Puisi-puisi Marsten L. Tarigan (Koran Tempo, 23-24 Juni 2018)

Ercibal, Meletakkan Sekapur Sirih
Lihatlah kumpulan kami ini, diri di atas tanah
yang dikeramatkan, di ladang-ladang penghasil
penghidupan bagi kami, di lembah perbukitan
Tanah Karo. Tepat di pusara jasadmu tertanam,
atau di tempat yang tak ada selisih sedikit pun
tersebab kami dapat celaka, atau di alir air sungai
belah dua yang melunturkan nista kami. Apalagi
yang belum dikembalikan bagimu ya Nini-Bulang
leluhur kami, ya puja kami Dibata Kaci-kaci?
Kertak, maka bunyi patah ranting dari sunyi
tangan kami, telah menjadi tanda mula-mula
memanggilmu ya Nini-Bulang. Sekali lagi kami
mendekatkanmu dengan jasadmu ditimbun
gelimun tanah. Ujung seranting itu telah kami
belah dua, sekiranya sepanjang tiga buku jari.
Lantas kami selipkan selembar belo cawir, sirih
tak bercacat-cela dari pangkal hingga ujung,
bersela rapi sulur tulang daunnya. Agar jauhlah
kami dari perkara yang menjepit dan belenggu.
Kertak bunyi patah kedua, sebagai batang kayu
mati, seranting itu turut dibelah pula. Kemudian
kami cicip sehisap-dua hisap bakaran linting
bakau, barangkali tak lebih panjang dari sekali
hembus napas dan asap dari mulut, kami selipkan
juga pada belah ranting itu. Maka terseretlah waktu
yang kaku, bertemulah jasad dengan roh dalam
himpun hormat kami padamu, ya leluhur kami.
Beralas dua ndiru kami letakkan cibal-cibalen
bagimu: lemang, tasak telu, arsik nurung mas,
dan sebahagian lelah panen kami. Tertancaplah
pada tanah ini ranting pengepit sesembahan sirih
dan bakau. Lewat cakap lumat Guru Si Meteh
Wari Telu Puluh kami sampaikan pengharapan
yang bubung bergerak menyertai wangian asap
bakau. Kami ungkapkan rahasia yang sama
ganjilnya dengan sihir yang merayap di hijau
permukaan daun sirih. Kembalikanlah pada
Dibata, menjadilah tambar malem bagi kami.
(Kandang Singa, 2018)
Guru Nambari Memanggil Tendi yang Hilang
“Mari-mari… Mari kam mulih ku rumah, tendi…”,
sebait nyanyian pengantar, memanggil jiwa yang
lepas dari tubuh, Guru Nambari masih juga terus
menari-nari.
Duduklah ia di lapik tikar, di hadapan si sakit
linglung yang ganjil. Guru Nambari bicara, kata-
kata yang tipis seperti mulai rabit dari anyaman
bahasa. Rung-rung-kerahung, kerongkongannya
mulai menggerung. Sirih penggulung gambir,
kapur, pinang, masih terus dikunyah, semburan
liur merah sesekali melanting dari sela bibirnya.
Kata-kata tak lagi terbaca bunyinya, barangkali
juga aksara telah menimbus makna dan tak
sampai-sampai pada selesai.
Bulung-bulung si melias gelar, sebelas jenis
daun melampar di hutan-hutan, telah dipetik-
pilih sebagai padan sesaji yang mengikat janji.
Maka diletakkan daun-daun itu dalam keranjang
yang akan ditudungkan di atas kepala si sakit.
Maka bergetarlah, agar percaya kami bahwa
tendi si sakit telah dibawa roh-roh hutan. Telah
berapa lama waktu terseret demi kehilangan
orang-orang sejak menyebar terang matahari.
Rung-rung-kerahung, kerongkong Guru
Nambari masih berbunyi melampaui bahasa
sambil menebar beras piher di sekitar. Sementara
di jauh sana, gerantang suara rotan-rotan turut
menyahut dari arah gelap hutan tak keruan.
Tendi belum juga kembali, si sakit masih limbung,
sedang Guru Nambari masih terus menari-nari,
sambung-menyambung dengan nyanyi-nyanyi
yang mengajak tendi kembali ke asalnya.
(Kandang Singa, 2018)