Yang Berlayar dan Tak Kembali

Cerpen Yulianti Sikumbang (Singgalang, 05 Desember 2021)

INAYAH menatap langit mendung. Dia duduk menyender pada pintu rumah panggung itu, sambil memeluk lutut. Semilir angin berhembus membawa gerimis, membasuh mukanya yang kuyu. Dia enggan beranjak memasuki bagian dalam rumah.

Saat ini dia ingin tempias hujan membasuh luka dan mendinginkan amarahnya yang sedang membara. Dia sedih, kecewa, marah, merasa dikhianati, tapi tak tahu kepada siapa akan ditumpahkan segala kecamuk yang kini mendera jiwa dan pikirannya.

Rumah ini sepi, tanpa perabot, tanpa pencahayaan, tanpa tawa, bahkan tanpa tangisan. Hanya ruang kosong yang benar-benar kosong. Seperti keadaan hatinya yang berkali-kali ditinggalkan oleh orang-orang yang seharusnya menetap.

Genta angin berbentuk kapal yang digantung di jendela bergemerincing. Suaranya bening dan menyejukkan. Inayah menangis dalam diam, dibiarkannya air matanya mengalir tanpa perlu ditahan.

Dia teringat dengan Bàba yang tak pernah kembali dari pelayaran sejak 17 tahun yang lalu. Dia takut kehilangan kenangan akan Bàba karena kini kenangan-kenangan yang tak begitu banyak itu, mulai memudar seiring pertambahan usianya.

Samar-samar kenangan saat Bàba menggantung genta angin itu hadir lagi di depan mata Inayah. Saat itu Bàba sedang tersenyum dengan senyuman yang paling indah. Mata sipit Bàba sepenuhnya menghilang, yang tertinggal hanya garis-garis kerutannya saja.

“Genta ini Bàba gantung di sini yah? Supaya kita sekeluarga selalu dilimpahi keberuntungan,” kata Bàba kala itu.

Dan dengan ajaib genta itu bergemerincing setelah Bàba mengakhiri kalimatnya. Seolah ikut mengaminkan doa Bàba.

Namun, itulah kali terakhir Bàba berada di rumah. Pelayaran setelah Bàba menggantungkan genta itu juga adalah pelayaran terakhir Bàba. Bàba cinta dengan laut dan pelayaran. Mungkin karena itu Bàba memilih untuk menetap di sana selamanya, tanpa perlu dijemput tanpa perlu dicari.

Ingatan akan Bàba dilarikan angin yang bertiup kencang. Gawai Inayah berbunyi dengan nyaring. Suaranya merambati ruangan kecil itu, seolah seseorang di seberang sana sedang mencari dan terburu-buru ingin mengobrol dengannya. Ternyata itu adalah Mama. “Nak, Kamu sudah di sana? Mama suruh si Adik menjemput ya?”

Berat bagi Inayah untuk bersuara. Tangisan yang menumpuk di tenggorokannya membuat pedih. Dia takut tak bisa menahan raungan dan amarahnya. Inayah menarik napas dengan sangat dalam, pada hitungan ke tiga dia mengembuskannya pelan.

“Tidak perlu dijemput, Mama. Inayah di sini saja. Inayah teringat akan Bàba…,” suaranya tercekat. Detik itu Inayah menyadari bahwa lebih baik diam dan semoga Mama paham.

“Baiklah, Nak. Hati-hati di sana. Kalau ada apa-apa, Kamu hubungi Mama. Oke?”

“Hmm….”

Tepat setelah sambungan telepon terputus, Inayah meraung dengan keras. Hatinya hancur berkeping-keping. Bahunya luruh, tak sanggup lagi berpura-pura tegar. Ingin rasanya Inayah merusak segala yang ada di sekelilingnya. Menyalurkan emosi yang bercampur-baur. Tapi yang ada di ruangan itu hanya sebuah koper merah hati yang pasrah. Akhirnya Inayah hanya memukul-mukul lantai yang terbuat dari kayu itu. Tapi tidak cukup. Dadanya masih sesak seolah telah digencet oleh batu besar.

Dia memukul-mukul dadanya sambil terisak, badan dan jiwanya terguncang. Pikirannya kalut. Inayah seperti kesetanan dan tergugu melemparkan kopernya dan semua pakaian yang ada di dalam sana berhamburan.

Inayah ingat betul, empat tahun yang lalu Mama begitu sedih melepasnya pergi merantau untuk melanjutkan kuliah. Pelukan panjang dan hangat di depan rumah panggung itu masih dapat dirasakannya hingga kini. Pelukan yang dalam tanpa kata-kata. Jiwa mereka juga berpelukan.

Sejak Bàba menghilang bersama ABK lain di perairan Selat Lombok, Mama berganti peran dari ibu rumah tangga menjadi tulang punggung keluarga. Mama telah bangun jauh sebelum Subuh, menanak beras, merebus air, dan menggoreng aneka gorengan. Inayah kecil juga ikut membantu menghitung dan menyajikan gorengan untuk diantar Mama ke warung-warung sekitar rumah. Setelah mengantar gorengan, Mama akan pergi ke tempat pembuatan batu bata. Seharian mama di sana mencetak tanah lempung.

Inayah ingin membantu Mama juga waktu itu, tapi tidak diizinkan karena Inayah harus sekolah. Mama tak ingin anaknya menjadi bodoh hanya karena saat itu mereka sedang kesulitan ekonomi.

