Cerpen Ranang Aji SP (Republika, 14 Agustus 2022)
HAJI Kodrin menatap haru pria berkulit hitam yang berdiri di depan mimbar Mushala At-Taqwa. Pria muda itu tengah melantunkan azan Ashar. Suaranya keras dan merdu. Haji Kodrin menjadi gelisah oleh tekanan emosinya sendiri. Ia tiba-tiba merasa tak sabar untuk segera mengabarkan kepada istrinya, Hajah Aliyah. Sebuah kabar yang baginya menyenangkan sekaligus ngelehke [1].
Pemuda itu sudah lebih dari seminggu rajin datang di mushala untuk berazan. Awalnya Haji Kodrin curiga, tetapi setelah menyaksikan berkali-kali, ia menjadi hakul yakin bahwa pemuda itu memang telah mendapatkan hidayah.
Ia perlu mengabarkan berita baik ini kepada istrinya dan semua tetangganya bahwa prasangka buruk mereka selama ini salah. Pemuda itu mungkin dulu memang pernah berlaku nista terhadap kehidupannya dan banyak orang. Oleh sebab itu, pantas menempati dasar neraka paling dasar. Mengingat seluruh perbuatannya tak mencerminkan setitik pun cahaya kesalehan pada waktu-waktu yang lalu.
Bahkan ia masih sangat ingat, beberapa tahun lalu, pembantu mereka, yang dipanggil Sylvia, pernah menjadi korbannya. Tak hanya itu, seluruh barangnya yang lumayan berharga, seperti HP dan cincin bersepuh emas delapan belas karat dirampas pemuda yang dikutuk oleh segenap makhluk di bumi dan langit itu. Ketika itu, pemuda itu bersikeras mengaku pada polisi bahwa Syvia adalah pacarnya.
“Saya tak memerkosa, Pak,” katanya. Ia juga ngotot mengaku semua barang yang ia jual sudah dengan kesepakatan. Saat itu Haji Kodrin menjadi bingung. Ia berada di antara percaya dan tidak, tapi pada akhirnya percaya bahwa si pemuda bejat itu memang bersalah.
Ketika pemuda itu telah keluar dari penjara kota, karena kasusnya itu—tak satu pun orang di kampung ini bisa memercayainya lagi. Ia tak pernah ditegur. Sebagian malas, sebagian yang lain takut. Tapi, Haji Kodrin berbeda. Ia melihat dengan mata sendiri bagaimana pemuda itu banyak berubah akhir-akhir ini. Pemuda itu mulai rajin bekerja membantu toko besi milik Pak Waluyo. Bahkan, setelah itu ia juga rajin shalat di mushala. “Tuhan sungguh Maha Penyayang,” katanya. Manusia tanpa masa depan itu bahkan menjadi saleh setelah dipenjara.
“Allah adalah Maha Membolak-balikkan hati manusia,” katanya kepada istrinya yang tak sepakat ia bersikap lemah kepada pemuda itu. Menurutnya, ia tak pantas menghukumnya seperti yang lain. Mata Haji Kodrin berlinang mengingatnya.
Maka, sebelum iqamah dikumandangkan, Haji Kodrin dengan penuh perasaan memeluk pria muda yang pernah dikutuk oleh segenap warga di kampungnya itu. Sebuah pelukan tulus yang dibasahi oleh air mata keharuan. Tak ada jamaah lain di mushala saat itu. Hanya mereka berdua. Seusai shalat berjamaah, Haji Kodrin berpesan kepadanya, agar waktu Mahgrib nanti bisa melantunkan azan kembali.
“Biar orang-orang pada tahu kamu sekarang,” bisik Haji Kodrin. Pemuda itu tersenyum dan mengiyakan dengan raut muka yang sopan.
Menjelang Maghrib, Haji Kodrin pun datang di mushala bersama istrinya lebih awal dari biasanya. Ia ingin istrinya menyaksikan langsung betapa mulianya pemuda yang dulu disangkanya sebagai sampah neraka yang temangsang [2] di muka bumi ini. Mereka duduk di serambi mushala menunggu azan dikumandangkan oleh pemuda itu.
