Kembang Api Rama

Oleh An Purbalien (Suara Merdeka, 24 Juni 2018)

Kembang Api Rama ilustrasi Suara Merdeka.jpg
Kembang Api Rama ilustrasi Suara Merdeka

“Ma, kembang api ini mau aku nyalakan sama Dito,” kata Rama saat merapikan barang-barang yang akan dibawa mudik ke kampung halaman ayahnya.

Dua kotak kembang api panjang. Awalnya kembang api itu ada enam bungkus, tapi diringkasnya menjadi dua bungkus saja. Rama tersenyum membayangkan wajah suka cita Dito. Adik sepupunya itu sangat menggemaskan. Saat berjumpa dua tahun lalu dia masih duduk di bangku TK kelas nol besar. Berarti sekarang Dito sudah kelas dua SD.

***

Lebaran tiba. Suara bedug dan gema takbir terdengar bersahutan dari masjid dan mushala. Semua berbahagia. Berkumpul dengan sanak keluarga, menikmati ketupat dan opor ayam yang sudah dihidangkan sejak buka puasa.

“Dito, ayo kita main kembang api!” ajak Rama.

“Ayo!” jawab Dito bersemangat.

Kembang api Rama dan Dito baru saja menyala. Saat tiba-tiba terdengar letusan diiringi nyala warna-warni. Bulatan yang meluncur ke angkasa itu berganti-ganti warna, hijau, kuning juga merah.

“Ah, aku mau lihat kembang api itu saja.” Dito membuang kembang api yang masih menyala. Dia berlari mencari sumber kembang api aneka warna yang meledak di angkasa. Rama sangat sedih. Ada kecewa karena Rama mengira Dito akan senang mendapat hadiah kembang api dan bermain bersamanya. Tapi ternyata ekspresi Dito biasa saja.

Saat Rama termenung, seorang anak kecil bertelanjang dada mendekat dan memungut kembang api yang mati setelah dilemparkan Dito.

“Kamu mau?” tanya Rama yang disambut anggukan mantap.

Rama menyalakan sebuah kembang api lagi. Tapi saat memberikannya kepada anak kecil itu, dia takut-takut menerimanya.

“Tenang, ini nggak panas kok,” bujuk Rama. Tapi sorot mata anak itu menunjukkan keraguan.

“Tunggu sebentar ya.” Rama pergi mengambil gedebog pisang dan membuang daunnya. Kemudian kawat kembang api itu ditancapkan, setelah itu Rama nyalakan lagi kembang apinya. Akhirnya anak kecil itu tak lagi takut terkena percikan kembang api dan bisa bermain dengan gembira.

“Yanto…,” panggil seorang anak perempuan berkepang dua yang baru saja datang.

“Yanto punya kembang api, Mbak. Dikasih sama Kakak ini,” kata anak kecil itu dengan mata berbinar.

Anak perempuan itu memakaikan kaus pada adiknya. Kemudian dia mengatakan sesuatu pada Rama.

“Terima kasih ya,” ucapnya dengan suara bergetar menahan tangis. “Yanto sangat ingin bermain kembang api, tapi kami tak punya uang untuk membeli.”

Rama terharu mendengarnya. Dilihatnya kembang api yang dipegang di tangan kiri. Rama berpikir dan mempertimbangkannya sejenak, kemudian memutuskan akan menghadiahkannya pada Yanto.

“Ini, aku masih punya sebungkus, buat kamu saja. Tadinya aku berniat memberikan pada Dito, tapi ternyata Dito tidak menyukainya.”

Mereka menerimanya dengan suka cita. Setelah itu mereka berkenalan. Ternyata kakak Yanto bernama Lia. Rama senang bisa mengukir senyum bahagia di wajah Yanto dan kakaknya.

***

Tak terasa libur hari raya telah usai. Rama harus kembali ke rumahnya di kota. Apalagi tiga hari lagi masuk sekolah. Saat Papa dan Mama memasukkan barang-barang ke bagasi, Yanto dan kakak perempuannya mendekat.

“Rama, kami ingin memberikan kenang-kenangan ini untukmu,” panggil Lia sambil menyodorkan sebuah vas bunga hasil karyanya.

“Bagus sekali!” puji Rama saat menerima rangkaian mawar putih yang diberikan Lia.

“Aku membuatnya dari kawat kembang api yang kamu berikan tempo hari.”

“Kreatif sekali!” Rama berdecak kagum. “Ini terbuat dari tisu kan?” tanya Rama memastikan bahan baku vas bunga itu.

“Iya, bunganya dari tisu, batangnya dari kawat yang dilapisi kertas jepun warna hijau.”

Rama kembali mengangguk-angguk. “Terima kasih ya, ini hadiah termanis yang pernah aku terima. Barang bekas yang diolah lagi agar mempunyai nilai guna,” ucap Rama sebelum melambaikan tangan tanda perpisahan. (49)

Arsip Cerpen di Indonesia