Penjara di Dalam Kepala

Penjara yang dingin dan dengung nyamuk sudah menjadi hiburan bagi Tumi Sukaesih. Terbayang paras anak-anaknya. Ia sedih. Terbayang sosok suaminya. Ia mulas mual.

“Pikirkanlah lagi. Stella akan mencabut tuntutannya, kau bebas, asal memberikan izin aku menikah lagi.” Terngiang-ngiang suara suaminya yang mata keranjang. Apakah aku harus memenuhi permintaannya? Tumi membatin. Kalau aku tanda tangan memberi izin berarti aku bisa membesarkan anakku, tapi apakah aku sanggup dimadu? Apakah aku harus manut dulu, pura-pura tanda tangan, kemudian jika sudah keluar aku diam-diam menemui perempuan tua yang menderita luka batin karena dimadu tiga? Apakah dia akan menolongku, tak mengizinkan putrinya menikahi suami orang? Tapi putrinya, selingkuhan suamiku itu konon hamil. Apakah aku tak iba padanya? Tapi bagaimana kalau aku datang dan perempuan itu memarahiku, bisa-bisa mencekikku, gara-gara aku sudah menusuk anaknya? Atau aku, ah, aku tak sudi dimadu. Suamiku, si Kero itu, pasti nanti sayang pada Hannah. Dia cantik, muda, dan seksi. Bagaimana kalau dia merayu suamiku agar menceraikanku? Oh, aku tak siap menjadi janda. Bagaimana omongan tetangga jika gara-gara istri muda aku diceraikan? Mungkin lebih baik aku mendekam di penjara? Oh, tapi bagaimana nanti nasib anak-anakku? Siapa yang merawatnya? Apakah perempuan lain akan menjadi ibu tiri? Bagaimana kalau anak-anakku disia-siakan? Aku tak rela, aku tak rida! Aku tak ikhlas dunia akhirat!

Tumi Sukaesih masih merenung, melamun, berpikir, kadang tersenyum, tertawa, menangis, mengumpat. Sampai seorang wartawan menemuinya, mewawancarai, dan menuliskan kisahnya dalam sebuah cerpen yang sedang Anda baca ini. ***

Kota Ukir, 14 Juli 2021

Kartika Catur Pelita, puluhan cerpennya dimuat di media cetak dan daring. Penggiat komunitas Akademi Menulis Jepara (AMJ). Buku terbarunya: Perempuan yang Ngidam Buah Nangka.

Arsip Cerpen di Indonesia