Oleh Umi Salamah (Padang Ekspres, 21 Juli 2019)

Selesai makan siang, Adam keluar dari rumah. Angin begitu kencang. Dia mengamati langit. Di ujung sana, banyak layang-layang. Adam yakin layang-layang itu diterbangkan dari lapangan yang ada di ujung desa. Sekarang sudah musim layanglayang. Adam juga ingin bermain layang-layang.
ADAM pergi ke gudang rumah. Dia mencari layang-layangnya yang disimpan di sana. Dia menemukannya di atas sofa bekas. Layang-layangannya masih bagus. Gulungan benang gelas juga masih ada. Dia mengambil layang-layang dan benangnya. Matanya berbinar senang. Sudah lama tidak main layang-layang.
“Bunda, aku pergi ke lapangan. Mau main layang-layang,” pamit Adam.
“Hati-hati, Adam.”
Adam mengangguk. Dia naik sepeda menuju lapangan di ujung desa. Dalam perjalanan dia bertemu dengan Erwin, teman sekelasnya. Adam melihat di punggung Erwin membawa layang-layang. Adam menatap tidak suka. Erwin memang teman sekelasnya. Tapi tidak begitu dekat. Adam juga tidak menyukai Erwin. Mereka selama ini bersaing dalam menerbangkan layang-layang.
Erwin tersenyum pada Adam. Sedangkan Adam terpaksa membalas senyum Erwin. Dia mengayuh lebih cepat. Dia tidak mau keduluan Erwin. Dia ingin mendapatkan posisi menerbangkan layang-layang yang bagus. Tiba di lapangan, puluhan anak dan orang dewasa bermain layang-layang.
Adam mencari posisi yang tidak begitu ramai. Dia memilih posisi di pinggir lapangan. Dekat dengan jalan raya. Adam bersiap menerbangkan layanglayang. Angin yang kencang mempermudah layang-layang naik. Adam berseru gembira. Layang-layangnya sudah terbang. Adam terus menaikkan layang-layangnya.
Tiba-tiba ada layang-layang mendekati layang-layang Adam. Dia mengernyit heran. Lantas menoleh ke samping. Ternyata layang-layang itu milik Erwin. Dia bermain di dekatnya. Hati Adam waswas. Dia ingat tahun kemarin, layang-layangnya putus akibat Erwin. Layang-layang yang dibelikan pamannya dari kota, putus setelah beradu dengan layang-layang Erwin.
“Aku akan membalas perbuatan Erwin,” gumam Adam.