Namun, setelah sekian lama, hingga waktu shalat Maghrib tiba, pemuda itu tak kunjung ada. Istrinya gelisah dan mulai bertanya sinis mengenai keberadaan pemuda itu. Haji Kodrin dengan roman yang biasa menjawab istrinya dengan nada lugas, mungkin baru ada urusan di rumahnya. Tetapi, karena pemuda itu tetap tak kunjung tiba, Haji Kodrin pun memutuskan untuk melantunkan azan sendiri sembari tetap berharap pemuda mantan preman itu datang. Ketika ia hendak menyiapkan peranti azan seperti tape, mikrofon, dan amplifier—matanya tak menemukan benda-benda itu di tempatnya.
Karena curiga, ia menunda azan Maghribnya dan mengecek seluruh barangnya. Selesai memeriksa, wajahnya pucat karena kaget dan marah. Setelah itu ia bergegas pulang dan berkata kepada istrinya, “Benar kamu, Mak. Dia memang bajingan biadab yang tak ada batasnya. Bajingan itu memang pantas dikutuk oleh segenap makhluk Tuhan yang ada di langit dan bumi, hingga akhir zaman.”
Istri Haji Kodrin terkejut, tapi kemudian tersenyum penuh kemenangan mendengar suaminya mulai mengutuk.
***
Sebulan kemudian, ketika langit tengah hari berkilau panas, Haji Kodrin memarkir motornya dan berjalan-jalan di pasar. Di tengah keramaian orang-orang berjalan dan menawar dagangan, ia melihat pemuda itu tengah makan di sebuah warung Padang kaki lima. Langkahnya terhenti dan hatinya diserang oleh demam yang membuat seluruh tubuhnya gemetaran.
Namun, ia merasa ragu dan kemudian membatalkan niatnya untuk meneriaki maling jahanam itu. Ia merasa tak tega dengan pemuda tersesat itu. Ia masih percaya bahwa pemuda itu masih punya harapan untuk berubah. Ia ingat suara azan pemuda itu merdu. Baginya suara merdu pemuda itu bisa menjadi penanda bahwa ia sebenarnya adalah orang yang baik yang bisa saja berubah pada saatnya. Tak ada orang yang boleh mendakwa manusia. Menilai dari sementara waktu saja. “Allah pasti akan membimbingnya.” Demikian hati Haji Kodrin bicara.
Setelah itu Haji Kodrin memutuskan meneruskan langkahnya dan mengabaikannya. Menjauh dari tempat pemuda itu berada. Tapi, sepuluh menit kemudian tiba-tiba ia mendengar suara memanggilnya. Pemuda itu tampak mengejarnya. Diliputi perasaan yang penasaran, Haji Kodrin menghentikan langkahnya. Ia terkejut dan berpikir betapa beraninya pemuda itu menemuinya saat ia menjadi buronan orang sekampungnya.
“Assalamualaikum, Pak,” salam pemuda itu dengan wajah penuh senyum ramah.
“Walaikumsalam, berani sekali kau menemuiku.”
Pemuda itu menjawab dengan setengah gugup. Dengan suara yang berat, pemuda itu meminta maaf dan menjelaskan bahwa semua yang ia lakukan memang salah, tapi ia terdesak keadaan. Haji Kodrin menatap muka hitam pemuda itu dengan penuh selidik dan kemudian memperingatkan. Katanya, jika tak kasihan, pasti ia sudah memanggil polisi atas kelakuannya. Pemuda itu mengangguk dan kemudian berusaha menjelaskan sekali lagi bahwa dirinya mengambil barang-barang itu karena terpaksa untuk membayar utang.
“Tak ada orang yang bisa mengampunimu di kampung,” kata Haji Kodrin. “Kecuali aku. Tapi alasanmu sungguh tak bisa dipercaya. Siapa yang tidak terdesak oleh kebutuhan.” Pemuda itu hanya diam mendengarkan. Haji Kodrin terus berbicara, memberinya banyak nasihat untuk menyadarkan pemuda itu.
