Kebenaran di Balik Bintang

Cerpen Khazanah Fadhilah Nurrahmah (Republika, 05 Desember 2021)

“KATANYA ada bintang yang menandakan wabah Covid-19 ini akan berakhir, benarkah?”

“Iya tuh. Alhamdulillah ya sebentar lagi! Kata ustaz yang ceramah soal itu antara Mei-Juni bintangnya terbit.”

“Ah, aku belum percaya kalau gak ada bukti ilmiahnya. Makanya aku tanya opini Risya dulu nih. Benar gak, Risy?”

Sesaat, jari-jemari gadis bernama Risya membeku di depan layar smartphone-nya. Mahasiswi Jurusan Astronomi itu mengerutkan dahi, lalu kembali mengetik.

“Sebentar, info dari mana itu? Kok aku baru dengar?” jawabnya di ruang chat kepada dua sahabat sekampusnya, Aza dan Dhafira. Aza gemas dengan kurang pemutakhiran informasi sahabatnya itu dan mengirim animasi mencubit diikuti balasannya.

Gemes deh, mentang-mentang beres UAS jadi nempel sama komik mulu kamu, Risy. Wkwk,” kata Aza yang sangat mengenal tabiat Risya yang suka komik genre scifi.

Dhafira mengiyakan. “Iya nih, viral kok broadcast-nya di grup-grup WA keluarga. Jangan kudet sama info keluarga atuh, Risya. Nanti siapa yang jaga mereka dari termakan hoaks?”

Risya bergumam panjang. Sejenak ia membuka aplikasi WA (Whatsapp) dengan notifikasi hingga ratusan chat menumpuk, langsung mencari grup keluarganya. Benar saja, broadcast tentang ‘Bintang Tsurayya, Penanda Berhentinya Wabah Korona’ mengendap di sana. Lalu, ia pun segera kembali ke ruang chat di aplikasi sebelumnya.

“Tadi aku baru lihat sebentar, memang ada juga broadcast bermasalah itu di grup keluargaku,” tulisnya langsung secepat kilat menekan tombol kirim.

“Wah, calon astronom ini saja langsung menyebut kabar ini ‘bermasalah’ loh. Makanya jangan gampang percaya begitu saja, Za. Belum tentu ustaz yang menafsirkan berita itu ahli di ilmu falak atau bahkan astronomi,” tembak Dhafira kritis.

“Eh, tapi kan kita sebagai Muslim harus memercayai pedoman kitab Alquran dan hadis walaupun di luar nalar. Banyak hadis yang baru bisa dibuktikan benar di zaman ini kan? Selain itu apa salahnya kita jadi optimistis bahwa wabah Covid-19 ini segera berakhir? Toh, bukan syirik kepada bintang kan karena sudah ada hadisnya,” bela Aza, mahasiswi Jurusan Farmasi, tidak terima.

Hmm iya juga ya, tapi bagaimana menurut kamu Risya, yang memang berkecimpung di bidang perbintangan?” tanya Dhafira yang merupakan mahasiswi Jurusan Teknik Elektro.

Risya, mahasiswi yang bermimpi menjadi astronaut itu mengatupkan rahang, membisu. Isu perpaduan sains dan agama ini cukup berat untuk bisa dipahami olehnya sendiri.

Ternyata aku tidak bisa diam saja terhadap isu ini. Semua berharap wabah Covid-19 segera sirna, tapi bukan berarti hanya dengan pasif menunggu munculnya fenomena astronomi biasa. Ini tugasku sebagai mahasiswa Muslim astronomi untuk meluruskannya, batinnya.

***

Bintang paling terang di rasi Pisces: Alpha Piscium A atau Alrescha (Arab: Al Risyaa’) bermakna tali timba sumur. Bagaikan menimba ilmu dari kegelapan sumur dalam sampai ke cahaya terang-benderang, Risya pun berusaha ‘membawa keluar’ kebenaran dari terbitnya bintang Tsurayya dengan fakta ilmiah. Juni baru saja bermula, menyeramkan sekali jika orang-orang tenang berkeliaran di luar lalu positif terinfeksi karena tafsir hadis itu salah.

