Bersilaturahmi di Hari Kemenangan

Oleh Vira Fazirah (Padang Ekspres, 24 Juni 2018)

Bersilaturahmi di Hari Kemenangan ilustrasi Orta - Padang Ekspres.jpg
Bersilaturahmi di Hari Kemenangan ilustrasi Orta/Padang Ekspres

Meskipun tadi malam hujan lebat, pagi ini tampak cerah sekali. Mungkin alam juga berbahagia menyambut hari kemenangan. Dan di pagi hari yang cerah itu, Didi sudah bangun dan tengah siap-siap untuk berangkat salat Idul Fitri berjemaah di mesjid yang paling dekat dengan rumahnya.

DIDI memakai baju muslim dengan rapi. Dan tak lupa juga dengan peci di kepalanya. Sekitar pukul 7:30, ia dan ayahnya berangkat ke masjid. Ibunya menyusul beberapa menit kemudian karena ketika itu masih ada yang diurus di rumah.

Untung mereka tiba agak awal. Mereka mendapati masjid hampir penuh. Hampir saja mereka tidak bisa shalat di dalam masjid jika mereka lebih lambat datang. Dan beberapa warga yang datang terlambat dari Didi dan ayahnya, terpaksa shalat di teras masjid.

Jam 8:15, shalat Idul Fitri pun dimulai. Semua jamaah mengikutinya dengan khusyuk. Dan setelah khatib turun mimbar, semua jamaah bersalam-salaman sambil tersenyum bahagia merayakan kemenangan.

Selesai shalat, Didi dan ayahnya tidak langsung pulang kerumah. Sebagaimana kebiasaan setiap tahunnya, selesai shalat Idul Fitri, Didi akan diajak ayahnya untuk bertamu ke rumah keluarga ayahnya yang dalam Minang disebut sebagai bako Didi. Sedangkan ibunya langsung pulang ke rumah untuk memasak dan mempersiapkan segala hal untuk menyambut tamu yang datang berkunjung di hari raya.

Kawasan tempat tinggal keluarga ayah Didi ialah di Batu Talang. Hampir semua rumah yang ada di Batu Talang adalah rumah bako Didi. Didi dan ayahnya memasuki rumah demi rumah satu per satu untuk bersilaturahmi dan mengucapkan salam hari raya. Wajah-wajah keluarga yang ditemui semuanya tampak cerah dan berbinar. Ini benar-benar hari kemenangan bagi semua umat yang beriman, pikir Didi. Dan tak jarang, di setiap rumah yang disinggahi itu Didi mendapatkan uang yang dikasih oleh sanak famili ayahnya yang lazim disebut uang THR.

Tentu saja untuk anak-anak seusia Didi akan senang mendapatkan uang THR. Didi mendapatkan uang THR yang cukup banyak dari keluarga ayahnya. Keluarga ayah Didi termasuk keluarga yang berada, lain halnya dengan keluarga ibunya yang hidup sederhana.

Setelah sampai di rumah, Didi dan ayahnya disambut bau wangi masakan ibunya. Mereka pun langsung menuju ruang makan dan makan bersama. Tak lupa, Didi juga bersalaman hari raya dengan ibunya. Selesai makan, Didi juga berkeliling ke rumah-rumah tetangganya untuk sekedar bersalaman di hari raya. Itu adalah ajaran dari ayah dan ibunya. Dan Didi senang melakukannya karena ia suka bersilaturahmi.

Siangnya, Toni datang bertamu ke rumah Didi. Toni adalah sepupu Didi. Kemudian ia mengajak Didi untuk pergi bersilaturahmi ke rumah nenek dan keluarga besar ibunya. Mereka berangkat dengan berjalan kaki. Jaraknya cukup jauh, tapi bagi mereka bukan masalah karena sebagian besar warga desa ini masih berjalan kaki untuk bepergian.

Sesampainya di rumah yang mereka tuju, mereka bersalaman dengan tuan rumah, makan kue, mengobrol sebentar, kemudian pergi ke rumah berikutnya. Setelah beberapa rumah mereka masuki, Toni terlihat sangat lesu.

“Udah Lebaran kok kayak masih pausa aja Ton? Udah makan banyak pula tadi tuh,” tanya Didi.

“Hari raya sekarang kurang mengasyikkan”

“Kok gitu?”

“Nggak ada THR,” jawab Toni jujur.

Spontan Didi tertawa, kemudian ia mengatakan kepada Toni bahwa uang THR bukanlah hal utama di hari Lebaran. THR sesuai namanya hanyalah hiburan tambahan saja, yaitu sebagai penunjang. Yang paling utama dari keistimewaan Lebaran menurut Didi adalah bisa bersilaturahmi ke semua sanak keluarga.

Mendengar penjelasan Didi, Toni menjadi paham. Ia tidak sedih lagi. Karena setelah ia pikirkan lagi, memang mengasyikkan rasanya untuk berkunjung ke rumah keluarga ketika hari raya ini, apalagi keluarga yang didatangi juga sudah memoersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan para tamunya. Ada berbagai jenis kue, berbagai macam minuman, berbagai macam makanan ringan, cemilan, nasi dan lauk-pauk, dan sebagainya, yang dihidangkan ketika hari raya.

Didi pun mengeluarkan uang THR yang diterimanya tadi pagi. Ia membagi beberapa lembar kepada Toni. Didi memang suka memberi. Mereka berdua pun akhirnya melanjutkan kegiatan silaturahmi mereka ke rumah berikutnya dengan hati senang dan semangat. (***)

Arsip Cerpen di Indonesia