Belah Ketupat

Cerpen Teni Ganjar Badruzzaman (Pikiran Rakyat, 07 Mei 2022)

KESYAHDUAN satu Syawal di Kampung Pasir Jati serentak pecah oleh teriakan Rustandi. Lelaki tiga puluh tujuh tahun itu meraung-raung menyebut nama istrinya.

Ia yang baru saja tiba di rumah selepas melaksanakan salat Idulfitri seketika hilang kendali, saat mendapati Lestari terbujur kaku di lantai kamar mandi dengan bagian belakang kepala yang bersimbah darah.

Puluhan butir kepala berdatangan satu per satu memenuhi rumah sederhana itu. Mereka, para tetangga dan sanak saudara yang terpanggil oleh teriakan Rustadi yang menggelegar hingga ke seantero kampung.

“Kenapa?”

“Ada apa?”

Orang-orang yang mengenakan baju terbaiknya di hari raya itu serentak beristigfar dengan wajah yang mendadak berubah tegang. Mereka terpaku sejenak sebelum akhirnya ikut bersimpuh di dekat Rustandi yang histeris. Lelaki berkepala plontos itu terus saja mengguncang-guncang tubuh ringkih Lestari.

“Kita angkat saja dulu Lestari keluar,” usul seseorang yang diaminkan yang lainnya. Dengan entakkan tangan penuh emosi, Rustadi melarang siapa pun menyentuh wanita yang amat dicintainya itu. Sambil berderai air mata, ia lalu memangku Lestari seorang diri.

Pelan, sangat pelan dibaringkannya tubuh Lestari di sofa ruang tamu. Terdengar lirih rintihannya yang meminta sang istri agar membuka mata. Namun, Lestari tetap bergeming. Wanita itu membisu dengan bibir yang membiru. Rustandi meraba tangan, dada, dan wajah Lestari yang pucat pasi. Yang ada hanya dingin di sekujur tubuh itu.

***

TIGA puluh hari sebelum peristiwa nahas itu terjadi, tepatnya di hari pertama bulan Ramadan, langit menurunkan hujan cobaan kepada Rustandi dan Lestari. Pasangan suami istri itu harus menghadapi kenyataan bahwa mimpi mereka untuk menimang buah hati harus terkubur dalam-dalam.

Lestari yang saat itu berjuang antara hidup dan mati di kamar bersalin, harus menerima suratan takdir kalau bayi yang sudah berada di dalam rahimnya selama delapan bulan lebih itu ternyata meninggal di dalam kandungan.

“Tidak apa-apa. Mungkin inilah yang terbaik.” Rustandi berusaha menguatkan Lestari yang amat terpukul atas kejadian itu. Padahal, dirinya sendiri pun sesungguhnya rapuh. Jiwanya begitu hancur, begitu lebur.

Bagaimana tidak? Kehadiran si jabang bayi itu telah ia nanti selama sebelas tahun perkawinan.

Seharusnya, ini menjadi Lebaran pertama mereka yang disemarakkan ingar bingar tangis seorang bayi, juga aroma minyak telon yang menguar di seisi rumah mereka. Dari jauh-jauh hari, Rustandi dan Lestari telah berbunga-bunga membayangkan peran baru mereka sebagai orang tua, yang diyakini akan membuat kehidupan ini menjadi lebih sempurna.

Semua perlengkapan bayi telah mereka persiapkan. Mulai dari pakaiannya, tempat tidur mungil, hingga kamar yang didekor serbabiru langit dengan segala pernak-perniknya.

Maka tak heran, jika kehilangan itu benar-benar membuat jiwa Lestari terguncang. Selepas hari persalinan yang suram itu, hampir dua minggu Lestari dirawat di rumah sakit. Kondisi tubuhnya melemah.

Ia tak mengizinkan sedikit makanan pun masuk ke lambungnya. Itu membuatnya hanya sanggup berbaring di kasur sambil terus berderai air mata. Kadang kala matanya menerawang kosong, seperti lorong gelap tanpa ujung.

Setelah meminta pendapat dari keluarga besar, akhirnya Rustandi memutuskan agar istrinya itu dirawat di rumah saja. Barangkali jika ditemani banyak orang, Lestari akan sedikit terhibur. Meski orangtua mereka sudah tak ada, tapi ada banyak sanak saudara, dan para tetangga yang dengan suka rela bergiliran menemani Lestari di kamarnya setiap hari.

Mereka silih bergantian menyiapkan segala keperluan wanita yang baru ditimpa kemalangan itu. Mulai dari menyiapkan makanan, pakaian, juga menemani Lestari mengobrol agar ia tak selalu tenggelam dalam dunia lamunannya yang kelam.

