TOYA tahu, dirinya tak mungkin bertahan lebih lama lagi di kampung yang murung dan terkurung. Sepanjang jauh mata memandang, ia hanya menatap hampa rumah-rumah megah berdebu dan lengang. Orang-orang yang dulu biasanya duduk di teras-teras rumah pun tak terlihat lagi. Surau tua yang biasanya selalu ramai, baik oleh anak-anak maupun oleh anak-anak muda, kini lengang, keberadaannya terimpit oleh rumah-rumah yang, dalam beberapa tahun belakangan, terus dibangun meski pada akhirnya kemudian ditinggalkan.
Sejenak Toya berpaling, kini pandangannya terarah ke arah surau yang lengang, sayu dan tak berpenghuni. Satu-satunya lelaki yang setia berada di surau itu adalah Badru, teman sepermainannya dulu. Badru terpaksa mengurus surau selepas bapak dan ibunya diminta pergi dan menjaga toko kelontong oleh Toya, karena utang berjibun kepada Mattalwan yang mempermalukannya di depan para jemaahnya.
Ya, hanyalah Badru satu-satunya orang yang bisa dikunjungi dan diajak ngobrol di malam-malam sunyi. Badru dan Toya kerap duduk di beranda surau. Keduanya kerap menghabiskan waktu sembari memandangi rumah-rumah megah tak berpenghuni. Sesekali di antara Toya dan Badru berkelakar, “Surau ini akan lebih bagus kalau dipasangi lampu yang berwarna-warni milik Mattalwan.” Toya menunjuk rumah yang paling megah di antara rumah-rumah yang lain.
Raut Badru seketika murung. Toya tahu penyebab temannya yang tiba-tiba murung, tapi ia tak peduli. Ia terus berkelekar. “Bagaimana kalau sound milik si rentenir kita curi dan bawa ke sini, agar suaramu ketika mengaji terdengar lebih merdu?” seloroh Toya sambil menunjuk rumah Mattalwan.
“Tahu apa kamu tentang pengajian. Heh?” Badru berkacak pinggang. Raut mukanya merah. Toya menatapnya dengan tanpa beban.
“Dengan sound system itu suaramu akan terdengar lebih merdu, jangkauannya akan luas. Orang-orang sebelah akan tahu kalau surau kita masih berpenghuni.”
“Urus saja urusanmu.” Badru berpaling. Toya tertawa lalu beranjak, meninggalkan surau dan Badru yang galau.
Toya terus berjalan menyusuri jalan yang lengang. Sesekali ia menggoyang-goyangkan pinggangnya, bersiul meniru suara irama nyanyian dari dalam rumah yang dilintasinya.
Di sepanjang jalan, kenangan di masa lalu memenuhi pikiran Toya, tak terkecuali ingatan dan kenangan kepada wajah murka Mattalwan, rentenir yang membuat bapak Badru murka dan malu saat utangnya ditagih di depan surau selepas memimpin shalat berjemaah. Toya yang ketika itu diam-diam menyaksikan merasa sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh rentenir Mattalwan.
Toya lari dan merangsek masuk ke rumah Mattalwan, diambilnya barang-barang berharga milik si rentenir. Barang-barang berharga itu dijualnya di kota. Setelah mengambil sebagian dari hasil penjualan ia menyerahkan uang dari hasil menjual barang curian itu kepada Badru yang, ketika itu masih mondok di salah satu pesantren di kota. Seusai menyerahkan uang kepada Badru, Toya langsung pulang, menemui kedua orangtua Badru dan memintanya segera berangkat ke Jakarta.
“Paman, saya melihat Mattalwan mendatangi kantor polisi.” Toya meyakinkan, “sebaiknya Paman ikut saya sebelum Mattalwan datang kemari menagih utang.” Ayah Badru tersentak. “Paman tenang, walaupun saya nakal, saya tidak akan mencelakai Paman. Percaya.” Katanya meyakinkan saat melihat raut bapak Badru, “Paman ikut teman saya, kerja di Jakarta.”
Ayah Badru yang semula ragu-ragu tak punya pilihan. Matanya merah. Ia tak bisa menganggap enteng laporan Toya. “Oh, saya akan mendatangi makam leluhur dulu, ke kuburan kakek Badrus dulu.”
“Tak ada waktu, Paman. Mattalwan dan rombongan polisi keburu datang, menangkap dan memenjarakan Paman.” Toya mengagumi kemampuan dirinya sendiri. Entah dari mana pemikiran bahwa Mattalwan akan datang membawa polisi dan hendak menangkap ayah Badru.
Tak mudah bagi orang kampung Toya untuk bepergian jauh, apalagi harus keluar kota. Ada beberapa ritual yang harus dilakukan sebelum seseorang bepergian jauh. Di antaranya, mencari hari baik, jam berapa ia harus sudah tiba ditujuan, dan dari arah mana ia mesti memasuki tempat tinggalnya, jenis barang apa yang harus dibawa dan ditaburkan ketika tiba di tempat tujuan. Tanpa itu semua mereka akan memilih tidak pergi daripada celaka di tempat perantauan.
“Bagaimana dengan Badru?”
