Hadjar

Bisa jadi juga Kapten Vanborden telah mendengar apa yang dilakukan Raad van Indie, dari Dewan Hindia Belanda yang sebenarnya telah menggelar rapat khusus guna menentukan sikap untuk menangani pemuda radikal itu, atau mungkin saja kapten justru sudah mendapat peringatan dari dewan, karena dianggap tidak becus mengatasi masalah ini. Ah, jika mengingat itu, pada akhirnya akan kembali ke saya, dan pemikiran itu memberi pengertian bahwa saya datang atau tidak memenuhi panggilan itu sesungguhnya akan berakibat sama bagi saya, sama-sama akan membuat hidup saya repot. Karena pemikiran itu, dengan terpaksa saya datang. Tapi dalam pertemuan dengan kapten nanti saya sudah punya rencana, saya tidak akan membantu lagi jika apa yang menjadi pemikiran saya tidak pernah diterima. Saya pikir itulah satu-satunya cara agar saya juga punya harga diri.

“Segera kau tangkap Soewardi!” ucap Kapten Vanborden begitu saya muncul di ruang kerjanya.

“Sedikit terlambat, Kapten,” saya menyahut dengan ringan.

“Maksudmu apa?” tanyanya dengan suara membentak, dan wajahnya memerah. Mungkin apa yang saya pikir tadi benar, kapten telah mendapat teguran, entah dari siapa, hingga sayalah yang akhirnya mendapat celaka, menerima kemurkaan yang telah di ujung kepala.

“Cepat tangkap dia, dan buang ke Belanda,” sambungnya sebelum saya menanggapi pertanyaannya.

“Kenapa tidak langsung dilenyapkan saja, Kapten?”

“Yang jadi pimpinan di sini kamu atau saya?”

“Tentu saja, Kapten.”

“Kalau begitu cepat laksanakan!”

Dengan kemampuan kesatuan kami, tentu saja tidak sulit untuk melakukan tugas itu. Bahkan yang kami buang tidak hanya Soewardi, tetapi juga dua temannya, yaitu Tjipto Mangoenkoesoemo dan Douwes Dekker. Meski begitu saya sendiri masih ragu dengan hukum buang itu. Kecerdasan Soewardi tidak terbatas pada hal fisik, melainkan apa yang ada di dalam otaknya. Terkait hal itu saya sampaikan kepada Kapten Vanborden, dengan maksud agar ketiga orang itu langsung dilenyapkan. Namun lagi-lagi, pendapat saya tidak pernah digagas. Masuk telinga kanan dan langsung keluar lewat telinga kiri.

Apa yang menjadi kecemasan saya benar-benar terbukti, karena setelah Soewardi bebas usai menjalani enam bulan masa pembuangan itu, bukannya membuat dia jera, tapi tingkah Soewardi malah menjadi-jadi, terlebih setelah dirinya bergabung dengan National Indische Partij. Melihat hal itu lagi-lagi Kapten Vanborden hanya menyuruh saya untuk memperkarakannya, hingga Soewardi sempat beberapa kali dijebloskan ke penjara, namun semua itu tidak menyurutkan aksinya. Memang benar, setelah itu Soewardi seperti tidak bergerak, di mana hal itu dimaknai oleh Kapten Vanborden, Soewardi telah kapok.

Pada saat inilah saya dan Kapten Vanborden berseteru lagi, karena saya tidak sependapat dengannya. Saya menjelaskan kepada Kapten Vanborden bahwa diamnya Soewardi karena dia sedang mencari cara lain, tanpa meninggalkan tujuannya untuk mencerdaskan rakyat. Bahkan saya pernah mendengar sendiri ketika dia mengatakan bahwa pendidikan sangat berguna untuk perikehidupan dengan cara memerdekakan manusia sebagai anggota masyarakat. Dengan ilmu yang cukup, dan ketetapan yang tidak tergoyahkan akan menumbuhkembangkan keyakinan bahwa apa yang dilakukan adalah benar dan baik.

“Tugasmu hanya menjalankan apa yang saya perintahkan tanpa boleh protes!”

“Maksud saya, seharusnya kita sudah melenyapkan Soewardi, dan saya sudah mengatakan hal itu kepada Kapten waktu itu.”

“Kau hanya kacung di sini, jadi jangan sok. Tahu apa kau tentang Soewardi?”

Hati saya seperti terbakar mendengar ucapan kapten, karena itu dengan tanpa sungkan saya berani mengatakan tentang piawaian Soewardi. Saya bilang, pendidikan yang Soewardi perjuangkan sangat kuat, dan menurut saya hal itu berbahaya bagi kedudukan kami. Soewardi berusaha menanamkan nilai Pancasila, bukan berhenti pada kalimat tapi makna. Nilai itu juga berkaitan dengan keberagaman yang mendorong terciptanya persatuan, hingga mampu memperkuat persaudaraan mereka. Bahkan meski hidup mereka mengalami banyak perubahan, saya yakin nilai itu tetap akan dijalankan sebagai karakter mereka. “Saya menganggap pemikiran Soewardi itu mampu bertahan sepanjang masa, bahkan kemajuan teknologi pun tidak akan meruntuhkan. Jadi kita bisa kalah jika tak segera bertindak,” sambung saya.

“Kau tidak sadar posisimu di mana, hah!?” bentak Kapten Vanborden.

“Saya sekadar mengingatkan, Kapten.”

“Kamu menantang?” bentak Kapten Vanborden, sembari menarik pistol dari pinggangnya. Pistol sepanjang dua kilan itu ditempelkan moncongnya tepat di pelipis saya, namun saya tidak takut.

“Kapten tidak akan melakukannya. Saya adalah kepanjangan dari tangan Kapten, bahkan selama ini Kapten tidak dapat melakukan apa pun tanpa bantuan saya,” ucap saya dengan tegas.

***

Dua pekan setelah kejadian pembunuhan yang dilakukan Kapten Vanborden terhadap anak buahnya sendiri, tersiar kabar bahwa Soewardi mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa, tepatnya pada 3 Juli 1922. Rupanya perjuangan Soewardi menggunakan jalan pendidikan. Setelah pendirian Taman Siswa itu, dia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Dari situ, perjuangannya tersusun dengan cermat dan teliti. Dia tidak memakai cara kekerasan, tapi menggunakan keahliannya menulis sebagai tonggak perlawanannya terhadap segala bentuk ketidakadilan dan pembodohan. ***

Yuditeha, pendiri Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Ia telah menerbitkan 17 buku. Buku terbarunya adalah Sejarah Nyeri (Marjin Kiri, 2020) dan Tanah Letung (Nomina, 2020).

Arsip Cerpen di Indonesia