Hari demi hari silih berganti, kondisi Lestari sedikit ada kemajuan meski masih jauh untuk dikatakan pulih. Nafsu makannya mulai meningkat. Terkadang ia pun ikut tersenyum jika apa yang dibicarakan orang di dekatnya mengundang tawa. Meski begitu, wanita bermata sendu itu tetap enggan keluar dari kamarnya. Ia masih saja membiarkan dirinya didekap kabut duka.

Hingga tempo hari —tepatnya tiga hari sebelum Lebaran— Rustandi yang baru saja tiba di rumah selepas bekerja di kantor kelurahan, membelalakkan mata tak percaya ketika melihat istrinya duduk di meja makan. Itu kali pertama Lestari keluar dari kamar. Di hadapannya, di atas meja makan, terserak janur daun kelapa yang masih muda berwarna putih ke kuning-kuningan.

“Aku ingin menyibukkan diri dengan menyiapkan keperluan Lebaran,” jawab Lestari saat Rustandi bertanya apa yang sedang ia lakukan di ruang makan.

Rustandi menghela napas panjang. Ia merasa menemukan lautan kelegaan. Senyum yang belakangan menghilang, akhirnya kembali merekah di bibirnya. Kekhawatirannya atas kondisi Lestari yang memburuk semenjak hari yang nahas itu, perlahan mulai mengurai.

Lekat-lekat, mata bulat Rustandi menatap jari-jemari istrinya yang cekatan menganyam janur kelapa hingga membentuk cangkang ketupat. Sudah tidak diragukan lagi kemahiran Lestari dalam melakukan hal itu, sebab hampir setiap tahun ia membuat ketupat Lebaran sendiri meski banyak orang menjual yang sudah jadi.

“Oya,” Rustandi beranjak dari kursi, lalu berjalan menuju bak cuci piring yang terletak di samping kompor. “Yang di keresek hitam ini apa, Dek?” lanjutnya kemudian.

“Daging sapi, ayam, kentang, sama rempah-rempah,” jawab Lestari tanpa memalingkan pandangan dari anyaman janur yang terbelit di jari-jarinya.

“Kamu belanja?” Manik mata Rustandi kembali melebar sempurna. Ia tak mengira istrinya sudah mau pergi keluar rumah untuk berbelanja. Sungguh perkembangan yang luar biasa.

“Iya!” Lestari mengerutkan dahi. “Kenapa?”

“Tak apa.” Wajah Rustadi berbinar terang. Ia tak bisa mengendalikan gelegak rasa bahagianya. “Aku sudah tak sabar mencicipi rendang dan opor ayam terenak di seluruh dunia.”

Lestari tersipu. Ucapan suaminya itu berhasil membuat pipinya memerah semu.

Maka tiga hari ke belakang, sibuklah Lestari menyiapkan segala keperluan hari raya. Wanita itu melakukan rutinitas wajib yang sudah biasa dilakukannya setiap kali menyambut Lebaran. Seharian ia memasak kentang mustofa, rendang, juga opor ayam guna melengkapi ketupat bikinannya. Aroma bumbu yang ditumis bersama aneka rempah menguar, menggelitik hidung siapa pun yang menghidunya. Tak lupa Lestari juga membuat bolu kijing yang legit, dan saroja yang renyah gurih kesukaan suaminya.

Entah mendapat energi dari mana, Lestari begitu bersemangat mengerjakan semua itu. Seolah ia ingin menebus waktunya yang kemarin terbuang sia-sia akibat badai dukanya. Atau barang kali, wanita itu sedang berusaha mengeringkan luka atas rasa kecewa yang sempat mendera. Bahkan tadi pagi, jika bukan karena darah nifasnya yang masih menetes, ia mengatakan ingin ikut suaminya salat Idulfitri di masjid.

Sungguh. Semua itu telah menumbuhkan tunas harapan baru di jiwa Rustandi. Lelaki itu begitu yakin, setelah ini, kehidupan mereka akan kembali normal seperti dulu kala.

Perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, mereka akan menemukan keikhlasan atas kepergian buah hati yang bahkan belum sempat membuka mata di dunia. Dan setelah itu, bersama-sama, ia dan istrinya akan semakin kuat menghadapi cobaan apa pun yang kelak akan menerjang kehidupan mereka.

Ya! Setidaknya sampai tiga puluh menit lalu, saat Rustadi membuka pintu depan rumahnya sepulang dari masjid, gelembung-gelembung harapan itu masih terus memenuhi benaknya. Sebelum akhirnya nestapa itu terjadi. Babak kedua dari rangkaian tragedi kehilangan yang mau tak mau harus Rustandi hadapi, di hari raya ini. ***

.

.

Teni Ganjar Badruzzaman, lahir di Ciamis, 1988. Ibu rumah tangga yang gemar menulis dan membaca cerita. Cerpen dan cerita anaknya dimuat di beberapa antologi bersama, dan media massa.

.
Belah Ketupat. Belah Ketupat. Belah Ketupat. Belah Ketupat. Belah Ketupat.
Arsip Cerpen di Indonesia