Adi dan Bapak Kupu-Kupu

Oleh Heru Prasetyo (Solopos, 28 Juli 2019)

Adi dan Bapak Kupu-Kupu ilustrasi Solo Posw.jpg
Adi dan Bapak Kupu-Kupu ilustrasi Hengki Irawan/Solo Pos

Adi seorang murid pindahan di sekolahnya. Ketika pulang sekolah, Adi melihat sebuah taman penuh kupu-kupu. Kupukupu itu berwarna-warni. Membuatnya betah berlama-lama di sana.

“Alangkah senangnya jika salah seekor kupu-kupu yang indah dan cantik itu bisa aku tangkap terus kubawa pulang ke rumah,” Adi bergumam pelan.

Lalu mendekat dan berusaha menangkapnya tapi tak berhasil. Kupukupunya segera terbang menjauh. Adi jadi kesal melihatnya.

“Jangan ditangkap, Nak. Biarkan kupukupu itu terbang bebas,” kata pemilik Taman Kupu-kupu, yang tiba-tiba datang mendekati Adi.

“Tapi Pak, saya ingin tangkap satu buat dibawa pulang,” rengek Adi.

Pemilik Taman Kupu-kupu menggeleng tegas. Adi tampak sedih.

“Namamu siapa, Nak?” tanya pemilik Taman Kupu-kupu.

“Adi, Pak,” jawab Adi. Pemilik Taman Kupu-kupu mengangguk-angguk.

“Kalau nama Bapak siapa?” tanya Adi balik.

“Orang-orang di sini biasa panggil Bapak Kupu-kupu,” jawab pemilik Taman Kupu-kupu.

“Bapak Kupu-kupu?” Adi heran mendengarnya. Pemilik Taman Kupu-kupu itu tersenyum melihat Adi keheranan.

“Ikuti Bapak.” Ia mengajak Adi memasuki Taman Kupu-kupu miliknya. Adi yang masih belum mengerti hanya menurut. Lalu berjalan di belakangnya.

Begitu memasuki Taman Kupu-kupu lebih ke dalam, semakin banyak kupukupu yang menempel di tubuh orang itu. Kini di sekujur tubuhnya terkecuali bagian wajah, dipenuhi kupu-kupu. Adi takjub melihatnya.

“Saya juga ingin dikelilingi banyak kupu-kupu indah dan cantik ini,” pinta Adi.

“Jika ingin disukai hewan, jangan menyakitinya. Jika ingin dekat dengan hewan, rawatlah baik-baik. Sama seperti kupu-kupu milikku ini. Aku biarkan ia terbang bebas di alam. Dan aku tak pernah menyakitinya,” nasihat Bapak Kupu-kupu.

Adi tertegun mendengarnya. Ia teringat masih sering menangkapi kupu-kupu yang beterbangan di halaman rumahnya, hanya buat main-main.

“Bagaimana, Nak Adi? Apa masih ingin dikelilingi kupu-kupu?” tanya Bapak Kupu-kupu. Adi langsung menggeleng. Lalu bergegas pamit. Bapak Kupu-kupu lantas mengantarkan Adi keluar dari Taman Kupu-kupu miliknya.

Ketika perjalanan pulang ke rumah, Adi teringat masih sering berbuat semenamena pada hewan-hewan yang ditemuinya di rumah. Seperti kupu-kupu, semut hingga kucing peliharaannya. Mereka kerap disakitinya tanpa sebab.

Kini ia menyesalinya. Ia kembali teringat nasihat Bapak Kupu-kupu,  “Jika ingin disukai hewan, jangan menyakitinya. Jika ingin dekat dengan hewan, rawatlah baik-baik.”

“Mulai sekarang aku tak akan menyakiti hewan lagi,” tekad Adi dalam hati.

 

Yogyakarta, 18 Juli 2019

Arsip Cerpen di Indonesia