Sejenak Luna mematung di ruang tengah, hingga kemudian kakinya melangkah secara tiba-tiba dan cepat. Ke ruang depan. Lampunya dimatikan. Tubuhnya menyentuh kaca jendela, matanya mengarah ke timur seberang jalan. Rumah yang berada agak di atas. Mungkinkah Hardi akan datang ke rumah itu setelah menyimpan dulu mobil di tempat yang agak jauh? Mendadak melintas di pelupuk matanya. Pikiran yang aneh. Teramat buruk. Tak biasanya suaminya pergi dini hari meski dengan alasan apa pun. Ini untuk yang pertama kalinya selama mereka hidup bersama sebagai suami istri. Selama mengarungi bahtera rumah tangga.
Mata Luna menatap lekat pada atap rumah itu. Lalu ada yang melintas lagi. Tak jelas. Namun yang melintas terlampau mengganggu pikirannya dan menghalangi pandang matanya. Tampak bayangan samar, berkolaborasi dengan khayalan namun seolah nyata. Sekitar dua puluh menit serasa di alam yang tak disadarinya. Kedua kakinya nyaris tak mampu bertumpu. Dadanya seketika berdegup keras ketika matanya menangkap bayangan tubuh yang sangat ia kenal mendekati rumahnya. Bayangan itu nyaris meloncat ke atas pagar yang tak tinggi. Setelah berada di taman halaman yang tak luas, lalu berjalan berjingkat seperti maling. Langkahnya benar-benar tak terdengar padahal bersepatu. Berjingkat di teras rumah. Beberapa kali. Tak menyadari ada dua pasang mata yang menyaksikan dengan sangat jelas dari dalam rumah.
Dada Luna bergemuruh—ketika raga yang mengintai perempuan yang disangkanya telah tidur pulas di atas pembaringan semula—terlihat meloncat ke luar pagar lalu berjalan hati-hati ke timur ke seberang jalan. Menuju rumah itu. Jelas dalam pelupuk mata Luna. Bukan bayangan. Bukan khayalan atau rekaan. Menaiki tangga. Suara sepatunya mendadak terdengar keras sekali membelah sunyinya malam. Satu dua tiga. Deg, dada Luna berdetak tak karuan. Empat, lima, enam. Luna tak mampu menahan dadanya yang bergemuruh dan saling terjang. Enam tangga berhasil dinaiki. Luna menggigit bibir bawah, berusaha keras menahan yang menggelepar dalam dadanya juga menahan hatinya yang tiba-tiba teriris bagai disayat sembilu. Tubuhnya yang dibalut piyama nilon basah keringat dalam dinginnya udara dini hari yang sebelumnya begitu menggigil. Terasa panas. Tujuh, delapan, sembilan….
Hardi sudah sampai di teras rumah itu. Lampu luar di situ tiba-tiba mati. Gelap. Seperti ada yang memberi simbol dari dalam rumah itu. Barangkali sudah janjian sebelumnya, begitu pikir Luna. Perempuan itu! Luna ingin memekik namun ditahannya. Ya, perempuan itu! Yang hidupnya menyendiri. Perempuan yang usianya dua tahun lebih tua dari Luna. Tak begitu cantik hanya perawakannya menggiurkan lelaki. Fatimah!
Dada Luna tak bisa diajak kompromi. Berubah berpacu bertalu-talu. Lalu naik turun. Sesak. Tiba-tiba tak mampu bernapas seperti habis berlari sejauh ribuan kilometer. Kakinya bergegas melangkah sedikit berjingkat, masuk ke dalam garasi. Mendorong pintunya. Bunyi pintu yang terbuat dari besi kualitas paling bagus, membelah sunyinya dini hari. ***