Kini, sudah berkali-kali Risya menonton video ustaz yang mengeklaim terbitnya bintang Tsurayya (nama Arab dari gugus Pleiades) menandakan terangkatnya wabah penyakit dari muka Bumi. Pernyataan ulama tersebut sangat meyakinkan dengan dalil dari ulama-ulama besar terdahulu. Maka, Risya pun melengkapi wawasannya dengan membaca beragam artikel tafsir hadis terkait isu tersebut dari berbagai ulama kontemporer pula.

Dengan mengombinasikan perhitungan terbitnya bintang tersebut secara astronomis dan tafsir hadis yang sesungguhnya, akhirnya ia menemukan sebuah titik terang. Wabah yang dimaksud hadis tersebut adalah wabah hama pada tanaman kurma. Karena secara astronomis, bintang Tsurayya atau gugus Pleiades terbit di tanah Makkah—ketika Rasulullah menyabdakan hadis tersebut di masanya—pada bulan Juni. Bintang penanda masuknya musim panen buah kurma setelah usai masa mewabahnya hama tanaman tersebut.

Risya memperhitungkan posisi lintang dan bujur Pleiades dengan software observasi astronomi, terbukti bintang tersebut memang terbit bersamaan dengan Matahari. Jadi, dari fakta sejarah dan pengamatan astronomi, dapat disimpulkan bahwa terbitnya bintang ini merupakan fenomena tahunan sejak 14 abad silam. Bukan penampakan yang eventual di masa pandemi ini. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun mengiyakan bahwa hadis tersebut merujuk ke wabah pada tanaman bukan pada manusia. Sungguh berbahaya jika umat Islam sampai memercayai tafsiran yang salah atau ‘kebohongan’ akan hadis Nabi.

Namun, setelah mengetahui kebenaran tersebut, ia justru merasa gelisah. Kepada keluarga dan dua sahabatnya, ia bisa dengan mudah ia sampaikan kesimpulan dari studi literaturnya.

Tapi, bagaimana dengan masyarakat Muslim awam di luar sana? Batinnya sedih.

Ping! Sebuah notifikasi chat masuk dari teman sejurusan Risya, Lia.

“Hai, Risya. Aku mau tanya, pasti kamu sudah dengar isu Pleiades dianggap penanda usainya pandemi Covid-19 kan?”

Gadis yang bernama lengkap Cornelia itu langsung ke inti pembicaraan. Risya tersentak, lalu menjawab ‘iya’ dan bertanya kenapa. Lia menjawab:

.

Though wise men at their end know dark is right

because their words had forked no lightning they

do not go gentle into that good night

(Meskipun orang bijak pada akhirnya tahu bahwa gelap itu benar

karena kata-kata mereka tidak memunculkan kilat mereka

jangan bersikap lembut pada malam yang baik itu)

.

Sebuah memori melintas di pikiran Risya, ini adalah sebait puisi legendaris yang muncul di film sains-fiksi Interstellar. Maknanya begitu dalam. Pesan agar para astronaut di film tersebut tidak menyerah untuk berusaha, tidak takluk terhadap gelap ‘malam’ ruang antarbintang. Walau memang kegelapan itu mutlak menyelimuti.

Lia mengirim chat lagi. “Kamu pasti bisa memahami makna puisi keren ini kan?”

“Paham, Lia. Puisi ini tepat menusuk ulu hatiku saat menontonnya,”

“Haha. Kini saatnya kamu mengimplementasikannya dalam real life, bukan hanya di hati.” Risya mengurungkan niatnya mengirimkan emoticon kedua, menunggu Lia menyelesaikan perkataannya.

“Isu selesainya wabah Covid-19 karena bintang itu benar-benar membuatku risih. Sudah pasti penafsiran oleh ulama itu, maaf, masih dangkal menurutku,” tutur Lia mulai menceritakan hubungan puisi tersebut dan kasus bintang Tsurayya. Risya tertegun.

“Secara logika pun tak masuk akal tiba-tiba virus itu hilang dari para manusia yang jadi inangnya. Kecuali, terkena radiasi sinar kosmik, itu mungkin saja dengan catatan sang manusia bermutasi atau mati. Benar nggak, Risy?” tanya Lia sedikit bergurau.

Risya mengirimkan stiker animasi astronaut mengangguk-anggukan kepala.