Akhirnya, dengan keyakinan Mama dan ketekunan Inayah, dia dapat melanjutkan pendidikannya hingga ke jenjang perkuliahan dengan bantuan beasiswa. Sebenarnya Mama enggan melepaskan Inayah untuk pergi merantau tapi Mama harus menguatkan hati demi pendidikan Inayah.

Pagi itu, Inayah berangkat ke terminal dengan diantarkan adik laki-lakinya. Koper merah muda itu Mama yang bantu mengangkatkan ke motor.

“Hati-hati di tempat jauh, Nak. Kalau ada apa-apa hubungi, Mama. Kalau uang beasiswa kurang, jangan segan memberitahu Mama. Sholat lima waktu, itu yang paling penting.”

Namun, apa yang saat ini terjadi sangat berbanding terbalik. Dulu Mama sangat takut melepas Inayah seorang diri tapi sekarang malah meninggalkannya. Tangis Inayah pecah lagi. Ingin rasanya dia membakar dirinya dan rumah itu. Agar lenyap dia bersama kenangan akan Bàba.

Di luar terdengar derap langkah setengah berlari. Dang, bibi Inayah masuk ke rumah. Dia terkejut menyaksikan Inayah tengah membakar pakaiannya. “Astaghfirullah!” pekiknya sebelum berlari ke kamar mandi, membawa seember air dan menyiram api yang mulai membakar beberapa kain.

Dang menangis memeluk Inayah. “Ada apa ini Inayah? Jangan seperti ini, istighfarlah,” katanya sambil mengelus punggung Inayah dengan lembut.

Inayah memaksakan dirinya untuk berhenti terisak. Digigitnya bibirnya agar isakan dan tangisnya reda, tapi air matanya terus mengalir.

“Inayah tidak apa-apa, Dang,” katanya dengan isakan tertahan.

Dang sudah seperti ibu bagi Inayah. Rumah Dang selalu terbuka bagi Inayah, begitupun hatinya. Waktu kanak-kanak Inayah sering menghabiskan waktu di rumah Dang untuk menjaga adiknya sambil menonton TV. Bahkan Inayah dan adiknya sering tertidur di rumah Dang. Mereka dibangunkan ketika Mama sudah pulang dari pabrik membawa makan malam.

“Dang, Inayah rindu Bàba, rindu Mama dan Adik.” Mata Inayah basah. Dia memelas pada Dang, walau dia tahu Dang tak dapat berbuat apa-apa, sama seperti dirinya. Mereka tak berdaya di hadapan takdir.

“Inayah, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Sudah menjadi suratan.”

“Tapi kenapa tidak ada yang bilang padaku kalau Mama sudah menikah lagi?”

Inayah kembali terisak. Air matanya merembes seperti air bah. Masih banyak yang ingin Inayah sampaikan. Tapi tak ada yang keluar dari mulutnya selain raungan parau yang putus-putus.

“Maaf Inayah. Dang tidak bisa melarang Mamamu dan juga memberitahumu karena itu semua keputusan Mamamu. Untuk saat ini, cuma pengertian Inayah yang dapat memperbaiki keadaan.”

“Aku harus mengerti soal apa, Dang? Apakah aku harus mengerti bahwa pendapatku tidak dibutuhkan di rumah ini? Saat aku memutuskan untuk kembali ke sini. Yang memberitahuku hanya tatapan mata iba dari tetangga. Dan bisikan-bisikan halus mereka yang masih bisa kudengar.”

“Dang paham. Memang sulit bagimu untuk menerima ini. Dang tidak meminta Inayah untuk langsung menerima semuanya saat ini juga. Terimalah sedikit-sedikit sampai Kamu terbiasa, ya? Sekarang ayo ke rumah Dang,” suara Dang seperti membujuk anaknya sendiri.

“Aku disuruh untuk menerima orang asing. Sekalipun aku belum pernah bertemu dia sebelumnya. Dan aku harus menerima dia sebagai suami Mama, Dang? Menerima dia untuk menggantikan Bàba?”

Inayah merasakan dadanya begitu sakit, pedih.

“Aku anak tertua, Dang. Aku berhak diberitahu, aku berhak berpendapat. Tapi mengapa kepergianku merantau menjadikan aku akhirnya asing di rumahku sendiri, Dang?”

Inayah mengambil tas kecilnya. Pergi ke kamar dan meninggalkan Dang yang termenung sendirian. Tak lama kemudian Inayah kembali keluar. Dia telah mengganti pakaiannya. Dengan bergegas dia merapikan pakaian dan memasukkan lagi ke dalam koper.

“Kamu mau ke mana?” Dang panik dan Inayah tak menjawab tanyanya.

“Inayah…. Apa Dang orang lain?” tanyanya sambil berlinang air mata.

Inayah tak tega melihat Dang menangis. Setelah pakaiannya dimasukkan ke dalam koper, Inayah memeluk Dang. Pelukan yang lama, seperti ketika Mama melepas kepergiannya empat tahun yang lalu.

“Inayah mau kembali ke Padang, Dang. Inayah tak akan pulang sebelum rasa sesak di dada ini hilang.”

Hujan lebat melepaskan kepergian Inayah. Dang terkulai di pintu rumah panggung dan berdoa agar sejauh apapun Inayah berlayar, dia akan tetap pulang ke rumah ini. ***

.

Yang Berlayar dan Tak Kembali. Yang Berlayar dan Tak Kembali. Yang Berlayar dan Tak Kembali.

Arsip Cerpen di Indonesia