Oleh Elisa DS (Solopos, 17 Maret 2019)

Sudah tiga hari berturut-turut hujan deras mengguyur tanpa henti. Akibatnya, hutan terasa sunyi. Tak ada kicauan burung atau tawa riang domba-domba yang bercanda sambil menikmati rerumputan dan pucuk hijau dedaunan.
Untunglah, pagi ini matahari mulai menampakkan sinarnya. Kesunyian mulai berganti dengan keriangan para penghuni hutan dalam menyambut hari yang cerah.
Yamyam, si ayam hutan yang mungil berkokok nyaring karena hatinya senang. Ia berpamitan pada ibunya untuk berjalan-jalan menikmati hawa segar di tepi hutan.
“Hati-hati ya, jangan bermain dekat sungai. Ibu khawatir airnya meluap setelah semalam hujan deras,” kata ibu Yamyam berpesan dengan nada sedikit khawatir.
“Iya, Bu. Yamyam akan selalu mengingat pesan Ibu.”
Harapan Yamyam tak meleset. Debu tebal akibat kemarau panjang sudah menghilang bersamaan dengan datangnya hujan. Rerumputan serta dedaunan yang sebelumnya kotor dan layu, sekarang pun terlihat lebih segar.
Di tengah jalan, Yamyam bertemu dengan Beko si bebek kecil. Tiga hari tak pernah bertemu, membuat mereka terlibat dalam obrolan seru. Hingga tak terasa, sampailah kedua sahabat tersebut di sebuah sungai besar.
Mata Beko berbinar melihat air sungai yang melimpah. “Wah, benar-benar hari yang tepat untuk berenang.”
Keinginan si bebek kecil tersebut untuk bermain air sudah tidak bisa dibendung. Ia pun berancang-ancang untuk melompat ke sungai.
Byur!
Tanpa membuang waktu, Beko segera melompat ke sungai, lalu meluncur dan berenang dengan riang.
Sambil menunggu Beko bermain air, Yamyam mencari tempat yang aman di pinggiran sungai. Ia benar-benar mematuhi pesan ibunya. Dengan penuh kesabaran, ditunggunya sang sahabat karib yang sedang asyik menikmati segarnya aliran air.
Waktu terus berjalan. Beko masih larut dalam kegembiraan. Ia berenang sambil sesekali menyelam.
Menunggu adalah sesuatu yang membosankan jika tanpa diselingi kegiatan. Begitu pula dengan si ayam kecil. Yamyam mulai merasa jenuh. Ia mengedarkan pandangan. Dari kejauhan, dilihatnya sepotong kayu besar terombang-ambing, hanyut terbawa arus.
“Beko, awas! Ada kayu ke arahmu!” teriak Yamyam.
Beko menoleh ke arah hulu. Ia berusaha secepat mungkin berenang menuju tepi.
Yamyam mondar-mandir di pinggir sungai dengan tatapan cemas. Ia benar-benar khawatir akan keselamatan sahabatnya. Tanpa pikir panjang, didorongnya sebuah papan ke sebelah Beko untuk menghalangi potongan kayu besar tersebut. Sayangnya, lumpur yang licin membuat kakinya terpeleset. Yamyam pun tercebur ke sungai.
“Bekooo … to-tolooong!” teriak Yamyam.
Beko terperanjat. Ia bergegas mendekati Yamyam dan menariknya ke tepian. Tapi sayang, arus sungai terlalu kuat untuk tubuh kecil Beko yang membawa beban.
Byuur!
Terdengar bunyi benda berat yang jatuh ke air.
Beko merasakan ada sesuatu yang membelit tubuhnya dan Yamyam. Sesaat kemudian, sesuatu tersebut menarik mereka berdua ke pinggir sungai.
Gading si gajah kecil tersenyum lebar melihat kedua sahabatnya selamat dari bahaya hanyut dan tenggelam. Tanpa membuang waktu, ia menjulurkan belalai untuk menaikkan Yamyam serta Beko ke punggungnya, lalu bergegas pulang.
Ibu Yamyam cemas sekali saat melihat anaknya pulang dalam keadaan basah kuyup.
Secara bergantian, Yamyam, Beko, dan Gading menceritakan peristiwa di sungai.
“Terima kasih ya, Beko dan Gading.” Ibu Yamyam menarik napas lega. “Ibu senang sekali mendengarnya. Meskipun masih kecil, kalian bertiga memiliki sifat kepahlawanan. Semua saling membantu dan berkorban untuk menyelamatkan satu sama lain tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri.”
Yamyam, Beko, dan Gading berpandangan sambil tersenyum lebar.
Tiba-tiba terdengar suara berisik dari arah belakang. Ternyata, ayah Gading si raja hutan datang beserta dengan dua gajah besar.
“Aku bangga sekali mendengar cerita kalian. Hutan ini membutuhkan generasi-generasi terbaik seperti Yamyam, Beko, dan Gading. Jika semua penghuni bersatu dan saling bahu-membahu dalam hal kebajikan, niscaya tak ada musuh yang berani menyerang kawasan kita. Agar keberanian kalian menjadi teladan bagi semua warga hutan, sejak saat ini Yamyam, Beko, dan Gading kunobatkan sebagai Tiga Pahlawan Cilik,” kata ayah Gading.
Yamyam, Beko, dan Gading senang sekali mendengarnya.
“Tolong umumkan.” Ayah Gading menoleh ke arah kedua pengawalnya. “Sebagai hadiah atas keberanian dan kerja sama Tiga Pahlawan Cilik, besok pagi akan kuselenggarakan pesta makanmakan untuk semua warga hutan,” kata ayah Gading.
Ibu Yamyam dan Tiga Pahlawan Cilik bertepuk tangan. Mereka berterima kasih atas kemurahan hati sang pemimpin hutan.