiun, senyum di wajahku tak bisa luntur. “Sepotong kata yang indah di kereta hari ini,” batinku.
Langit memerah, matahari perlahan kembali ke peraduan, anak senja sibuk memasang status galau. Sedangkan aku sibuk mencari ojek online yang kupesan dengan senyum yang tak berhenti membingkai wajahku sedari tadi. ***