“Benar, Pak Kaji, saya menyesal dan itu karena terdesak kebutuhan. Saya berharap Allah juga mengampuni saya,” ulang pemuda itu.
Haji Kodrin menghela napasnya. Setelah termenung sejenak dan mengerahkan diri untuk berbuat kebaikan seperti tuntunan agama, ia kemudian mengajak pemuda yang ia harapkan berubah itu berjalan menuju warung untuk berbelanja. Selain membelikan beberapa kebutuhan yang dipesankan oleh istrinya, ia juga membelikan beberapa rokok kretek untuk pemuda itu.
Pemuda itu kemudian menguntit di belakang Haji Kodrin seperti anak yang patuh. Hingga kemudian, Haji Kodrin menyalakan motornya di parkiran. Sebelum Haji Kodrin sempat mengatakan perpisahan, pemuda itu dengan tergesa mengatakan bahwa dirinya akan ke tempat panti asuhan, tempat ia bekerja sekarang. Haji Kodrin agak terkejut mendengar pemuda itu bekerja di panti asuhan. Katanya, “Bagus kamu bekerja.”
Pemuda itu dengan penuh kesopanan mengatakan anak-anak akan sangat bahagia bila Haji Kodrin bersedia mampir di panti asuhan. Haji Kodrin berpikir sebentar. Tiba-tiba seluruh hatinya seolah didorong-dorong untuk melakukan kebaikan yang lebih besar. Tak berapa lama, Haji Kodrin pun mengatakan, “Ya sudah, aku ke sana, sekalian aku antar kamu.” Pemuda itu tertawa senang.
Dalam setengah jam, Haji Kodrin sampai di sebuah rumah panti asuhan yang bergedung dan berpagar besar. Ketika sampai di depan gerbang, pemuda itu turun dan meminta Haji Kodrin masuk ke dalam.
“Biar saya parkirkan motor Pak Kaji. Bapak ke aula depan itu saja, nanti saya perkenalkan pengasuhnya,” kata pemuda itu.
Haji Kodrin turun dari motor dan menyerahkan kunci motornya dan berjalan ke aula. Hatinya merasa puas berada di tempat anak-anak yang dipenuhi berkah dari langit. Di aula ia bertemu dengan seorang perempuan setengah baya yang menyambut dan bertanya kepadanya. Haji Kodrin kemudian bercerita tentang pemuda itu dan tujuannya datang. Tapi, perempuan itu memperlihatkan wajah bingung.
“Siapa dia, Pak?”
Pertanyaan itu tiba-tiba seperti seribu jarum yang menusuk-nusuk hati dan jantungnya. Setelah menjelaskan sekali lagi tentang pemuda itu, Haji Kodrin mulai yakin bahwa pemuda yang ia percayai akan berubah baik itu memang tak pernah dikenal oleh orang panti asuhan. Sejenak kemudian, ia mulai ragu dan diserang rasa cemas yang membuat tubuhnya lemas. Bergegas ia menuju parkiran untuk menyusul pemuda itu. Dan benar saja, ia tak menemukan pemuda dan motornya. ***
.
.
Catatan:
[1] ngelehke = mengungkit seperti: Nah, bener kan.
[2] temangsang = tersangkut, tersangsang
.
.
Ranang Aji SP menulis fiksi dan nonfiksi. Karya-karyanya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Dalang Publishing LLC USA menerjemahkan dua cerpennya ke dalam bahasa Inggris dan naskahnya berjudul “Sepotong Senja untuk Pacarku: Antara Sastra Modern dan Pacamodern, Makna dan Jejak Terpengaruhannya” menjadi nomine dalam Sayembara Kritik Sastra 2020 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemen dikbud. Buku kumpulan cerpennya Mitoni Terakhir diterbitkan penerbit Nyala (2021).
.
Haji Kodrin dan Kebaikannya. Haji Kodrin dan Kebaikannya . Haji Kodrin dan Kebaikannya . Haji Kodrin dan Kebaikannya .