Marni, cerita penghuni gang itu, dipaksa ayahnya berhenti sekolah, karena mau dinikahkan. Padahal, ketika itu ujian tinggal beberapa bulan lagi. Marni tentu kecewa berat. Berhari-hari dia mengurung diri di kamar. Kadang-kadang terdengar ia menangis. Ibunya berusaha membujuknya, tapi Marni tetap ngambek. Sampai suatu hari ia tiba-tiba keluar kamar, keluar rumah, menyeberang jalan, dan menari-nari di depan warung mi yang memutar lagu-lagu dangdut.
Ketika mereka asyik berbincang, tiba-tiba gadis kecil itu, Marni, berlari kecil ke depan warung mi dan menari lagi seirama lagu dangdut. Dan, tiba-tiba seorang perempuan, mungkin ibunya, mengejarnya dan mencoba menghentikannya.
“Marni, ayo pulang!” ajak perempuan itu sambil memegang lengan anak itu.
“Nggak mau!” jawab Marni sambil terus menari.
“Sudah, Marni. Berhenti. Kayak orang gila saja!”
“Biarin!”
Marni masih menari. Ibunya tak tahu harus bagaimana menghentikan tariannya. Ia kemudian berbalik melangkah menghampiri seorang lelaki kurus yang sedang mengatur parkir di halaman toko swalayan tak jauh dari warung mi itu. Rupanya ia mau mengadukan kelakuan Marni ke bapaknya.
“Pak, itu anakmu joget terus kayak orang gila! Diajak pulang nggak mau,” katanya kepada lelaki tukang parkir itu.
“Wah, kamu gimana? Ngajak pulang anak aja nggak bisa!” kata tukang parkir itu. “Aku lagi repot nih. Yang ngatur parkir nggak ada.”
“Terus gimana, Pak. Kan malu-maluin.”
“Coba kamu bujuk lagi. Paksa dia kalau nggak mau! Seret pulang kalau perlu!”
Perempuan itu diam sesaat lalu balik melangkah ke arah Marni. Dia mencoba membujuk Marni lagi agar berhenti menari dan mau diajak pulang. Tapi, Marni tidak mau. Ia terus manari dan menari.
“Seret saja kalau tak mau!” teriak lelaki tukang parkir itu.
“Tuh, bapakmu marah, Marni. Ayo pulang!” timpal perempuan itu.
“Biarin!” jawab Marni sambil terus menari. Perempuan itu menarik lengan Marni, tapi gadis kecil itu berontak. Tarik-menarik terjadi beberapa saat. Marni lepas, hampir terjatuh.
Perempuan itu akhirnya putus asa, tak bisa mengajak anaknya pulang. Dengan perasaan masygul ia lantas duduk di trotoar menyaksikan anaknya menari.
Lagu-lagu dangdut dari warung mi itu terus membahana dan Marni terus menari dan menari. Akhirnya perempuan itu meninggalkan Marni, menari sendiri, tak henti-henti. ***