Cerpen Risda Nur Widia (Kedaulatan Rakyat, 24 Juli 2020)

PENYAIR tua itu seperti diantarkan oleh angin ketika datang ke rumahku. Tiba-tiba, ia mengetuk pintu dan berdiri di depan rumah. Aku terkejut dengan kehadirannya. Apalagi selama tiga bulan terakhir, aku mendengar ia sedang tidak sehat.
“Pak Sapardi?” sahutku.
“Aku kangen main ke rumahmu,” balasnya. “Aku boleh main, kan?”
Aku dan Pak Sapardi berteman cukup lama. Aku pertama kali bertemu Pak Sapardi pada acara diskusi di universitas tempatnya mengajar sepuluh tahun lalu. Sebagai orang yang lebih tua dariku, ia sama sekali tidak segan untuk mendengarkan dan berdiskusi bersama. Apalagi setelah aku menjadi redaktur kolom budaya harian lokal di Jakarta, aku dan Pak Sapardi acap berdiskusi.
Aku segera mengajaknya masuk. Ia santai duduk di sofa rumah. Aku kemudian menawarkan minuman kepadanya. Seperti biasa, Pak Sapardi meminta teh tawar yang acap dibuatkan oleh istrinya. Aku lantas menyuruh istriku membuatkannya pula.
“Kok tidak memberikan kabar dulu kalau mau main,” tandasku kepadanya.
“Aku sengaja kok,” jawabnya tenang. “Sudah lama aku tidak main dan berbicara denganmu.”
“Tubuh Pak Sapardi sudah lebih sehat?” Aku bertanya.
“Ya, sudah lebih baik,” jawabnya. “Orang tua itu mudah lemas. Tapi ini sudah jauh lebih enak daripada kemarin.”
“Tapi walau Pak Sapardi sudah tua, hasrat berkarya masih muda,” jawabku sedikit bercanda. “Buku Bapak semakin banyak di toko buku.”
“Aku ingin menulis hingga maut datang,” balasnya tersenyum. “Doakan aku agar dapat menulis hingga maut menjemput, ya.”
Aku mengamati air muka Pak Sapardi. Wajahnya tampak segar. Aku tidak menemukan jejak apapun mengenai sifat loyo dari tubuh tua yang sering digembor-gemborkan oleh orang-orang seumurannya. Aku bahkan tidak melihat sejengkal wajah seseorang yang baru saja dirawat di rumah sakit.
“Bapak sedang menulis buku apa?” tanyaku lagi. “Buku puisi, cerpen, novel, kritik sastra, atau semuanya?”
Pak Sapardi tertawa mendengarkan pertanyaanku. Gelak tawanya cukup kencang, hingga dapat merontokkan tulang di tubuh kurusnya.
“Mana mungkin aku bisa menulis semua jenis buku itu,” pekiknya. “Tapi aku ke sini memang ingin menunjukkan empat puisi baruku. Semoga kau mau membacanya.”
“Aku jelas tidak bisa menolak, Pak.” Aku antusias. “Siapa yang tidak ingin menjadi pembaca pertama karya Pak Sapardi?”
“Kau selalu rendah hati, Mas,” ucapnya.
“Aku belajar hal itu dari Bapak,” timpalku.
Pak Sapardi menyerahkan puisi yang sudah ditulisnya. Aku membacanya dengan tekun. Pada setiap puisi yang aku baca, seperti puisi-puisinya yang ditulis pada masa tua, beliau lebih banyak menulis mengenai kematian.
“Bagus, Pak,” tanggapku apa adanya. “Bila boleh aku ingin memuatnya untuk edisi Minggu.”
“Kamu beneran mau memuatnya?” tanyanya terkejut.
“Dengan senang hati, Pak,” jawabku menyeringai.
“Ah, ya, sebuah puisi obituarium dari penyair tua.”
“Obituarium?”
“Lupakan!”
Pak Sapardi akhirnya menyetujui kalau empat puisinya akan dimuat di lembar kebudayaan koran. Aku begitu tidak sabar menayangkan puisi dari penyair hebat yang sudah menjadi idola sejak muda itu.
***
Dua hari kemudian, pada hari minggu, ketika telah menayangkan puisinya di lembar koran, aku mendengar kabar duka itu datang. Istriku mengatakan kalau Pak Sapardi baru saja meninggal semalam di rumah sakit. Aku yang mendengarnya jelas tidak percaya. Apalagi dua hari lalu, ia datang ke rumah.
“Kau jangan bercanda,” kataku.
“Aku juga tidak percaya,” balas istriku.
Aku segera menanyakan kabar itu kepada teman-teman penulis lainnya. Aku lantas menemukan jawaban yang sama seperti apa yang dikatakan oleh istriku. Aku bahkan mendapatkan kabar kalau sejak lima hari lalu, ia sudah koma dan diduga akan lekas berpulang.
“Benar,” tandasku pening. “Pak Sapardi semalam meninggal.”
Aku terduduk di ruang tamu dengan pikiran bingung. Aku sulit memercayai apa yang terjadi. Apalagi dua hari lalu, ia datang ke rumah dengan wajah sehat. Tapi ketika mendapati kabar kalau pada hari yang sama ia sedang koma, aku sulit mempercayainya. Di tengah perasaanku yang kacau, aku berpikir, apa ini yang ia maksud ingin terus menulis hingga maut menjemputnya? ❑-o