“Paman percaya. Badru santri, kebutuhannya dijamin Yang Kuasa. Setelah Paman menjaga toko kelontong, Paman akan mengiriminya uang dengan jumlah lebih dari sebelumnya.” Sekali lagi Toya membanggakan kemampuan dirinya. Ia bersorak girang dalam hatinya.
Selepas memberangkatkan kedua orangtua Badru, Toya tak lagi tinggal di kampungnya. Ia memilih merantau ke Surabaya. Ia tahu Mattalwan tak akan tinggal diam setelah berang-barangnya dicuri.
Hubungan Toya dan kedua orangtua Badru tak lebih dari hubungan guru dan santri, murid. Sebagai santri, Toya tak terima ketika ayah Badru, yang mengajarinya mengaji di surau dipermalukan di depan jemaahnya.
***
Toya memutuskan pulang ke kampung setelah tersiar kabar bahwa orang-orang kampungnya lebih memilih merantau, menjaga toko kelontong ketimbang tinggal di kampung, tak terkecuali Mattalwan. Sejak orang-orang kampungnya merantau dan sukses dengan membuka toko kelontong, orang-orang yang sebelumnya hanya berkutat di kampung memilih menyusul, lebih-lebih ketika melihat orang-orang yang lebih dulu merantau dan sukses di Jakarta.
Demikian juga dengan kedua orangtua Badru. Ia tak mau lagi pulang ke kampung, mengajari anak-anak mengaji. Ia merasa beruntung memiliki Badru yang pernah menjadi santri sehingga bisa menjaga dan menjalankan wasiat kakek Badru: merawat surau dan mengajari anak-anak kampung mengaji. Meski kenyataannya, saat ini Badru lebih disibukkan melayani orang-orang yang dengan sengaja pulang dari Jakarta dan meminta air penglaris kepadanya ketimbang mengirimkan anak-anaknya untuk diajari mengaji oleh Badru.
Toya sendiri tak tahu pasti sejak kapan Badru pulang dari pesantren dan memilih melayani orang-orang yang datang meminta air penglaris ketimbang mengajari anak-anak mengaji. Ia juga heran kenapa Badru yang masih muda memilih tinggal di kampung dan menjaga surau tua dan berdebu ketimbang menjaga toko kelontong di Jakarta. Tapi dengan adanya Badru di surau, Toya berpikir dan sekaligus merasa terhibur, setidaknya ia tidak merasa sendirian di kampung terkurung.
***
Tak ada kelebat bayangan orang di kampung murung terkurung itu. Tak terdengar lagi suara senandung zikiran dari surau ketika malam menjelang. Hanya rumah-rumah megah dengan lampu-lampu warna-warni menjadi pemandangan. Rumah-rumah itu akan dihuni oleh pemiliknya saat pulang dan dalam kondisi tak sehat.
Ya, mereka akan pulang dari rantau dan menghuni rumahnya ketika dalam keadaan sakit. Itulah sebab sebagian orang menyebut rumah-rumah megah di kampungnya sebagai rumah sakit.
Satu-satunya orang yang masih menyalakan mata di malam hari adalah Badru. Ia tampak lebih sehat meski dahinya berkerut. Usianya yang masih muda bertolak belakang dengan raut wajahnya yang tampak terlihat jauh lebih tua.
Toya tak segera menemui Badru di surau. Selama beberapa hari Toya hanya mengamati diam-diam kegiatan dan keberadaan Badru di surau itu. Sekali waktu, beberapa orang, termasuk Mattalwan, datang dan duduk melingkar di surau. Toya agak ragu-ragu untuk keluar mendatangi surau.
Toya kaget saat melihat Badru keluar dari mihrab dengan membawa kendi. Toya yang sejak mula hanya mengamatinya semakin penasaran, akhirnya mendatangi surau. Melihat kehadiran Toya yang tiba-tiba, orang-orang pun tersentak dan kaget. Mattalwan segera berdiri, menghardik dan menghadang Toya.
“Bajingan.” Bentak Mattalwan. Yang lain beranjak dan menarik tangan Mattalwan.
Toya tersenyum. Ia tidak peduli dengan Mattalwan, ia terus memperhatikan Badru yang menyemburkan air dari dalam kendi ke setiap botol di depannya. Badru tak menanggapi pertanyaan Toya. Demikian juga orang-orang yang duduk melingkar. Mereka duduk dengan penuh takzim. Menanti Badru menuangkan air penglaris ke dalam botol yang dibawa oleh mereka yang datang.
Mereka yang datang menemui Badru tak hanya meminta air penglaris, tapi juga bertanya macam-macam soal kepadanya. Apabila di antara mereka bertanya dan meminta aji-aji keamanan toko, dengan sigap Badru akan menyobek kertas rokok dan menuliskan mantra dengan tulisan-tulisan arab pigon, kemudian ia meminta si peminta untuk menaruhnya di depan pintu masuk ke toko.
Toya hanya melongo melihat kesibukan Badru melayani tamu-tamunya. Selain meminta air penglaris, di antara mereka juga ada yang berkonsultasi tentang bermacam-macam soal, tak terkecuali tentang jodoh.
“Kamu jadi dukun?” tanya Toya.
Badru berpaling dengan wajah merah. Toya berlalu sambil menahan tawa. ***