Bayangin, Risya. Teman seasrama dan adik kelasku sampai berani berkeliaran tanpa protokol kesehatan dengan berdasar kepada apa yang kalian sebut hadis itu. Sungguh memprihatinkan bukan? Mana mau aku tertular karena keluguan mereka,” protes Lia gusar. Risya lagi-lagi kembali terenyak mendengar pernyataan teman yang berbeda agama dengannya itu.

So, aku ingin minta tolong. Sebagai ‘anak astro’ dan Muslim, bisakah kamu meluruskan masalah ini? Sebelum lebih banyak lagi masyarakat Indonesia yang termakan harapan palsu dan terinfeksi,” pinta Lia sungguh-sungguh.

Kedua bola mata Risya terbelalak lebar membaca chat terakhir dari Lia, lalu menjadi berkaca-kaca. Jari-jemarinya menggenggam erat smartphone, ia pun memutuskan tak ragu lagi untuk menyebarluaskan kebenaran akan isu bintang Tsurayya yang diketahui, tetapi Risya merasa tidak akan sanggup jika hanya seorang diri.

***

Keesokan paginya, Dhafira dan Aza menelepon Risya via grup dengan heboh, “Risya! Kita harus sebar luaskan hasil studi literaturmu terkait bintang Tsurayya itu!”

“Ya! Aku kenal teman yang bisa menyulap kontenmu menjadi infografis menarik dari Jurusan DKV!” sambung Aza berapi-api. Risya yang kaget, hanya merespons dengan tertawa bahagia. Bersyukur memiliki sahabat seperti mereka.

Ketidakmampuannya langsung mendapat pertolongan Allah dari arah yang tak disangka-sangka. Siang itu juga, infografis penjelasan isu bintang Tsurayya telah rampung di tangan Risya. Ketika baru akan menyebarkannya ke media sosial (medsos), tiba-tiba ia dihubungi seorang teman dari himpunan mahasiswa jurusannya.

“Risy, Lia bilang kamu sudah mengkaji soal isu Tsurayya itu ya? Boleh kirimkan padaku infografis finalnya? Aku akan minta admin medsos himpunan kita untuk menge-post-nya malam ini juga atas nama kamu mewakili himpunan,” ujar temannya itu yang ternyata merupakan kepala divisi media, mendukung penuh.

Masyaallaah, Alhamdulillah. Nikmat-Mu yang mana lagi yang hamba dustakan. Terima kasih, terima kasih atas pertolongan yang Engkau berikan ini, pekik Risya dalam hati dengan penuh syukur setelah membaca chat tersebut. Rasa haru dan bahagia bersatu memenuhi dadanya hingga menitikkan air mata.

Maka, malam harinya, post kajian studi literatur Risya berdasarkan berbagai referensi valid dan tepercaya dibagikan ke grup mahasiswa astronomi. Grup pun mendadak ramai, menyelamati Risya yang sudah berusaha mengkaji. Kemudian, banyak yang segera membagikannya ke grup lain dan terutama keluarga masing-masing.

Post itu pun menjadi broadcast berantai di WA. Viral. Orang-orang awam pun tersadar dan percaya dengan kebenaran dalam hadis tersebut, apalagi didukung dengan latar belakang Risya sebagai calon astronom profesional dari himpunan mahasiswa Jurusan Astronomi. Ia pun berhasil mencerahkan pemikiran segenap Muslim Indonesia dari salah tafsir yang berbahaya.

Risya bersyukur, bersama teman-teman jurusannya, ia bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat dengan keilmuan yang mereka geluti. Khususnya kepada umat Islam Indonesia untuk memahami kaitan fenomena astronomis dan pandemi virus korona ini.

Namun, sebenarnya, hukum ini berlaku global. Dengan ilmu sains sebagai fakta di lapangan, dilengkapi oleh tafsir yang murni dari ilmu agama, menghasilkan perpaduan tiada dua yang akan menyatukan Muslim seluruh dunia. ***

 .

.

Khazanah Fadhilah Nurrahmah yang lahir di Bandung, 29 Maret 1999, merupakan mahasiswi Program Studi Astronomi ITB.

.

Kebenaran di Balik Bintang. Kebenaran di Balik Bintang. Kebenaran di Balik Bintang. Kebenaran di Balik Bintang.

Arsip Cerpen di Indonesia